Investor disarankan mengocok ulang portofolio jelang January Effect 2026. Saham bank jumbo dan emiten emas dinilai paling siap memanfaatkan momentum awal tahun.
KabarPialang – Memasuki pergantian tahun, perhatian pelaku pasar kembali tertuju pada fenomena January Effect. Momentum musiman ini kerap dimanfaatkan investor untuk meraih keuntungan dari pergerakan harga saham pada awal tahun. Menjelang Januari 2026, investor pun disarankan untuk mengocok ulang portofolio agar dapat menangkap peluang secara optimal, terutama dengan fokus pada saham berkapitalisasi besar dan saham berbasis emas.
Pada akhir perdagangan Desember 2025, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih menunjukkan ketahanan. IHSG menguat 1,25% dan bergerak di kisaran 8.546–8.652, dengan nilai transaksi mencapai Rp22,46 triliun. Kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) tercatat sebesar Rp15.809 triliun, mencerminkan tingginya minat investor meski tahun perdagangan hampir berakhir.
Peluang January Effect Masih Terbuka
Fenomena January Effect merujuk pada kecenderungan pasar saham menguat pada awal tahun, dipicu oleh optimisme baru, alokasi dana segar, serta strategi akumulasi investor institusi dan ritel. Menurut analis pasar, peluang terjadinya January Effect pada 2026 masih terbuka, meskipun dengan karakter yang lebih selektif dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Investor dinilai tidak lagi memburu saham secara agresif di semua lini, melainkan lebih fokus pada emiten dengan fundamental kuat. Saham-saham berkapitalisasi besar atau lapis satu dinilai lebih efektif dalam memanfaatkan momentum awal tahun dibandingkan saham lapis kedua yang volatilitasnya lebih tinggi.
Saham Jumbo Lebih Diunggulkan
Saham berkapitalisasi jumbo dianggap memiliki daya tahan lebih baik dalam menghadapi ketidakpastian pasar di awal tahun. Selain likuiditas yang tinggi, saham-saham ini didukung oleh kinerja fundamental yang solid dan tata kelola yang relatif stabil.
Secara historis, saham lapis satu cenderung lebih lincah bergerak pada periode January Effect. Investor institusi biasanya melakukan penyesuaian portofolio dengan menempatkan dana pada saham-saham unggulan sebagai jangkar portofolio, sehingga mendorong permintaan di pasar reguler.
Dividen Jadi Magnet Awal Tahun
Salah satu faktor yang memperkuat daya tarik saham berkapitalisasi besar adalah prospek dividen. Januari kerap menjadi periode ketika investor mulai menghitung estimasi laba bersih tahunan dan potensi imbal hasil dividen.
Saham-saham perbankan besar dan emiten blue chip yang memiliki rekam jejak pembagian dividen konsisten dinilai lebih menarik. Emiten seperti BBCA, BBRI, BMRI, hingga ASII dikenal memiliki kebijakan dividen yang relatif royal dan stabil. Ekspektasi dividen ini sering kali menjadi katalis positif bagi pergerakan harga saham di awal tahun.
Selain itu, investor ritel juga cenderung melakukan akumulasi sejak Januari untuk mengamankan yield dividen yang menarik, terutama di tengah ketidakpastian global yang masih membayangi pasar keuangan.
Emas Jadi Tema Menarik 2026
Di luar sektor perbankan, saham-saham berbasis emas diprediksi masih memiliki prospek cerah memasuki 2026. Hal ini sejalan dengan proyeksi harga emas global yang berpotensi menembus level US$5.000 per troy ounce, didorong oleh permintaan bank sentral dan meningkatnya minat terhadap aset lindung nilai.
Kondisi geopolitik global dan ketidakpastian ekonomi juga memperkuat posisi emas sebagai safe haven. Oleh karena itu, emiten tambang emas dinilai masih menarik untuk diperhatikan sebagai bagian dari strategi diversifikasi portofolio.
ANTM dan BRMS Jadi Sorotan
Emiten tambang emas seperti ANTM dan BRMS dinilai memiliki peluang untuk mencatatkan kinerja positif seiring tren kenaikan harga emas. Selain eksposur terhadap komoditas emas, strategi ekspansi dan peningkatan kapasitas produksi menjadi faktor pendukung prospek jangka menengah emiten-emiten ini.
Kombinasi antara saham bank jumbo dan saham emas dinilai dapat memberikan keseimbangan antara stabilitas dan potensi pertumbuhan dalam portofolio investor.
Energi Konvensional Hadapi Tantangan
Di sisi lain, sektor energi konvensional seperti minyak dan batu bara diperkirakan menghadapi tantangan lebih besar pada 2026. Normalisasi harga komoditas energi berpotensi menekan margin emiten di sektor ini. Meski demikian, perusahaan energi yang mulai melakukan diversifikasi ke mineral hijau atau komoditas transisi energi tetap dinilai memiliki prospek jangka panjang.
Strategi Selektif di Tengah Reli Panjang
Meski peluang January Effect masih ada, penguatan pasar diperkirakan cenderung terbatas mengingat IHSG telah mencatatkan reli signifikan sepanjang 2025. Oleh karena itu, strategi selektif menjadi kunci utama.
Analis menyarankan investor menerapkan strategi buy on weakness pada saham-saham berfundamental kuat dengan valuasi relatif atraktif. Saham perbankan besar seperti BBCA dan BBRI tetap direkomendasikan sebagai pilihan utama untuk menyambut Januari 2026.
Dengan pendekatan disiplin dan fokus pada kualitas emiten, momentum January Effect dapat dimanfaatkan secara optimal tanpa mengabaikan manajemen risiko di awal tahun perdagangan.






