Harga minyak WTI mendekati level terendah dua bulan di tengah kekhawatiran kelebihan pasokan dan tensi geopolitik global.
KabarPialang – Harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) bergerak menguat tipis pada perdagangan Senin (15/12/2025). Meski demikian, harga WTI masih bertahan di dekat level terendah dalam hampir dua bulan terakhir. Kondisi ini mencerminkan kehati-hatian pelaku pasar yang terus dibayangi kekhawatiran kelebihan pasokan global serta perkembangan geopolitik yang belum memberikan kepastian arah harga.
Pada perdagangan hari ini, minyak WTI tercatat berada di kisaran US$57,6 per barel. Kenaikan tersebut belum cukup untuk mengangkat harga keluar dari tekanan yang sudah berlangsung selama beberapa pekan terakhir. Investor masih menimbang keseimbangan antara risiko geopolitik dan faktor fundamental berupa suplai minyak yang melimpah.
Harga Minyak Tertekan Isu Kelebihan Pasokan
Salah satu faktor utama yang menekan harga minyak adalah kekhawatiran mengenai kelebihan pasokan di pasar global. Produksi minyak dari sejumlah negara produsen utama masih berada pada level tinggi, sementara pertumbuhan permintaan global dinilai belum cukup kuat untuk menyerap seluruh pasokan yang ada.
Amerika Serikat, sebagai salah satu produsen minyak terbesar dunia, terus mencatatkan produksi yang solid. Di sisi lain, beberapa negara produsen lainnya juga belum menunjukkan tanda-tanda penurunan produksi yang signifikan. Kondisi ini memicu kekhawatiran bahwa pasar akan kembali mengalami surplus pasokan dalam jangka pendek hingga menengah.
Permintaan Global Belum Pulih Sepenuhnya
Dari sisi permintaan, pertumbuhan konsumsi minyak dunia dinilai masih terbatas. Perlambatan ekonomi di sejumlah negara, terutama di kawasan Eropa dan sebagian Asia, membuat proyeksi permintaan energi cenderung konservatif. Ketidakpastian arah kebijakan moneter global juga turut membebani aktivitas industri dan transportasi, yang menjadi kontributor utama permintaan minyak.
Pasar Pantau Negosiasi Perdamaian Ukraina
Selain faktor fundamental, pelaku pasar juga mencermati perkembangan geopolitik, khususnya terkait konflik Rusia-Ukraina. Pada akhir pekan lalu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky melakukan pertemuan dengan utusan utama Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Pembicaraan yang berlangsung selama dua hari tersebut berfokus pada proposal yang didukung AS untuk mengakhiri perang dengan Rusia.
Harapan terhadap potensi kesepakatan damai sempat memberikan sentimen positif terbatas ke pasar minyak. Jika konflik dapat diredakan, risiko gangguan pasokan energi dari kawasan tersebut berpotensi menurun. Namun, hingga kini pasar masih bersikap hati-hati karena belum ada hasil konkret dari upaya diplomatik tersebut.
Ketegangan di Lapangan Masih Berlanjut
Terlepas dari pembicaraan damai, situasi di lapangan menunjukkan bahwa konflik belum benar-benar mereda. Serangan pesawat tak berawak Ukraina dilaporkan masih menghantam depot dan kilang minyak di beberapa wilayah Rusia. Serangan ini menimbulkan kekhawatiran akan potensi gangguan produksi dan distribusi energi.
Namun, sejauh ini dampak serangan tersebut terhadap pasokan minyak global dinilai masih terbatas. Pasar menilai risiko geopolitik tersebut belum cukup kuat untuk mendorong kenaikan harga yang signifikan, terutama di tengah isu kelebihan pasokan.
Tekanan Geopolitik di Amerika Latin dan Timur Tengah
Di kawasan lain, Amerika Serikat dilaporkan meningkatkan kehadiran militernya di Venezuela, salah satu eksportir minyak utama dunia. Langkah ini sejalan dengan meningkatnya tekanan politik dari Presiden Donald Trump terhadap negara tersebut. Situasi ini memicu spekulasi pasar terkait potensi gangguan ekspor minyak Venezuela ke pasar internasional.
Sementara itu, ketegangan juga muncul di kawasan Timur Tengah. Iran menyatakan telah menyita sebuah kapal tanker asing di Teluk Oman dengan tuduhan penyelundupan bahan bakar. Insiden ini kembali menyoroti risiko keamanan jalur pelayaran strategis yang menjadi rute utama pengiriman minyak global.
Dampak Masih Terbatas
Meski berbagai ketegangan geopolitik tersebut berpotensi mengganggu pasokan minyak, pasar menilai dampaknya masih bersifat terbatas dan belum sistemik. Stok minyak global yang relatif memadai membuat investor belum sepenuhnya bereaksi agresif terhadap risiko tersebut.
Respons Investor Masih Hati-hati
Kondisi pasar saat ini mencerminkan sikap wait and see dari investor. Kenaikan harga WTI ke level US$57,6 per barel lebih banyak dipandang sebagai rebound teknis setelah tekanan sebelumnya, bukan awal dari tren penguatan yang solid.
Investor masih menunggu kejelasan lebih lanjut terkait arah kebijakan produksi negara-negara produsen minyak utama, termasuk potensi langkah lanjutan untuk mengendalikan pasokan. Selain itu, data ekonomi global dan perkembangan geopolitik akan tetap menjadi faktor kunci yang menentukan arah harga minyak ke depan.
Prospek Harga Minyak ke Depan
Dalam jangka pendek, harga minyak diperkirakan masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan terbatas. Selama kekhawatiran kelebihan pasokan belum mereda dan permintaan global belum menunjukkan pemulihan yang kuat, ruang penguatan harga minyak dinilai masih terbatas.
Namun demikian, risiko geopolitik tetap menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan. Eskalasi konflik atau gangguan pasokan yang lebih serius dapat dengan cepat mengubah sentimen pasar. Oleh karena itu, pelaku pasar disarankan untuk tetap mencermati perkembangan global secara cermat dalam menentukan strategi investasi di sektor energi.






