Indeks Bisnis-27 dibuka menguat di awal 2026 ke level 562,47, didorong lonjakan saham INCO, NCKL, dan ANTM. IHSG ikut menguat.
KabarPialang – Indeks Bisnis-27 mengawali perdagangan awal tahun 2026 dengan kinerja positif. Pada Rabu, 7 Januari 2026, indeks ini dibuka menguat di level 562,47, menandai optimisme pelaku pasar terhadap saham-saham unggulan, khususnya dari sektor komoditas. Penguatan ini terjadi seiring meningkatnya minat investor pada saham pertambangan logam dan mineral yang dinilai memiliki prospek cerah di tengah tren global transisi energi.
Pergerakan indeks menunjukkan rentang 562,27 hingga 564,04 sesaat setelah pembukaan. Dari total 27 saham konstituen Indeks Bisnis-27, sebanyak 14 saham dibuka di zona hijau, empat saham stagnan, dan sembilan saham lainnya berada di zona merah. Kondisi ini mencerminkan sentimen pasar yang relatif konstruktif meski masih diwarnai aksi selektif investor.
Saham Komoditas Menjadi Motor Penguatan
INCO Pimpin Kenaikan Signifikan
Saham PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) menjadi kontributor terbesar dalam penguatan Indeks Bisnis-27. Emiten tambang nikel tersebut melonjak 9,78% atau naik 550 poin ke level Rp6.175 per saham. Lonjakan ini menunjukkan tingginya minat investor terhadap saham nikel, seiring ekspektasi permintaan yang tetap kuat dari industri kendaraan listrik dan baterai global.
Kinerja INCO yang impresif juga mencerminkan optimisme pasar terhadap fundamental perusahaan, termasuk prospek produksi dan stabilitas harga nikel yang masih berada pada level kompetitif.
NCKL dan ANTM Ikut Menguat
Selain INCO, saham PT Trimegah Bangun Persada Tbk. (NCKL) juga mencatatkan penguatan signifikan. Saham NCKL naik 7,31% ke level Rp1.395 per saham. Kenaikan ini memperkuat posisi sektor pertambangan sebagai penggerak utama pasar di awal perdagangan tahun ini.
Sementara itu, saham PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) turut menguat sebesar 2,90% ke level Rp3.550. ANTM masih menjadi salah satu saham favorit investor ritel dan institusi karena eksposurnya pada emas dan nikel, dua komoditas yang dinilai strategis di tengah ketidakpastian global.
Saham Lain yang Menguat dan Melemah
Emiten yang Mengalami Penguatan
Selain saham-saham komoditas utama, beberapa emiten lain dalam Indeks Bisnis-27 juga mencatatkan kenaikan. Saham PT Adaro Minerals Indonesia Tbk. (ADMR) naik 1,94% ke level Rp1.840 per saham. Penguatan ini sejalan dengan pergerakan positif saham-saham berbasis sumber daya alam.
Saham PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk. (INKP) turut menguat sebesar 1,31% ke level Rp9.675 per saham. Kenaikan ini mencerminkan minat investor terhadap sektor industri berbasis ekspor yang dinilai masih memiliki peluang pertumbuhan di tengah stabilisasi ekonomi global.
Saham yang Tertekan di Awal Perdagangan
Di sisi lain, beberapa saham tercatat mengalami pelemahan. Saham PT Dharma Satya Nusantara Tbk. (DSNG) turun 1,62% ke level Rp1.515. Tekanan jual juga dialami saham PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC) yang melemah 1,33% ke level Rp1.480.
Saham PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF) turut bergerak di zona merah dengan penurunan 1,07% ke level Rp6.925 per saham. Pelemahan pada saham-saham konsumsi ini menunjukkan investor cenderung bersikap hati-hati terhadap sektor defensif di awal tahun.
IHSG Ikut Menguat di Awal Perdagangan
Sejalan dengan penguatan Indeks Bisnis-27, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga dibuka menguat. Pada pembukaan perdagangan Rabu pagi, IHSG berada di level 8.959,09 dan bergerak di kisaran 8.959 hingga 8.970 sesaat setelah pasar dibuka.
Secara keseluruhan, mayoritas saham di Bursa Efek Indonesia bergerak positif. Tercatat sebanyak 351 saham menguat, 130 saham melemah, dan 195 saham bergerak stagnan. Kapitalisasi pasar IHSG tercatat mencapai Rp16.401,12 triliun, mencerminkan besarnya nilai pasar saham domestik di awal tahun 2026.
Sentimen Pasar dan Prospek Ke Depan
Penguatan Indeks Bisnis-27 dan IHSG di awal perdagangan tahun ini menunjukkan sentimen positif investor terhadap pasar saham Indonesia. Saham-saham berbasis komoditas, khususnya nikel dan mineral, masih menjadi pilihan utama di tengah ekspektasi pertumbuhan ekonomi dan kebutuhan global terhadap bahan baku industri hijau.
Namun demikian, pelaku pasar diperkirakan tetap akan mencermati berbagai faktor eksternal dan domestik, termasuk pergerakan harga komoditas global, arah kebijakan moneter, serta perkembangan ekonomi global. Volatilitas masih berpotensi terjadi, sehingga investor diharapkan tetap selektif dalam memilih saham dengan fundamental kuat dan prospek jangka menengah yang jelas.






