KabarPialang – Saham Michelin anjlok 9% setelah perusahaan memangkas proyeksi laba 2025 secara signifikan. Ketahui penyebab utama, dampak pasar global, dan analisis investor terhadap prospek bisnis Michelin ke depan.
Saham Michelin anjlok lebih dari 9% pada perdagangan Selasa (14/10/2025) setelah produsen ban asal Prancis itu mengeluarkan peringatan laba (profit warning) untuk tahun 2025. Perusahaan menyebut melemahnya permintaan di Amerika Utara sebagai penyebab utama penurunan tajam tersebut.
Penurunan saham ini menjadi sinyal tekanan serius bagi sektor otomotif global yang tengah berjuang menghadapi perlambatan ekonomi dan tingginya biaya produksi.
Saham Michelin Anjlok Akibat Revisi Laba yang Drastis
Dalam pernyataannya, Michelin memangkas perkiraan Pendapatan Operasional Segmen (SOI) menjadi €2,6 miliar–€3,0 miliar pada nilai tukar konstan — jauh di bawah panduan sebelumnya yang berada di atas €3,4 miliar.
Selain itu, proyeksi arus kas bebas sebelum merger dan akuisisi (M&A) juga dipangkas menjadi kisaran €1,5–€1,8 miliar, dari sebelumnya di atas €1,7 miliar.
Langkah ini mencerminkan tekanan besar pada profitabilitas perusahaan di tengah melemahnya permintaan global untuk ban truk dan pertanian, serta kenaikan biaya bahan baku.
Manajemen menyebut bahwa permintaan yang anjlok dari sektor truk dan pertanian menjadi kontributor utama penurunan penjualan di Amerika Utara. Sementara di segmen konsumen (retail), penjualan ban pengganti (replacement tires) juga melemah akibat ketidakpastian ekonomi makro.
Penjualan Anjlok, Pasar Amerika Utara Jadi Sorotan
Michelin melaporkan penurunan volume penjualan kuartal ketiga hampir 10% year-on-year (YoY) di wilayah Amerika Utara — pasar terbesarnya secara global.
Sektor business-to-business (B2B) dan business-to-consumer (B2C) keduanya menunjukkan pelemahan signifikan, memperburuk tekanan pada kinerja grup.
“Lingkungan bisnis saat ini kacau, dengan ketidakpastian jangka pendek yang membebani permintaan,” ujar manajemen Michelin dalam pernyataan resmi.
Meskipun wilayah Eropa dan Asia masih menunjukkan pertumbuhan moderat, daya saing global Michelin tertekan oleh tarif perdagangan yang tinggi serta fluktuasi nilai tukar.
Khususnya, melemahnya dolar AS berdampak negatif terhadap arus kas bebas (free cash flow) yang sebelumnya diharapkan menjadi penopang pertumbuhan laba 2025.
Respons Analis: Saham Michelin Anjlok Lebih Dalam dari Ekspektasi
Analis di Barclays menilai revisi laba yang dilakukan Michelin jauh lebih besar dari perkiraan pasar.
“Kami sudah mengantisipasi adanya peringatan laba, tetapi besarannya jauh di atas ekspektasi kami dan bahkan investor paling bearish sekalipun,” tulis Barclays dalam catatan risetnya.
Sebagai respons, Barclays memangkas estimasi 2025 untuk penjualan, SOI, dan arus kas bebas masing-masing sebesar 1%, 9%, dan 5%.
Investor pun bereaksi cepat: saham Michelin di bursa Paris (Euronext: ML) terjun 9,3%, menjadi salah satu penurunan harian terbesar sejak pandemi 2020.
Penurunan saham ini juga menyeret indeks CAC 40 turun 0,7%, menandakan kekhawatiran pasar terhadap kinerja sektor manufaktur Eropa.
Analisis: Mengapa Saham Michelin Bisa Anjlok Begitu Tajam?
Ada beberapa faktor utama di balik anjloknya saham Michelin, di antaranya:
- Pelemahan Permintaan Otomotif di Amerika Utara
Perlambatan ekonomi AS menekan sektor logistik dan agrikultur, dua pelanggan utama ban truk Michelin. - Kenaikan Biaya Produksi
Harga karet dan bahan bakar naik tajam, sementara margin operasional perusahaan semakin menipis. - Fluktuasi Nilai Tukar Euro dan Dolar
Pelemahan dolar AS membuat pendapatan ekspor Michelin turun jika dikonversi ke euro. - Persaingan Ketat dari Produsen Asia
Produsen ban dari Jepang dan Korea Selatan seperti Bridgestone dan Hankook terus meningkatkan pangsa pasar global.
Kondisi ini membuat investor lebih berhati-hati terhadap prospek laba industri otomotif, terutama di tengah penurunan global spending konsumen.
Rencana Michelin ke Depan: Fokus Efisiensi dan Transformasi
Meski menghadapi tekanan besar, Michelin berencana melakukan evaluasi mendalam terhadap strategi bisnis dan proyeksi 2025.
Perusahaan akan memberikan pembaruan lebih rinci pada konferensi investor 22 Oktober 2025, yang diharapkan bisa memberikan arah baru bagi pasar.
Dalam jangka menengah, Michelin berfokus pada:
- Transformasi digital rantai pasokan untuk efisiensi biaya,
- Ekspansi ban berkelanjutan (eco-tires) berbasis bahan ramah lingkungan, dan
- Diversifikasi produk non-ban seperti material mobilitas pintar dan komponen industri.
Langkah ini diharapkan mampu menjaga daya saing dan memulihkan kepercayaan investor global.
Dampak Saham Michelin Anjlok ke Pasar Global
Koreksi saham Michelin berdampak pada saham produsen ban lain seperti Continental AG dan Pirelli, yang masing-masing turun 2–3%.
Indeks otomotif Eropa juga melemah karena kekhawatiran bahwa pelemahan permintaan global akan meluas hingga 2026.
Beberapa analis memperkirakan bahwa jika kondisi makro tidak membaik, Michelin mungkin akan merevisi kembali panduan laba semester pertama 2026.
Namun, sebagian lainnya menilai penurunan saham ini bisa menjadi peluang beli jangka panjang (buy-the-dip) jika manajemen mampu menekan biaya dan memperkuat inovasi produk.






