Bitcoin Anjlok ke US$93.714, Reli 2025 Lenyap dalam 30 Hari

Harga Bitcoin jatuh ke US$93.714 dan menghapus seluruh reli sepanjang 2025. Pasar kripto memasuki fase risk-off setelah minat institusi melemah, aksi jual meningkat, dan sentimen global menurun.

KabarPialang – Harga Bitcoin kembali mengalami koreksi tajam dan menembus level US$93.714 pada Minggu (16/11/2025), menandai titik terendah terbaru yang menghapus seluruh reli sepanjang 2025. Penurunan ini sekaligus menempatkan harga Bitcoin di bawah penutupan akhir tahun lalu, saat pasar keuangan sempat bergairah setelah kemenangan Donald Trump dalam pemilu AS.

Data Bloomberg menunjukkan pergerakan harga tersebut merupakan penurunan signifikan yang dipicu kombinasi melemahnya selera risiko global dan berkurangnya sentimen positif terhadap kebijakan pro-kripto pemerintahan baru. Sementara itu, Coinmarketcap mencatat harga Bitcoin berada di kisaran US$94.198 pada Senin pagi, turun 1,43% dibanding hari sebelumnya.

Padahal, hanya beberapa minggu sebelumnya, Bitcoin sempat mencetak rekor baru di level US$126.251 pada 6 Oktober. Reli itu tidak bertahan lama. Empat hari setelah mencapai puncak, harga langsung merosot tajam usai komentar Presiden Trump mengenai tarif dagang kembali mengguncang pasar global.

Sentimen Risk-Off Mendominasi Pasar Kripto

Menurut Matthew Hougan, CIO Bitwise Asset Management, pasar saat ini berada dalam kondisi risk-off. Kripto menjadi kelompok aset yang paling cepat merespons kondisi tersebut.

Institusi Mengurangi Pembelian

Dalam 30 hari terakhir, pembeli besar seperti pengelola ETF, fund manager, dan bendahara perusahaan tampak menahan akumulasi Bitcoin. Sebelumnya, gelombang dana masuk dari institusi menjadi penopang utama reli Bitcoin sepanjang 2025. ETF kripto telah mengumpulkan lebih dari US$25 miliar, mendorong total asset under management mendekati US$169 miliar.

Arus dana tersebut menciptakan narasi kuat bahwa Bitcoin dapat menjadi alat diversifikasi portofolio, lindung nilai terhadap inflasi, dan pelindung dari ketidakpastian politik. Namun kini, narasi itu kembali memudar karena investor institusi mengurangi partisipasi.

Teknologi Melemah, Kripto Ikut Terseret

Selain melemahnya aliran dana ETF, penurunan saham-saham teknologi global turut memicu aksi jual. Sektor teknologi yang sebelumnya menjadi penggerak reli pasar kini mengalami koreksi tajam, menekan minat risiko secara keseluruhan.

Tekanan Makro: Profit Taking hingga Likuidasi Leverage

Jake Kennis, analis riset senior di Nansen, menyebut penurunan ini terjadi karena kombinasi beberapa faktor: aksi ambil untung investor jangka panjang, aliran keluar dana institusi, ketidakpastian makro, serta likuidasi posisi long dengan leverage tinggi.

Indikasi Lemahnya Permintaan

Salah satu indikator melemahnya permintaan terlihat dari MicroStrategy Inc. (Strategy Inc.), perusahaan milik Michael Saylor yang dikenal agresif membeli Bitcoin. Nilai kapitalisasi pasar perusahaan tersebut kini mendekati nilai kepemilikan Bitcoin-nya. Ini menandakan pasar tidak lagi bersedia membayar premi untuk strategi leverage ekstrem yang selama ini menjadi ciri khas Saylor.

Likuidasi Long Menambah Tekanan

Dengan melemahnya minat beli, pasar pun rentan mengalami serangkaian likuidasi posisi long di bursa derivatif. Likuidasi ini mempercepat koreksi dan menciptakan spiral tekanan jual pada harga Bitcoin.

Siklus Kripto: Sejarah Berulang, Volatilitas Tak Terhindarkan

Déjà Vu 2017

Fluktuasi harga Bitcoin bukanlah fenomena baru. Pada 2017, misalnya, Bitcoin sempat melesat lebih dari 13.000% sebelum anjlok hingga 75% pada 2018. Lonjakan ekstrem dan penurunan tajam telah menjadi pola pasar kripto yang berulang dari satu siklus ke siklus berikutnya.

Hougan menilai bahwa sentimen ritel saat ini cenderung negatif. Banyak investor tidak ingin kembali mengalami penurunan besar seperti tahun-tahun sebelumnya sehingga memilih keluar lebih cepat. Namun, menurutnya, koreksi ini justru dapat menjadi peluang membeli bagi investor jangka panjang.

Naik Turun Sepanjang 2025

Sepanjang 2025, Bitcoin berkali-kali bergerak liar. Pada April, harga sempat merosot ke US$74.400 setelah Trump mengumumkan tarif baru. Setelah itu, Bitcoin bangkit menuju rekor tertinggi sebelum kembali terkoreksi keras pada November.

Saat ini, Bitcoin masih menguasai sekitar 60% kapitalisasi pasar kripto global yang mencapai US$3,2 triliun. Namun, aset kripto berkapitalisasi kecil mengalami tekanan yang lebih dalam. Indeks MarketVector yang melacak 50 aset digital terbawah dalam daftar 100 terbesar bahkan amblas sekitar 60% sepanjang tahun.

Sentimen Investor: Skeptis dan Menunggu Katalis Baru

Chris Newhouse, Director of Research Ergonia yang fokus pada sektor DeFi, menyebut bahwa meski siklus naik-turun adalah bagian alami dari pasar kripto, sentimen saat ini menunjukkan skeptisisme luas. Investor ragu menempatkan modal karena belum ada katalis bullish baru yang cukup kuat.

Komunitas Kripto Masih Menunggu

Berdasarkan diskusi di komunitas kripto seperti kelompok Telegram, forum konferensi, dan platform diskusi profesional, investor tampak menahan diri. Mereka menunggu kejelasan dari sisi kebijakan ekonomi, arah suku bunga global, hingga respons pasar institusi sebelum kembali agresif masuk ke pasar.

Reli Hilang, Tapi Siklus Belum Berakhir

Penurunan Bitcoin ke level US$93.714 mungkin menghapus seluruh keuntungan sepanjang 2025, tetapi tidak mengubah karakter dasar pasar kripto yang sangat siklis dan volatil. Meskipun kondisi saat ini menunjukkan risk-off dan pelemahan minat beli, sebagian analis melihatnya sebagai koreksi sehat setelah reli besar.

Selama investor institusi belum kembali masuk dan katalis ekonomi global tidak jelas, volatilitas kemungkinan tetap tinggi. Namun, bagi investor jangka panjang, fase seperti ini sering dianggap sebagai peluang membeli di harga diskon.

Related Posts

Regulasi Data Kripto 2026, Ini Respons Pelaku Industri

Pelaku kripto nilai regulasi pertukaran data 2026 tak berdampak besar bagi industri, namun lebih mempengaruhi e-money dan perbankan. KabarPialang – Industri aset kripto di Indonesia kembali menjadi pembahasan utama setelah pemerintah…

USD Menguat, 3 Sinyal Pasar yang Mengubah Arah Dolar AS

Dolar AS kembali menguat setelah pasar memangkas ekspektasi pemangkasan suku bunga. Simak 3 sinyal utama yang mendorong perubahan arah USD dan dampaknya terhadap pasar global. KabarPialang – Harga emas batangan bersertifikat…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You Missed

PHK Perusahaan Eropa 2025: Dampak Ekonomi Lesu

  • By Team
  • November 28, 2025
  • 2 views
PHK Perusahaan Eropa 2025: Dampak Ekonomi Lesu

Inflasi Australia 2025 Mencapai 3,8%: Dampak dan Prediksi Ekonomi

  • By Team
  • November 28, 2025
  • 4 views
Inflasi Australia 2025 Mencapai 3,8%: Dampak dan Prediksi Ekonomi

Lonjakan Permintaan Server AI, Jefferies Soroti 4 Saham Taiwan Paling Diuntungkan

  • By Team
  • November 27, 2025
  • 4 views
Lonjakan Permintaan Server AI, Jefferies Soroti 4 Saham Taiwan Paling Diuntungkan

Wall Street Menguat, 6 Faktor Penggerak Reli Jelang Thanksgiving

  • By Team
  • November 27, 2025
  • 7 views
Wall Street Menguat, 6 Faktor Penggerak Reli Jelang Thanksgiving

Outlook Kuat 2026: Morgan Stanley Prediksi EUR/NOK Tetap Datar

  • By Team
  • November 26, 2025
  • 5 views
Outlook Kuat 2026: Morgan Stanley Prediksi EUR/NOK Tetap Datar

Deutsche Bank Perkirakan Dolar Melemah 6% hingga 2026

  • By Team
  • November 26, 2025
  • 6 views
Deutsche Bank Perkirakan Dolar Melemah 6% hingga 2026