Yield Surat Utang Negara diperkirakan menguat ke bawah 6% pada paruh pertama 2026, ditopang pemangkasan suku bunga, likuiditas perbankan, dan stabilitas fiskal.
KabarPialang – Yield Surat Utang Negara (SUN) diperkirakan bergerak menguat pada paruh pertama 2026 dengan peluang menembus level di bawah 6%. Proyeksi ini didorong oleh kombinasi kebijakan moneter yang lebih akomodatif, likuiditas domestik yang melimpah, serta stabilitas fiskal pemerintah. Sejumlah pelaku pasar menilai kondisi tersebut membuka ruang reli lanjutan di pasar obligasi pemerintah Indonesia.
Pada awal Januari 2026, yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun tercatat berada di kisaran 6,16%. Meski demikian, tren ke depan dinilai masih condong menguat seiring ekspektasi pemangkasan suku bunga acuan dan meningkatnya minat investor domestik terhadap instrumen pendapatan tetap.
Faktor Pemicu Penguatan Yield SUN
Ekspektasi Pemangkasan Suku Bunga
Salah satu katalis utama penguatan yield SUN adalah peluang penurunan suku bunga acuan pada semester pertama 2026. Dengan inflasi yang relatif terkendali dan stabilitas nilai tukar rupiah yang terjaga, ruang bagi otoritas moneter untuk melonggarkan kebijakan dinilai semakin terbuka.
Pelaku pasar memperkirakan penurunan suku bunga akan menurunkan imbal hasil instrumen pasar uang, sehingga obligasi pemerintah menjadi alternatif investasi yang lebih menarik. Dalam skenario ini, harga SUN berpotensi naik dan yield bergerak turun ke kisaran 5,8–5,9%.
Likuiditas Perbankan Masih Longgar
Likuiditas domestik menjadi faktor penopang penting bagi pasar obligasi. Dana pihak ketiga di perbankan yang belum terserap optimal ke sektor riil menciptakan dana menganggur dalam jumlah besar. Kondisi ini mendorong bank dan institusi keuangan untuk lebih aktif menempatkan dana pada Surat Berharga Negara.
Instrumen obligasi pemerintah dinilai menawarkan kombinasi imbal hasil yang kompetitif dan risiko yang relatif rendah, terutama di tengah ketidakpastian global. Aktivitas pembelian oleh perbankan domestik berpotensi menjaga stabilitas pasar sekaligus menahan volatilitas yield.
Peran Stabilitas Makroekonomi Domestik
Inflasi dan Rupiah yang Terkendali
Stabilitas makroekonomi menjadi fondasi utama optimisme pasar obligasi. Inflasi yang tetap berada dalam sasaran bank sentral memberikan kepastian bagi investor terhadap daya beli dan nilai riil imbal hasil obligasi. Selain itu, pergerakan nilai tukar rupiah yang cenderung stabil pada paruh kedua 2025 turut memperkuat kepercayaan pasar.
Kondisi ini menurunkan risiko nilai tukar bagi investor domestik dan asing, meskipun arus dana asing diperkirakan belum kembali agresif. Dengan risiko makro yang lebih terjaga, SUN tetap menjadi instrumen favorit bagi investor konservatif.
Postur Fiskal Pemerintah 2026
Dari sisi fiskal, defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 dipatok sebesar 2,48% terhadap Produk Domestik Bruto. Angka ini dinilai masih dalam batas aman dan mencerminkan komitmen pemerintah menjaga disiplin fiskal.
Kebutuhan pembiayaan defisit diperkirakan meningkatkan penerbitan Surat Berharga Negara, namun permintaan pasar diyakini tetap kuat. Strategi pembiayaan yang terukur dan berimbang akan menjadi kunci dalam menjaga stabilitas yield di pasar sekunder.
Investor Domestik Jadi Penopang Utama
Minimnya Aliran Dana Asing
Ketidakpastian global, mulai dari arah kebijakan moneter negara maju hingga tensi geopolitik, membuat aliran dana asing ke pasar obligasi emerging market cenderung terbatas. Dalam kondisi ini, peran investor domestik menjadi semakin krusial.
Investor institusi dalam negeri, termasuk perbankan, dana pensiun, dan asuransi, diharapkan terus menjadi penopang utama permintaan SUN. Basis investor domestik yang kuat mampu mengurangi ketergantungan terhadap modal asing.
SBN Ritel Tetap Menarik
Penerbitan SBN ritel diperkirakan tetap besar pada 2026 seiring keberhasilan pemerintah memperluas basis investor ritel dalam beberapa tahun terakhir. Partisipasi investor individu dinilai membantu menjaga kedalaman pasar sekaligus mendistribusikan risiko secara lebih merata.
Instrumen ritel juga memberikan alternatif investasi yang relatif aman bagi masyarakat di tengah fluktuasi pasar saham dan aset berisiko lainnya.
Prospek Yield SUN Semester I-2026
Secara keseluruhan, prospek pasar obligasi pemerintah Indonesia pada paruh pertama 2026 cenderung positif. Kombinasi pemangkasan suku bunga, likuiditas perbankan yang kuat, inflasi terkendali, serta disiplin fiskal pemerintah membuka peluang yield SUN bergerak ke bawah 6%.
Meski demikian, pelaku pasar tetap mencermati arah kebijakan fiskal dan strategi pembiayaan pemerintah sebagai faktor kunci. Di tengah ketidakpastian global, kehati-hatian tetap diperlukan, namun SUN masih dipandang sebagai instrumen yang atraktif bagi investor jangka menengah hingga panjang.
Jika kondisi makroekonomi domestik tetap terjaga, target yield SUN di kisaran 5,8–5,9% pada semester pertama 2026 bukanlah skenario yang berlebihan, melainkan peluang realistis yang patut diperhitungkan investor.







