PHK massal terjadi di perusahaan Eropa 2025 akibat ekonomi lesu. Simak daftar perusahaan dan dampaknya bagi tenaga kerja.
KabarPialang – Perlambatan ekonomi yang melanda banyak negara di Eropa membuat sejumlah perusahaan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK). Situasi ini menjadi sorotan karena jumlah pekerja yang terdampak cukup besar dan mencakup berbagai sektor, mulai dari otomotif hingga layanan finansial.
Komisi Eropa memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Uni Eropa hanya 1,4% pada 2025, dan proyeksi untuk 2026 tetap sama. Sementara itu, pertumbuhan zona Euro diperkirakan 1,3% pada 2025 dan menurun menjadi 1,2% pada 2026. Penurunan ini terjadi setelah revisi proyeksi yang sebelumnya lebih optimistis pada Mei 2025.
Salah satu faktor pemicu melambatnya pertumbuhan ekonomi adalah hambatan perdagangan yang mencapai titik tertinggi sepanjang sejarah. Uni Eropa juga menghadapi tarif ekspor yang lebih tinggi ke Amerika Serikat dibandingkan perkiraan awal. Ketidakpastian kebijakan perdagangan ini terus membebani aktivitas ekonomi, karena tarif dan pembatasan nontarif berpotensi menghambat pertumbuhan lebih dari yang diantisipasi.
Perusahaan Eropa yang Melakukan PHK Massal
Sejumlah perusahaan besar di Eropa mengambil langkah tegas dengan melakukan PHK atau menghentikan perekrutan baru. Berikut beberapa contohnya:
Sektor Otomotif
- Renault (Prancis): akan memangkas sekitar 3.000 pekerjaan di bidang pelayanan pendukung hingga akhir 2025.
- Volkswagen (Jerman): telah memangkas 7.000 karyawan di Jerman untuk efisiensi biaya.
- Daimler Truck (Jerman): memangkas hingga 7.000 pekerjaan di Jerman, Amerika Serikat, dan Meksiko.
- Continental (Jerman): menargetkan pemangkasan 1.500 pekerjaan tambahan, serta 10.000 pekerjaan di total tenaga kerja.
- Volvo Cars (Swedia): akan memangkas 3.000 pekerja kantoran sebagai bagian dari restrukturisasi perusahaan.
Sektor Keuangan
- Commerzbank (Jerman): menyetujui pemangkasan sekitar 3.900 pekerjaan hingga 2028.
- Lloyds (Britania Raya): mempertimbangkan memangkas setengah dari 3.000 stafnya.
- ABN AMRO (Belanda): berencana memangkas 5.200 pekerjaan hingga 2028.
Sektor Energi dan Industri
- OMV (Austria): perusahaan minyak dan gas ini memangkas 2.000 pekerjaan, sekitar seperdua belas tenaga kerjanya di seluruh dunia.
- SIKA (Swiss): perusahaan kimia industri dan konstruksi ini memangkas 1.500 pekerjaan di pasar yang melemah, termasuk China.
- Orsted (Denmark): perusahaan energi ini memangkas sekitar 2.000 pekerjaan atau seperempat tenaga kerjanya hingga akhir 2027.
Sektor Teknologi dan Telekomunikasi
- STMicroelectronics (Prancis & Italia): memperkirakan 5.000 pekerja akan meninggalkan perusahaan dalam tiga tahun ke depan, termasuk 2.800 pada 2025.
- Telefonica (Spanyol): memangkas 5.040 (20%) karyawannya di Spanyol.
- Just Eat Takeaway (Belanda): unit Jerman berencana memangkas 2.000 karyawan mulai akhir 2025.
Sektor Barang Konsumsi dan Mode
-
Nestlé (Swiss): akan memangkas 6.000 pekerjaan, sekitar 5,8% dari total karyawan.
-
Burberry (Britania Raya): memangkas 1.700 karyawan atau seperlima tenaga kerja global.
-
LVMH (Prancis): unit Moet Hennessy akan memangkas sekitar 1.200 karyawan.
Sektor Penerbangan dan Transportasi
-
Lufthansa (Jerman): grup penerbangan ini akan memangkas 4.000 pekerjaan administratif hingga 2030.
Sektor Farmasi
-
Novo Nordisk (Denmark): perusahaan farmasi ini akan memangkas 9.000 pekerjaan di seluruh dunia.
Faktor Penyebab PHK Massal di Eropa
Langkah pemangkasan karyawan ini tidak lepas dari kondisi ekonomi makro yang lesu. Beberapa faktor yang memicu PHK massal meliputi:
- Pertumbuhan Ekonomi yang Lambat: Pertumbuhan ekonomi Uni Eropa yang diproyeksikan hanya 1,4% tidak cukup mendorong ekspansi bisnis.
- Hambatan Perdagangan dan Tarif Tinggi: Tarif ekspor ke Amerika Serikat dan pembatasan perdagangan internasional mengurangi daya saing perusahaan Eropa.
- Ketidakpastian Kebijakan: Kebijakan perdagangan global yang tidak menentu membuat perusahaan sulit merencanakan investasi dan perekrutan.
- Efisiensi Biaya dan Restrukturisasi: Banyak perusahaan memilih memangkas tenaga kerja sebagai langkah efisiensi dan restrukturisasi di tengah tekanan pasar.
Dampak PHK bagi Ekonomi dan Masyarakat
PHK massal membawa dampak yang cukup besar, baik bagi pekerja maupun perekonomian:
- Penurunan Konsumsi: Banyak pekerja kehilangan penghasilan, sehingga daya beli masyarakat menurun.
- Tekanan pada Pemerintah: Negara-negara Eropa harus menyiapkan bantuan sosial dan program pelatihan ulang bagi pekerja yang terdampak.
- Ketidakpastian Pasar Tenaga Kerja: Investor dan perusahaan lain mungkin menunda ekspansi atau perekrutan baru karena kondisi pasar yang tidak stabil.
- Sentimen Negatif: Dampak psikologis PHK massal dapat menurunkan kepercayaan konsumen dan mempengaruhi keputusan pembelian.
Perlambatan ekonomi Eropa pada 2025 memicu langkah drastis oleh banyak perusahaan untuk memangkas karyawan atau menghentikan perekrutan. Dampak PHK massal ini terasa di berbagai sektor, mulai otomotif, energi, teknologi, hingga barang konsumsi dan mode.
Faktor utama yang memicu PHK antara lain pertumbuhan ekonomi yang lambat, hambatan perdagangan global, ketidakpastian kebijakan, serta kebutuhan perusahaan melakukan efisiensi biaya.
Ke depan, Eropa perlu menyiapkan strategi ekonomi yang mampu meredam dampak PHK massal, termasuk dukungan sosial bagi pekerja dan langkah-langkah untuk meningkatkan daya saing perusahaan. Meski situasi saat ini penuh tantangan, langkah restrukturisasi ini bisa menjadi strategi jangka panjang agar perusahaan tetap bertahan di tengah kondisi ekonomi global yang tidak pasti.





