IHSG ditutup menguat ke level 8.686 meski investor asing mencatatkan net sell Rp934 miliar. Saham perbankan hingga teknologi menjadi sasaran utama jual asing.
KabarPialang – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan Selasa, 15 Desember 2025, di zona hijau meskipun tekanan jual dari investor asing masih cukup besar. Berdasarkan data perdagangan, IHSG menguat 36,80 poin atau setara 0,43 persen ke level 8.686,46. Sepanjang sesi, pergerakan indeks terpantau fluktuatif dengan rentang perdagangan antara 8.611,34 hingga 8.700,86.
Penguatan IHSG ini menunjukkan bahwa sentimen positif di pasar domestik masih relatif terjaga. Di tengah berbagai ketidakpastian global, pasar saham Indonesia tetap mampu mencatatkan penguatan moderat. Kenaikan indeks terjadi saat sebagian besar saham bergerak di zona hijau, mencerminkan peran aktif investor domestik dalam menopang laju pasar.
Peran Investor Domestik Jaga Stabilitas Pasar
Penguatan IHSG tidak terlepas dari kontribusi investor lokal yang masih agresif melakukan transaksi beli. Kondisi ini menandakan adanya optimisme terhadap prospek jangka menengah pasar saham nasional, terutama di tengah stabilnya kondisi makroekonomi domestik.
Ketahanan pasar saham Indonesia juga tercermin dari kemampuan IHSG bertahan di level tinggi meskipun terjadi aksi jual asing. Hal ini menunjukkan bahwa struktur pasar semakin solid, dengan basis investor domestik yang mampu mengimbangi tekanan eksternal.
Mayoritas Saham Menguat, Aktivitas Perdagangan Ramai
Secara keseluruhan, komposisi pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia cenderung positif. Tercatat sebanyak 355 saham mengalami kenaikan harga, sementara 296 saham melemah dan 146 saham bergerak stagnan. Dominasi saham yang menguat menjadi faktor utama yang mendorong IHSG tetap bertahan di zona hijau hingga penutupan perdagangan.
Dari sisi aktivitas, nilai transaksi yang dibukukan terbilang tinggi. Total transaksi mencapai Rp29,59 triliun dengan volume perdagangan sebesar 49,87 miliar lembar saham. Frekuensi transaksi tercatat sebanyak 2.746.131 kali, mencerminkan tingginya minat investor dalam melakukan perdagangan di pasar saham.
Investor Asing Catat Net Sell Signifikan
Di balik penguatan indeks, investor asing justru mencatatkan aksi jual bersih atau net sell yang cukup besar. Total net sell asing di seluruh pasar tercatat mencapai Rp934,76 miliar. Tekanan jual ini terjadi baik di pasar reguler maupun di pasar negosiasi dan tunai.
Rinciannya, investor asing membukukan net sell di pasar reguler sebesar Rp90,99 miliar. Sementara itu, aksi jual di pasar negosiasi dan tunai tercatat jauh lebih besar, yakni mencapai Rp843,77 miliar. Kondisi ini menunjukkan bahwa investor asing cenderung melakukan distribusi saham, meskipun aktivitas perdagangan masih berlangsung aktif.
Faktor Musiman dan Penyesuaian Portofolio
Aksi jual asing yang cukup besar ini dinilai sebagai bagian dari penyesuaian portofolio, terutama menjelang akhir tahun. Pada periode ini, investor global umumnya melakukan rebalancing aset serta mengantisipasi berbagai sentimen eksternal yang berpotensi memengaruhi pasar keuangan.
Meski demikian, tekanan jual tersebut berhasil diimbangi oleh permintaan dari investor domestik. Alhasil, IHSG tetap mampu mencatatkan penguatan dan tidak terperosok ke zona merah.
Saham Perbankan Jadi Sasaran Utama
Sektor perbankan menjadi salah satu sasaran utama aksi jual investor asing. Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) tercatat sebagai emiten dengan tekanan jual asing terbesar. Nilai net foreign sell pada saham BBRI mencapai Rp264,61 miliar. Seiring dengan aksi jual tersebut, saham BBRI ditutup melemah 2,38 persen ke level Rp3.690.
Di posisi berikutnya, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) juga mengalami tekanan jual yang signifikan. Saham BBCA mencatatkan net foreign sell sebesar Rp244,78 miliar dan ditutup turun 2,71 persen ke level Rp8.075. Tekanan pada saham perbankan besar ini mengindikasikan adanya aksi ambil untung setelah reli yang cukup panjang.
Daftar 10 Saham Net Foreign Sell Terbesar
Selain saham perbankan, sejumlah saham dari sektor lain juga masuk dalam daftar emiten dengan net foreign sell terbesar. Saham-saham tersebut berasal dari sektor teknologi, pertambangan, hingga ritel.
Sepuluh saham dengan net foreign sell terbesar antara lain PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) sebesar Rp264,61 miliar, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) Rp244,78 miliar, PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) Rp106,46 miliar, PT Darma Henwa Tbk (DEWA) Rp59,98 miliar, serta PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) Rp51,13 miliar.
Selanjutnya terdapat PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) dengan net sell Rp51,12 miliar, PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) Rp43,56 miliar, PT Futura Energi Global Tbk (FUTR) Rp41,58 miliar, PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) Rp36,31 miliar, dan PT Timah Tbk (TINS) Rp23,71 miliar.
Dinamika Pasar dan Prospek IHSG
Tekanan jual asing di tengah penguatan IHSG menunjukkan adanya perbedaan pandangan antara investor asing dan domestik. Investor lokal cenderung lebih optimistis terhadap prospek pasar saham nasional, sementara investor asing masih bersikap lebih berhati-hati.
Ke depan, pergerakan IHSG diperkirakan masih akan dipengaruhi oleh sentimen global, arah kebijakan suku bunga, serta rilis data ekonomi. Selama minat beli investor domestik tetap kuat, IHSG berpeluang bertahan di level tinggi meskipun aksi jual asing masih terjadi secara selektif.






