Harga emas tembus rekor di atas Rp2,14 juta per gram pada Oktober 2025. BPS melaporkan lonjakan harga global hingga US$4.000/troy ounce, memicu inflasi perhiasan tertinggi selama dua tahun berturut-turut.
KabarPialang – Harga emas tembus rekor tertinggi pada Oktober 2025, menembus level US$4.000 per troy ounce atau sekitar Rp2,14 juta per gram. Kenaikan drastis ini menjadi perbincangan dunia keuangan, karena memecahkan rekor harga tertinggi sepanjang masa dan memberikan dampak besar terhadap inflasi perhiasan di dalam negeri.
Menurut data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS), tren kenaikan harga emas dunia terus berlanjut sejak pertengahan 2024. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, menyebut bahwa penguatan harga emas global mencerminkan kondisi pasar yang semakin tidak pasti, mendorong investor global mencari aset aman (safe haven).
“Terkait harga emas di pasar internasional, tren kenaikan harga emas dunia terus berlanjut, bahkan mencatat rekor baru di Oktober 2025 ini,” ujar Pudji dalam konferensi pers resmi di Jakarta, Senin (3/11/2025).
Kenaikan Harga Emas Global Capai Rekor Baru
Harga emas tembus rekor di atas Rp2,14 juta per gram menjadi sinyal kuat bahwa pasar global sedang menghadapi ketidakpastian ekonomi yang tinggi. Rekor ini melampaui puncak harga pada bulan sebelumnya yang masih berada di kisaran US$3.500 per troy ounce, atau sekitar Rp1,87 juta per gram.
Menurut analis komoditas, lonjakan harga emas tersebut tidak hanya disebabkan oleh fluktuasi nilai dolar AS, tetapi juga akibat meningkatnya permintaan global terhadap logam mulia sebagai lindung nilai dari inflasi.
Kondisi ekonomi global yang penuh ketidakpastian—termasuk perlambatan ekonomi Tiongkok, ketegangan geopolitik di Timur Tengah, dan kebijakan moneter longgar di berbagai negara—telah membuat emas menjadi aset paling aman di tahun 2025.
Data Resmi dari BPS: Emas Naik Nyaris Dua Kali Lipat
BPS mencatat, harga emas global nyaris dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan Oktober 2024 yang masih berada di kisaran US$2.500 per troy ounce. Peningkatan sebesar hampir 60% dalam waktu satu tahun ini menjadi salah satu lonjakan paling signifikan dalam satu dekade terakhir.
BPS menegaskan bahwa kenaikan harga emas tidak hanya berdampak pada investor, tetapi juga pada konsumsi rumah tangga. Masyarakat kini harus membayar lebih mahal untuk membeli perhiasan, sementara pelaku industri perhiasan menghadapi tekanan biaya produksi yang meningkat.
“Kenaikan harga emas dunia ini menjadi salah satu pendorong inflasi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya,” ujar Pudji.
Dengan demikian, tren kenaikan harga emas tembus rekor ini turut memberikan andil inflasi sebesar 0,21% terhadap indeks harga konsumen (IHK) nasional.
Dampak Harga Emas terhadap Inflasi Nasional
Kenaikan harga emas tembus rekor menjadi perhatian utama pemerintah karena kontribusinya terhadap inflasi. Menurut BPS, kelompok emas dan perhiasan menjadi salah satu komoditas utama yang menyumbang inflasi dalam dua tahun terakhir.
Selama Oktober 2025, inflasi emas perhiasan mencapai 11,97%. Angka ini merupakan inflasi tertinggi untuk kategori tersebut dalam 26 bulan berturut-turut, sejak September 2023.
Kenaikan harga yang berkelanjutan menyebabkan harga perhiasan emas di pasaran melonjak signifikan, sementara permintaan dari masyarakat kelas menengah mulai melambat. Namun, bagi investor, hal ini justru menjadi momentum emas untuk memperkuat posisinya sebagai aset pelindung nilai (store of value) yang aman di tengah tekanan inflasi global.
Inflasi Emas Perhiasan 26 Bulan Berturut-turut
BPS menyoroti bahwa inflasi perhiasan yang terus meningkat selama lebih dari dua tahun menunjukkan adanya tekanan harga dari sisi global. Dalam laporannya, BPS menegaskan bahwa harga emas perhiasan naik setiap bulan tanpa jeda sejak akhir 2023.
Fenomena ini menjadi sinyal penting bagi sektor keuangan dan perdagangan, mengingat lonjakan harga emas dapat berpengaruh langsung terhadap daya beli masyarakat dan stabilitas harga domestik.
Selain itu, peningkatan harga emas juga memicu tren baru di kalangan investor individu dan korporasi yang semakin banyak mengalihkan dana mereka ke aset logam mulia.
Faktor Global yang Mendorong Kenaikan Harga Emas
Menurut berbagai sumber internasional seperti Investing.com dan World Gold Council, terdapat beberapa faktor utama yang mendorong harga emas mencapai rekor tertinggi sepanjang masa pada Oktober 2025:
- Ketidakpastian Geopolitik – Konflik di beberapa wilayah dunia membuat investor global memilih emas sebagai aset aman.
- Kebijakan Moneter Longgar – Bank sentral di berbagai negara menahan suku bunga rendah untuk menjaga pertumbuhan ekonomi, sehingga nilai dolar AS melemah dan harga emas naik.
- Krisis Energi Global – Naiknya harga minyak memicu inflasi global yang semakin memperkuat posisi emas sebagai lindung nilai.
- Permintaan Tinggi dari Asia – India dan Tiongkok, dua negara konsumen emas terbesar, terus meningkatkan pembelian menjelang musim pernikahan dan festival keagamaan.
Kombinasi faktor-faktor ini menciptakan kondisi pasar yang mendukung kenaikan harga emas secara berkelanjutan hingga akhir tahun 2025.
Momentum dan Tantangan Harga Emas ke Depan
Kenaikan harga emas tembus rekor di atas Rp2,14 juta per gram pada Oktober 2025 menjadi momen bersejarah dalam dunia ekonomi global. Fenomena ini mempertegas peran emas sebagai aset pelindung nilai yang tetap diminati di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik.
Namun, dari sisi domestik, pemerintah perlu mengantisipasi dampak kenaikan harga emas terhadap inflasi nasional. Pengawasan ketat terhadap harga perhiasan dan bahan baku industri logam mulia perlu dilakukan agar tidak membebani masyarakat.
Dengan berbagai faktor eksternal yang masih dinamis, harga emas diperkirakan tetap tinggi hingga awal 2026. Investor disarankan untuk tetap waspada terhadap fluktuasi pasar dan memantau kebijakan moneter global yang akan memengaruhi arah harga emas dunia.








