Investor global mulai defensif: Nasdaq & Russell 2000 catat posisi short meningkat, sementara Kospi dan Nikkei bergerak netral, FTSE Inggris stabil.
KabarPialang – Pasar saham global menunjukkan arah beragam pada pekan terakhir, di mana investor Amerika Serikat terlihat mengurangi eksposur mereka terhadap ekuitas dan memperbanyak posisi short. Sementara itu, bursa Asia seperti Kospi Korea Selatan dan Nikkei Jepang bergerak relatif stabil dalam pola arus netral. Laporan terbaru dari Citigroup Global Markets menyoroti pergeseran besar dalam strategi investor menjelang akhir tahun, di tengah ketidakpastian kebijakan suku bunga dan prospek ekonomi global yang melambat.
Investor AS Perbanyak Posisi Short
Menurut tim analis Citigroup yang dipimpin oleh Chris Montagu, sebagian besar arus pergerakan di pasar saham AS minggu lalu didorong oleh pembentukan posisi short baru, terutama pada indeks Nasdaq 100. Hampir seluruh perubahan posisi di indeks tersebut terdiri dari penambahan short, menandakan bahwa investor mulai mengambil langkah defensif terhadap saham teknologi besar yang sebelumnya menjadi pendorong utama reli pasar.
Kinerja saham teknologi selama tahun ini memang luar biasa, namun valuasi yang tinggi dan ketidakpastian arah kebijakan Federal Reserve (The Fed) membuat banyak pelaku pasar berhati-hati. Kenaikan imbal hasil obligasi AS juga turut meningkatkan tekanan terhadap saham-saham berkapitalisasi besar yang sensitif terhadap suku bunga.
Sementara itu, indeks S&P 500 menunjukkan perubahan posisi yang lebih seimbang, dengan pergerakan long dan short relatif berimbang. Hal ini menandakan adanya sikap “menunggu dan melihat” dari investor, yang belum memiliki kejelasan arah pasar jangka pendek.
Adapun pada Russell 2000, indeks yang mewakili saham-saham berkapitalisasi kecil, terjadi pemangkasan posisi net long setelah dua minggu sebelumnya sempat mencapai level maksimum. Penurunan ini mencerminkan melemahnya minat investor terhadap saham-saham yang sangat bergantung pada pertumbuhan ekonomi domestik AS, di tengah tanda-tanda perlambatan konsumsi dan sektor manufaktur.
FTSE Inggris dan Bank Eropa Menunjukkan Kinerja Positif
Berbeda dengan tren di Amerika Serikat, pasar saham Eropa justru memperlihatkan peningkatan kepercayaan investor. Citigroup mencatat bahwa FTSE 100 Inggris mencatat kenaikan nilai nosional bersih sebesar US$1 miliar, didorong oleh kombinasi pembukaan posisi long baru serta penutupan posisi short.
Kenaikan ini menandakan adanya keyakinan bahwa ekonomi Inggris mulai menunjukkan stabilitas setelah periode inflasi tinggi dan suku bunga yang menekan sektor konsumen. Investor juga mulai memperkirakan bahwa Bank of England (BoE) dapat mulai melonggarkan kebijakan moneternya pada tahun depan, seiring tanda-tanda inflasi yang mulai menurun.
Selain itu, saham-saham perbankan Eropa juga mencatat peningkatan posisi yang cukup signifikan. Momentum positif ini telah berlangsung selama satu bulan terakhir, ditopang oleh prospek perbaikan margin bunga bersih dan meningkatnya permintaan pinjaman dari sektor korporasi. Kondisi ini turut memperkuat kepercayaan investor terhadap stabilitas pasar keuangan kawasan tersebut.
Kospi dan Nikkei Bergerak Netral di Asia
Sementara di Asia, indeks Kospi Korea Selatan dan Nikkei Jepang menunjukkan pola arus netral, tanpa adanya pergeseran besar antara posisi beli dan jual. Analisis Citigroup menyebutkan bahwa investor di kawasan Asia saat ini memilih untuk menahan diri, menunggu arah pasar global yang lebih jelas sebelum menambah eksposur risiko.
Indeks Kospi sempat tertekan akibat melemahnya ekspor semikonduktor dan melambatnya permintaan global. Namun, stabilitas nilai tukar won dan ekspektasi penurunan suku bunga oleh Bank of Korea mulai menjadi faktor pendukung baru bagi pasar saham domestik. Pelaku pasar menilai kebijakan moneter yang lebih longgar dapat membantu meningkatkan konsumsi dan memperkuat daya saing ekspor.
Di sisi lain, Nikkei 225 Jepang masih bertahan di level tinggi setelah reli panjang sejak awal tahun 2025. Dukungan utama datang dari pelemahan yen terhadap dolar AS yang menguntungkan eksportir, serta meningkatnya aktivitas investasi asing di pasar saham Jepang. Meski demikian, kekhawatiran terhadap potensi intervensi Bank of Japan (BoJ) untuk menstabilkan yen membuat sebagian investor memilih berhati-hati.
Rotasi Investasi dan Sentimen Global
Perbedaan arah arus modal antara pasar AS, Eropa, dan Asia mencerminkan adanya rotasi investasi global yang sedang berlangsung. Investor global tampaknya mulai memindahkan dana dari pasar dengan valuasi tinggi menuju sektor dan wilayah yang menawarkan potensi pertumbuhan lebih berkelanjutan.
Citigroup menilai bahwa peningkatan posisi short di AS merupakan strategi hedging (lindung nilai) menjelang rilis data inflasi dan keputusan suku bunga terbaru dari The Fed. Dengan volatilitas pasar yang masih tinggi dan ketidakpastian global yang belum mereda, pendekatan hati-hati ini dianggap wajar oleh banyak analis.
Peran Teknologi dan AI dalam Investasi Global
Dalam konteks pergeseran pasar ini, teknologi kecerdasan buatan (AI) memainkan peran penting dalam membantu investor mengoptimalkan strategi. Sistem berbasis AI kini mampu menganalisis jutaan data pasar secara real-time untuk mendeteksi peluang dan risiko investasi dengan lebih cepat.
Menurut ProPicks AI dari Investing.com, 75% portofolio yang dikelola menggunakan model AI mencatat kinerja lebih baik dibandingkan indeks acuan sepanjang tahun ini. Strategi unggulan seperti “Raksasa Teknologi” bahkan tumbuh dua kali lipat dibandingkan S&P 500 dalam 18 bulan terakhir, dengan saham-saham unggulan seperti Super Micro Computer (+185%) dan AppLovin (+157%) menjadi kontributor terbesar.
Fenomena ini menunjukkan bahwa pendekatan investasi berbasis AI kini menjadi tren dominan di pasar global, membantu investor menghadapi ketidakpastian dan meningkatkan akurasi pengambilan keputusan.
Secara keseluruhan, pasar saham global sedang berada dalam fase penyesuaian sentimen. Investor AS mengambil posisi defensif dengan memperbanyak posisi short, sementara investor Eropa mulai lebih percaya diri terhadap prospek ekonomi kawasan mereka. Di sisi lain, pasar Asia, khususnya Kospi dan Nikkei, bergerak stabil dengan arus netral, menandakan sikap menunggu terhadap arah pasar global yang belum pasti.
Dengan latar ketidakpastian makroekonomi, strategi investasi yang adaptif dan berbasis analisis data — termasuk pemanfaatan teknologi AI — akan menjadi kunci untuk menghadapi dinamika pasar yang semakin kompleks di penghujung tahun.






