Tren Kilang Minyak Global 2025, Fakta di Era Transisi Energi

Industri kilang minyak global masih tumbuh di era transisi energi. Kapasitas meningkat, bergeser ke Asia dan Timur Tengah, Indonesia hadapi tantangan besar.

KabarPialang – Transisi energi global kerap dipersepsikan sebagai awal dari berakhirnya industri energi fosil, termasuk kilang minyak. Kampanye pengurangan emisi karbon, target net zero emission, serta kebijakan pembatasan pendanaan untuk sektor fosil memperkuat pandangan bahwa masa depan kilang minyak tidak lagi relevan. Sejumlah lembaga keuangan bahkan telah menyatakan komitmen untuk menghentikan pembiayaan proyek energi fosil.

Di Indonesia, sinyal tersebut juga terlihat dari sikap sebagian perbankan nasional yang mulai membatasi dukungan terhadap industri energi fosil. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran bahwa seluruh rantai bisnis minyak, dari hulu hingga hilir, akan mengalami penyusutan signifikan dalam waktu relatif singkat.

Namun, jika ditelaah lebih dalam berdasarkan data dan tren aktual, industri kilang minyak global menunjukkan dinamika yang tidak sepenuhnya sejalan dengan narasi tersebut.

Kapasitas Kilang Global Justru Meningkat

Data perkembangan industri kilang minyak global menunjukkan kapasitas terpasang justru meningkat di tengah masifnya kampanye transisi energi. Pada 2014, kapasitas kilang minyak global tercatat sekitar 97,92 juta barel per hari. Sepuluh tahun kemudian, pada 2024, kapasitas tersebut meningkat menjadi 104,52 juta barel per hari.

Output Ikut Menguat

Tidak hanya kapasitas, output kilang minyak global juga mengalami peningkatan. Produksi kilang global naik dari 77,61 juta barel per hari pada 2014 menjadi sekitar 82,97 juta barel per hari pada 2024. Kenaikan ini mencerminkan bahwa permintaan produk hasil kilang masih kuat, terutama untuk sektor transportasi dan industri petrokimia.

Selama periode 2014–2024, kapasitas kilang minyak global tumbuh rata-rata sekitar 0,70% per tahun. Angka ini menunjukkan pertumbuhan moderat namun konsisten, menandakan industri kilang masih beradaptasi dengan kebutuhan pasar global.

Pergeseran Pusat Kapasitas Kilang Dunia

Selain pertumbuhan kapasitas, terjadi pergeseran signifikan dalam distribusi geografis kilang minyak global. Pada periode 1960-an hingga 1990-an, sekitar 70% hingga 83% kapasitas kilang dunia terkonsentrasi di Amerika, Eropa, dan wilayah CIS.

Dominasi Asia dan Timur Tengah

Pada 2024, peta tersebut berubah drastis. Sekitar 51% kapasitas kilang minyak global kini berada di Asia Pasifik, Timur Tengah, dan Afrika. Sisanya, sekitar 49%, berada di Amerika, Eropa, dan CIS. Pergeseran ini mencerminkan perubahan pusat pertumbuhan ekonomi dan konsumsi energi global ke kawasan Asia dan negara berkembang.

Wilayah Asia Pasifik dan Timur Tengah mencatat pertumbuhan kapasitas tertinggi, masing-masing rata-rata 1,04% dan 2,70% per tahun selama 2014–2024. Sementara itu, Amerika Utara, CIS, dan Afrika juga masih mengalami peningkatan kapasitas, meskipun lebih terbatas.

Penurunan Kapasitas di Eropa dan Amerika Latin

Di sisi lain, beberapa wilayah justru mengalami penurunan kapasitas kilang. Amerika Selatan, Amerika Tengah, dan Eropa mencatat tren penurunan selama satu dekade terakhir.

Dampak Kebijakan Lingkungan

Kapasitas kilang di Eropa turun dari sekitar 15,84 juta barel per hari pada 2014 menjadi 15,01 juta barel per hari pada 2024, atau rata-rata turun 0,53% per tahun. Penurunan ini erat kaitannya dengan kebijakan lingkungan yang ketat, biaya produksi tinggi, serta pergeseran konsumsi energi.

Peran Strategis Kilang Minyak Nasional

Di Indonesia, industri kilang minyak tetap memegang peranan strategis dalam ketahanan energi dan perekonomian nasional. Pada 2024, porsi BBM dalam bauran energi sektor transportasi tercatat mencapai 99,89%, menegaskan ketergantungan yang sangat tinggi terhadap produk kilang.

Polemik kebijakan impor BBM dan distribusi di SPBU swasta dalam beberapa waktu terakhir semakin menegaskan pentingnya keberadaan kilang domestik yang kuat dan andal.

Tantangan Berat Industri Kilang Indonesia

Meski strategis, industri kilang minyak nasional menghadapi tantangan struktural. Pasar BBM domestik didominasi skema regulated market, di mana sebagian besar volume merupakan BBM subsidi dan kompensasi. Kondisi ini membatasi potensi margin usaha yang wajar bagi operator kilang.

Kebutuhan Investasi Sangat Besar

Pembangunan kilang minyak membutuhkan investasi yang sangat besar. Kilang dengan kapasitas 100 ribu barel per hari memerlukan dana sekitar 7,5–8 miliar dolar AS. Dengan konsumsi BBM nasional sekitar 1,6 juta barel per hari, Indonesia idealnya memiliki kapasitas kilang mendekati 2 juta barel per hari.

Dengan kapasitas eksisting sekitar 1,15 juta barel per hari, Indonesia masih membutuhkan tambahan kapasitas sekitar 852 ribu barel per hari, yang setara investasi lebih dari seribu triliun rupiah.

Urgensi Peremajaan Kilang Nasional

Mencermati tren global dan kebutuhan domestik, peremajaan kilang minyak nasional melalui proyek GRR dan RDMP menjadi sangat mendesak. Peremajaan tidak hanya bertujuan menambah kapasitas, tetapi juga meningkatkan kualitas produk, efisiensi biaya, fleksibilitas operasi, serta standar HSSE yang lebih baik.

Dengan besarnya kebutuhan investasi dan keterbatasan margin, keberhasilan peremajaan kilang nasional sangat bergantung pada political will serta dukungan kebijakan fiskal dan nonfiskal yang konsisten. Terobosan kebijakan menjadi kunci agar industri kilang minyak nasional tetap relevan dan berdaya saing di era transisi energi.

Related Posts

Harga Minyak Dunia Turun 0,26% di Asia, WTI Terseret ke USD60

Harga minyak dunia melemah di sesi Asia. WTI turun 0,26% ke USD60,99 per barel, Brent ikut terkoreksi. Simak level support, resistance, dan prospek harga minyak terbaru. KabarPialang – Harga futures minyak…

Emas Turun 0,26% di Sesi AS

Harga futures emas melemah 0,26% di sesi perdagangan AS seiring penguatan dolar AS. Simak level support, resistance, serta pergerakan perak dan tembaga terbaru. KabarPialang – Harga futures emas mencatat pelemahan moderat…

One thought on “Tren Kilang Minyak Global 2025, Fakta di Era Transisi Energi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You Missed

Bisnis-27 Naik 0,44% ke 567,89

  • By Team
  • January 15, 2026
  • 2 views
Bisnis-27 Naik 0,44% ke 567,89

IHSG Naik 0,35% ke 9.064

  • By Team
  • January 15, 2026
  • 4 views
IHSG Naik 0,35% ke 9.064

Harga Minyak Dunia Turun 0,26% di Asia, WTI Terseret ke USD60

  • By Team
  • January 14, 2026
  • 3 views
Harga Minyak Dunia Turun 0,26% di Asia, WTI Terseret ke USD60

Emas Turun 0,26% di Sesi AS

  • By Team
  • January 14, 2026
  • 4 views
Emas Turun 0,26% di Sesi AS

IHSG Menguat 0,69% ke 8.946

  • By Team
  • January 13, 2026
  • 7 views
IHSG Menguat 0,69% ke 8.946

Saham RMKE Menuju 10.000, Ini Profil & Pemiliknya

  • By Team
  • January 13, 2026
  • 7 views
Saham RMKE Menuju 10.000, Ini Profil & Pemiliknya