KabarPialang – Yen Jepang menghadapi risiko penurunan tajam hingga 160 per dolar, kata mantan pejabat Bank of Japan. Simak 5 fakta penting tentang penyebab penurunan yen, potensi intervensi, dan dampaknya bagi pasar saham Asia dan global.
Nilai tukar yen Jepang terus melemah terhadap dolar AS dan kini menjadi sorotan utama pelaku pasar global. Mantan pejabat Bank of Japan (BOJ), Atsushi Takeuchi, memperingatkan bahwa pemerintah Jepang mungkin akan melakukan intervensi apabila penurunan yen semakin tajam hingga menyentuh 160 per dolar.
Menurutnya, otoritas moneter cenderung membiarkan pelemahan yang moderat untuk mendukung ekspor, tetapi akan bertindak tegas jika penurunan yen menimbulkan gejolak dan mengancam stabilitas ekonomi domestik.
5 Fakta Penting tentang Penurunan Yen dan Arah Kebijakan BOJ
1. Level 160 per Dolar Jadi Titik Kritis
Takeuchi, yang pernah menjabat kepala divisi valuta asing BOJ, mengatakan bahwa 160 yen per dolar adalah batas psikologis yang dapat memicu intervensi langsung di pasar valuta asing.
“Pihak berwenang tidak akan terlalu peduli jika penurunan yen moderat. Tetapi alarm mereka akan berbunyi jika pasar mulai berbicara tentang penurunan menuju 160 atau 170 per dolar,” ujarnya kepada Reuters.
Pernyataan ini menjadi sinyal bahwa Jepang tidak akan membiarkan depresiasi yen terlalu dalam, mengingat dampaknya bisa memicu inflasi dan menekan daya beli masyarakat.
2. Dampak Politik dan Kebijakan Takaichi
Kemenangan Sanae Takaichi sebagai pemimpin partai berkuasa memunculkan spekulasi bahwa Jepang akan menerapkan kebijakan fiskal ekspansif.
Pasar menilai langkah ini bisa menunda kenaikan suku bunga BOJ, yang berimbas pada pelemahan yen lebih lanjut.
Selama seminggu terakhir, yen sudah turun hampir 4%, penurunan terbesar sejak Oktober 2024. Mata uang Jepang diperdagangkan di sekitar 153 per dolar, mendekati titik kritis yang diawasi ketat oleh pelaku pasar.
3. Ketimpangan Suku Bunga antara Jepang dan Amerika Serikat
Salah satu faktor utama penurunan yen adalah perbedaan kebijakan suku bunga antara Jepang dan Amerika Serikat.
Sementara Federal Reserve kemungkinan akan memangkas suku bunga tahun ini, Bank of Japan masih berhati-hati dalam menaikkannya karena khawatir pertumbuhan ekonomi bisa melambat.
Takeuchi menilai bahwa penyempitan kesenjangan suku bunga dalam jangka menengah dapat membantu menstabilkan yen, namun dalam jangka pendek tekanan pelemahan masih tinggi.
4. Respons Pemerintah dan Bank Sentral Jepang
Menteri Keuangan Jepang Katsunobu Kato menegaskan bahwa otoritas memantau nilai tukar secara aktif. Ia menyebutkan bahwa langkah intervensi terbuka dilakukan jika fluktuasi dianggap “berlebihan dan tidak teratur.”
Namun sejauh ini, Bank of Japan memilih untuk menunggu perkembangan lebih lanjut, menghindari intervensi langsung yang dapat mengguncang pasar.
Di sisi lain, Takaichi menegaskan bahwa pelemahan yen memiliki sisi positif dan negatif. Di satu sisi, yen yang lemah mendukung ekspor. Namun di sisi lain, bisa meningkatkan biaya impor energi dan pangan, menambah beban rumah tangga Jepang.
5. Sikap Amerika Serikat dan Dampak Global
Takeuchi juga menyoroti kemungkinan respon AS terhadap intervensi Jepang. Menurutnya, pemerintahan Donald Trump cenderung mendukung dolar yang lebih lemah, sehingga tidak akan menentang langkah Tokyo jika bertujuan menstabilkan pasar.
“Washington mungkin akan menyambut baik intervensi apa pun oleh Tokyo untuk menahan penurunan yen,” katanya.
Namun, jika yen jatuh terlalu cepat, ketegangan diplomatik bisa meningkat karena Amerika Serikat khawatir dampaknya terhadap perdagangan internasional dan nilai ekspor AS.
Dampak Penurunan Yen terhadap Pasar Saham Asia
Penurunan yen memiliki efek domino terhadap pasar saham Asia. Yen yang lemah membuat produk ekspor Jepang lebih kompetitif, tetapi pada saat yang sama dapat memicu inflasi regional karena meningkatnya harga impor bahan baku.
Investor global kini memperhatikan pasar saham Jepang dan Korea Selatan, yang menjadi indikator utama kestabilan Asia. Pelemahan yen dapat meningkatkan keuntungan perusahaan eksportir Jepang seperti Toyota, Sony, dan Hitachi, namun menekan sektor konsumsi domestik.
Bagi trader, kondisi ini menjadi peluang untuk menyesuaikan strategi portofolio, khususnya dalam instrumen forex, saham teknologi Asia, dan komoditas.
Prediksi Arah Yen ke Depan
Berdasarkan tren saat ini, sebagian besar analis memperkirakan yen akan tetap lemah dalam jangka pendek, terutama jika BOJ belum mengubah kebijakan suku bunganya.
Namun, apabila intervensi benar-benar dilakukan di kisaran 160 per dolar, pelemahan yen kemungkinan akan tertahan, bahkan bisa mengalami koreksi teknikal yang kuat.
BOJ kemungkinan akan menggunakan strategi campuran antara intervensi verbal dan pembelian yen di pasar spot, seperti yang dilakukan pada tahun 2011 saat menghadapi tekanan serupa.
Apakah Intervensi Tak Terhindarkan?
Jika penurunan yen terus berlanjut, langkah intervensi hampir tidak bisa dihindari. Jepang memiliki sejarah panjang dalam menjaga stabilitas mata uangnya, terutama demi melindungi ekspor dan mengendalikan inflasi domestik.
Situasi saat ini memperlihatkan bahwa kebijakan moneter Jepang berada di persimpangan antara mendukung pertumbuhan ekonomi dan menahan tekanan inflasi.
Bagi pelaku pasar, memahami dinamika ini sangat penting untuk memprediksi arah pergerakan saham Asia dan nilai tukar regional ke depan.






