Futures emas turun 0,18% di Asia akibat penguatan dolar AS dan naiknya imbal hasil obligasi. Investor menanti data ekonomi AS pekan depan.
KabarPialang –Futures emas melemah pada perdagangan Asia Jumat (31/10), mengikuti tekanan dari penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan meningkatnya imbal hasil obligasi pemerintah AS.
Di Divisi Comex, New York Mercantile Exchange, kontrak emas berjangka (futures) untuk penyerahan Desember diperdagangkan di USD 4.008,60 per troy ons, turun 0,18% dibandingkan sesi sebelumnya.
Pelemahan harga emas ini terjadi di tengah meningkatnya keyakinan bahwa Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama dari perkiraan sebelumnya. Ekspektasi tersebut mendorong penguatan dolar dan membuat investor mengalihkan aset mereka dari logam mulia ke instrumen berisiko seperti saham dan obligasi jangka pendek.
Analis pasar mencatat bahwa selama pekan terakhir Oktober, harga emas memang cenderung bergerak sideways karena minimnya katalis baru. Sentimen global juga relatif tenang setelah rilis data ekonomi AS menunjukkan perlambatan inflasi namun masih cukup kuat untuk mendukung kebijakan moneter ketat.
Selain faktor makroekonomi, pelemahan harga emas juga dipengaruhi oleh meningkatnya minat investor terhadap aset berimbal hasil tinggi. Ketika suku bunga tinggi bertahan lebih lama, emas—yang tidak menawarkan imbal hasil—menjadi kurang menarik bagi sebagian besar pelaku pasar.
Kinerja Dolar AS dan Dampaknya
Indeks Dolar AS Berjangka, yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia, naik 0,01% dan diperdagangkan di USD 99,36 pada Jumat pagi.
Kenaikan kecil ini tetap memberikan tekanan pada emas karena dolar yang lebih kuat membuat harga logam mulia lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain.
Menurut beberapa analis, dolar AS masih mendapat dukungan dari data ekonomi domestik yang solid, termasuk sektor ketenagakerjaan dan konsumsi rumah tangga. Investor juga menunggu pernyataan terbaru dari pejabat The Fed untuk mencari sinyal arah kebijakan suku bunga pada pertemuan Desember mendatang.
Jika greenback terus menguat, harga emas berpotensi tetap tertekan dalam jangka pendek. Namun, beberapa pelaku pasar menilai pelemahan bisa bersifat sementara, terutama jika ketidakpastian geopolitik kembali meningkat. Dalam kondisi seperti itu, emas kerap berfungsi sebagai aset lindung nilai (safe haven) yang kembali diminati.
“Selama dolar tetap kuat, sulit bagi emas untuk memimpin reli yang signifikan,” ujar seorang analis komoditas di New York. “Namun pasar masih sensitif terhadap risiko geopolitik dan data inflasi, yang bisa memicu pembalikan arah harga kapan saja.”
Level Support dan Resistance Emas
Secara teknikal, futures emas diperkirakan akan mendapat support di USD 3.901,30 per troy ons dan menghadapi resistance kuat di USD 4.123,80.
Jika tekanan jual berlanjut, harga berpotensi menguji ulang area USD 3.900, yang menjadi level psikologis penting dalam beberapa minggu terakhir.
Sebaliknya, bila terjadi rebound di atas USD 4.120, momentum beli (buying momentum) berpotensi meningkat dan membuka jalan menuju USD 4.200.
Trader jangka pendek disarankan berhati-hati terhadap volatilitas menjelang rilis data tenaga kerja AS serta arah yield Treasury AS, yang menjadi indikator utama bagi pergerakan harga emas.
Dalam jangka menengah, sebagian besar analis masih mempertahankan pandangan netral hingga positif terhadap emas, terutama jika inflasi tetap tinggi dan bank sentral global memperlambat kebijakan pengetatan moneter mereka.
Pergerakan Komoditas Lain: Perak & Tembaga
Selain futures emas, logam mulia lainnya juga mencatat penurunan di pasar Comex.
Kontrak perak berjangka untuk penyerahan Desember turun 0,56% menjadi USD 48,35 per troy ons, sementara tembaga berjangka untuk periode yang sama melemah 0,35% ke USD 5,09 per pon.
Pelemahan pada komoditas industri seperti tembaga terutama dipicu oleh data manufaktur Tiongkok yang lebih lemah dari perkiraan. Aktivitas pabrik di negara ekonomi terbesar kedua di dunia itu mengalami perlambatan karena permintaan ekspor yang menurun dan pengetatan pembiayaan di sektor properti.
Penurunan harga perak juga tak lepas dari kombinasi faktor teknikal dan lemahnya minat investor jangka pendek. Meski begitu, permintaan jangka panjang untuk logam industri seperti perak dan tembaga diperkirakan tetap solid karena kebutuhan sektor energi hijau, kendaraan listrik, dan infrastruktur teknologi tinggi.
Beberapa analis menilai, jika perekonomian global mulai stabil pada kuartal pertama 2026, harga logam dasar berpotensi pulih secara bertahap, terutama bila stimulus ekonomi Tiongkok mulai menunjukkan hasil.
Tekanan Harga Masih Berlanjut
Penurunan futures emas di sesi perdagangan Asia menunjukkan bahwa pasar logam mulia masih dibayangi oleh ketidakpastian arah kebijakan moneter global.
Kenaikan dolar AS dan imbal hasil obligasi jangka panjang menjadi faktor utama yang menekan harga emas dalam jangka pendek.
Namun demikian, prospek jangka menengah tetap terbuka bagi potensi rebound jika terjadi perubahan ekspektasi terhadap suku bunga atau peningkatan risiko geopolitik di Timur Tengah dan Eropa Timur. Dalam kondisi seperti itu, permintaan terhadap emas sebagai aset aman bisa kembali meningkat.
Untuk saat ini, pasar emas diperkirakan bergerak dalam rentang terbatas (sideways) antara USD 3.900–4.150 per troy ons dengan bias negatif ringan. Investor disarankan memantau data inflasi dan tenaga kerja AS pekan depan sebagai petunjuk arah berikutnya.






