IHSG turun 0,42% ke 8.534 pada 25/11/2025. Saham BRMS, BBRI, dan BBCA kompak melemah di awal perdagangan. Sentimen dipengaruhi penguatan rupiah dan kajian RPP Demutualisasi BEI.
KabarPialang – Pada perdagangan Selasa (25/11/2025), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mencatatkan pelemahan di awal sesi setelah sebelumnya menembus rekor all time high (ATH) baru. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG dibuka di level 8.570,85 sebelum terkoreksi 0,42% menuju 8.534,47 pada pukul 09.05 WIB. Koreksi ini terjadi di tengah aksi ambil untung yang terjadi pada berbagai saham berkapitalisasi besar dari sektor perbankan, komoditas, hingga infrastruktur.
Pada awal perdagangan, IHSG bergerak dalam rentang 8.521,25 sebagai posisi terendah dan 8.574,39 sebagai posisi tertinggi. Sementara itu, kapitalisasi pasar BEI tercatat sebesar Rp15.588 triliun pada sesi pembukaan. Tekanan pada saham-saham bertransaksi besar menunjukkan adanya sikap hati-hati dari pelaku pasar setelah reli kuat yang terjadi sehari sebelumnya.
Saham Bank Jumbo Mengalami Koreksi
Sektor perbankan kembali menjadi penekan utama IHSG di awal sesi perdagangan. Beberapa saham bank besar yang biasanya mendominasi kapitalisasi pasar justru dibuka melemah.
Saham Perbankan Lapis Satu Tertekan
- BBRI (Bank Rakyat Indonesia) turun 0,5% pada awal pembukaan perdagangan.
- BBCA (Bank Central Asia) juga terkoreksi 0,29%.
- Saham bank besar lainnya dalam indeks LQ45 menunjukkan pola pergerakan serupa, menandakan berkurangnya minat beli jangka pendek.
Pelemahan di sektor perbankan ini dipicu oleh aksi profit taking setelah IHSG menguat signifikan 1,85% pada perdagangan Senin (24/11/2025), sekaligus menandai level ATH baru di 8.570,25. Kenaikan besar tersebut membuat beberapa saham perbankan berada dalam kondisi overbought secara teknikal, sehingga investor memilih mengamankan keuntungan.
Aksi Ambil Untung Menekan Indeks
Tekanan jual di sektor perbankan menjadi penghambat utama upaya IHSG untuk bertahan di atas level psikologis 8.550. Investor tampaknya menunggu momentum baru atau katalis positif sebelum kembali meningkatkan eksposur ke saham-saham big caps tersebut.
Saham Komoditas dan Infrastruktur Turut Melemah
Selain sektor perbankan, sejumlah saham dari sektor komoditas dan infrastruktur juga merosot pada awal perdagangan.
Pelemahan Saham Komoditas
- BRMS (Bumi Resources Minerals) turun cukup signifikan sebesar 1,46%.
- PTRO (Petrosea) terkoreksi 0,76%.
- CUAN (Petrindo Jaya Kreasi) mengalami penurunan lebih dalam, sebesar 2,1%.
Tekanan pada saham komoditas ini terjadi seiring turunnya harga beberapa komoditas global dan adanya kekhawatiran pelaku pasar terkait kinerja sektor pertambangan pada kuartal mendatang.
Sentimen Investor Lebih Hati-Hati
Koreksi di berbagai sektor ini mengindikasikan pelaku pasar memilih pendekatan lebih hati-hati menjelang rilis data ekonomi penting dari Amerika Serikat dan sejumlah perkembangan kebijakan domestik.
Sentimen Penggerak IHSG: Rupiah Menguat & Pembahasan RPP Demutualisasi
Dari sisi makro domestik, terdapat beberapa sentimen yang memengaruhi pergerakan IHSG sepanjang pekan ini.
Rupiah Menguat Seiring Ekspektasi Penurunan Suku Bunga The Fed
Rupiah menunjukkan penguatan terhadap dolar AS dalam beberapa hari terakhir. Penguatan ini terjadi seiring ekspektasi pelaku pasar global bahwa The Federal Reserve akan segera memangkas suku bunga acuan di 2025. Penguatan mata uang Asia secara serentak memberikan sentimen positif bagi pasar saham Indonesia.
Namun demikian, penguatan rupiah tidak serta merta mampu menahan tekanan profit taking, terutama dari saham-saham yang telah mencetak reli kuat pada sesi sebelumnya.
Kajian RPP Demutualisasi BEI
Selain itu, pasar juga memperhatikan perkembangan penyusunan Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) Demutualisasi Bursa Efek Indonesia, yang menjadi mandat Undang-Undang PPSK (Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan).
Jika disahkan, kebijakan ini akan mengubah struktur BEI dari bursa yang dimiliki oleh anggota bursa menjadi perseroan yang kepemilikannya dapat dimiliki secara lebih luas. Perubahan struktural ini berpotensi meningkatkan tata kelola, transparansi, serta daya tarik investasi jangka panjang. Namun, pada jangka pendek, proses transisi dapat menimbulkan volatilitas.
Investor Global Menunggu Rilis Data Ekonomi AS
Dari sisi global, pelaku pasar menunggu rilis lanjutan data ekonomi Amerika Serikat yang sempat tertunda akibat government shutdown. Beberapa data yang menjadi fokus utama adalah:
- Data inflasi produsen (PPI)
- Data penjualan ritel
- Data aktivitas manufaktur
Ketiga data ini akan menjadi acuan penting untuk memprediksi sikap kebijakan moneter The Fed dalam beberapa bulan ke depan. Ketidakpastian tersebut membuat pasar global cenderung volatile, termasuk IHSG.
Proyeksi IHSG: Peluang Uji 8.600 Masih Terbuka
Meski dibuka melemah, analis menilai tekanan terhadap IHSG masih bersifat sementara. Tim Riset Phintraco Sekuritas menyampaikan bahwa secara teknikal IHSG masih memiliki peluang menguat menuju level psikologis 8.600, selama tidak muncul tekanan besar dari sentimen global.
Dengan nilai kapitalisasi pasar yang stabil dan aliran modal asing yang masih terjaga, tren penguatan menengah IHSG dinilai belum patah. Kendati demikian, investor disarankan untuk berhati-hati menghadapi potensi koreksi lanjutan pada saham-saham yang telah naik signifikan.






