Saham Asia bergejolak di akhir pekan karena komoditas menguat dan yen jadi sorotan. Simak analisis lengkap pergerakan IHSG, emas, dan pasar global hari ini.
Saham Asia bergejolak pada akhir pekan ini seiring pergerakan pasar global yang tidak menentu. Penurunan di Wall Street membawa efek domino ke Asia, sementara harga komoditas seperti emas, perak, dan minyak mengalami kenaikan setelah reli besar-besaran beberapa hari terakhir.
Meskipun begitu, pasar Asia masih berada di jalur positif secara tahunan, bahkan mencatatkan salah satu performa terbaik dalam satu dekade terakhir. Hal ini didukung oleh kebijakan fiskal dan insentif industri yang memperkuat pesanan manufaktur, terutama di sektor teknologi dan AI hardware.
Analisis Pasar Saham Asia: Dari Nikkei ke Hang Seng
Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang sempat bergerak fluktuatif sebelum akhirnya turun tipis 0,2%.
Di antara pasar utama, Hang Seng (Hong Kong) melemah 1,1%, menjadi penurunan terbesar di kawasan.
Sementara indeks Korea Selatan (KOSPI) justru naik 1,7%, menjadikannya indeks dengan performa terbaik minggu ini.
Pasar Australia (ASX 200) turun tipis 0,1% di tengah volatilitas harga komoditas.
Menurut Chris Weston, Kepala Riset di Pepperstone Group Ltd (sumber: Pepperstone Research), sejumlah aset berisiko tinggi seperti emas, kripto, dan saham teknologi menunjukkan tanda-tanda kelelahan setelah reli panjang.
Saham Asia Bergejolak di Tengah Ekspektasi Pemangkasan Suku Bunga The Fed
Faktor lain yang mendorong volatilitas saham Asia adalah ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter oleh Federal Reserve AS.
Data dari CME FedWatch Tool menunjukkan peluang 94,1% bahwa The Fed akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan 29 Oktober mendatang.
Imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun juga turun menjadi 4,13%, menandakan meningkatnya minat investor terhadap aset berisiko menengah seperti obligasi Asia dan logam mulia.
Bank of Japan dan Takaichi: Yen dalam Sorotan
Di Jepang, indeks Nikkei 225 turun 0,7% setelah mencetak rekor tertinggi sebelumnya.
Data menunjukkan harga grosir naik 2,7% YoY pada September, menambah tekanan inflasi yang bisa memicu kenaikan suku bunga BoJ pada 30 Oktober.
Sementara itu, pernyataan dari Sanae Takaichi, pemimpin partai berkuasa yang baru, memicu ketidakpastian. Ia menegaskan bahwa kebijakan moneter tetap menjadi domain Bank of Japan, namun harus “selaras dengan kebijakan pemerintah”.
Dolar AS sedikit melemah 0,1% terhadap yen ke 152,96, mendekati level terlemah sejak Februari.
Komoditas Menguat: Emas dan Perak Jadi Andalan Investor
Harga emas spot turun tipis 0,1% ke $3.971,93 per ons, setelah menembus level psikologis $4.000 minggu ini — rekor tertinggi dalam sejarah.
Sementara perak (XAG/USD) naik 1% ke $49,62, kembali menguji level $50 yang juga merupakan titik tertinggi empat dekade.
Kenaikan ini memperkuat posisi logam mulia sebagai aset safe haven di tengah ketidakpastian geopolitik dan penutupan sebagian lembaga pemerintah AS.
Sumber data logam mulia: Kitco Metals
Saham Asia Bergejolak di Tengah Ketegangan AS–Tiongkok
Saham Tiongkok juga terkena tekanan setelah Beijing memperluas kontrol ekspor logam tanah jarang, menjelang pertemuan antara Presiden Trump dan Xi Jinping.
Langkah ini memperburuk kekhawatiran tentang perang dagang dan menekan ETF saham Tiongkok yang terdaftar di Wall Street.
Indeks CSI300 turun tajam, menandai sentimen negatif pada sektor manufaktur dan bahan baku.
Namun, beberapa analis menilai langkah ini sebagai upaya strategis Tiongkok untuk mempertahankan kendali terhadap industri penting global.
Minyak Stabil di Tengah Kesepakatan Damai Timur Tengah
Di pasar energi, harga minyak Brent naik tipis 0,1% ke $65,27 per barel setelah Israel dan Hamas menyepakati gencatan senjata.
Perjanjian ini diharapkan meredakan ketegangan di kawasan dan membuka jalan bagi stabilisasi pasokan minyak global.
Menurut laporan dari Reuters Energy, penghentian konflik akan mengurangi risiko geopolitik yang selama ini menjadi pendorong utama kenaikan harga minyak dunia.
Saham Asia Bergejolak, Tapi Peluang Tetap Terbuka
Secara keseluruhan, saham Asia bergejolak menjelang akhir pekan, tetapi tren jangka menengah masih positif.
Faktor seperti ekspektasi pemangkasan suku bunga, kenaikan harga komoditas, dan kebijakan fiskal agresif di Asia memberi sinyal bahwa peluang investasi tetap terbuka.
Investor disarankan untuk memantau pergerakan yen Jepang, harga emas, dan kebijakan The Fed sebagai penentu arah pasar global berikutnya.






