IHSG Anjlok 3%! Saham Prajogo Pangestu Bikin Investor Panik

IHSG ambruk 3% setelah saham-saham milik Prajogo Pangestu kompak jatuh. Investor panik lakukan aksi jual besar-besaran, sementara dana beralih ke emas.

KabarPialang – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terjun bebas hingga 3% pada perdagangan, dipicu aksi jual besar-besaran di saham-saham milik Prajogo Pangestu. Setelah sempat dibuka menguat 0,36% pada awal sesi, indeks berbalik tajam ke zona merah seiring tekanan jual yang meluas di sektor energi dan petrokimia.

Penurunan tajam ini menandai koreksi terbesar IHSG dalam dua bulan terakhir. Tekanan paling kuat datang dari saham-saham kelompok Barito Group, yang sebelumnya menjadi motor penggerak reli pasar dalam beberapa pekan terakhir.

Saham Prajogo Kompak Tumbang, Antrean Jual Menebal

Pada perdagangan sesi II, koreksi saham-saham grup Prajogo semakin dalam.

  • Chandra Daya Investasi (CDIA) anjlok 14,47%,
  • Barito Pacific (BRPT) merosot 8,08%,
  • Chandra Asri Pacific (TPIA) turun 7,45%, dan
  • Petrindo Jaya Kreasi (CUAN) longsor 13%.

Sementara itu, Barito Renewables Energy (BREN) juga tak luput dari tekanan jual. Menjelang penutupan perdagangan sesi II, antrean jual di saham-saham tersebut melonjak tajam, menandakan meningkatnya kepanikan investor ritel maupun institusi.

Data Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat, volume penawaran jual CDIA mencapai 1,33 juta lot, sementara permintaan beli hanya sekitar 602 ribu lot. Pada saham BREN, terdapat 161 ribu lot antrean jual, jauh di atas 35 ribu lot antrean beli.
Kondisi serupa terjadi pada Petrosea (PTRO), dengan antrean jual 247 ribu lot berbanding antrean beli 84 ribu lot.

Kelebihan suplai jual di saham-saham tersebut mempercepat tekanan terhadap IHSG, yang sempat merosot lebih dari 3% pada pukul 14.00 WIB. Meskipun kemudian indeks sedikit pulih karena adanya pembelian di level bawah, volatilitas pasar tetap tinggi hingga akhir sesi.

Koreksi Teknis Setelah Kenaikan Tajam Sebulan Terakhir

Analis pasar menilai penurunan tajam saham-saham konglomerasi milik Prajogo bukan sepenuhnya disebabkan oleh faktor fundamental, melainkan lebih karena aksi ambil untung (profit taking) setelah reli panjang.

Dalam sebulan terakhir, saham-saham grup Barito mencatat kenaikan spektakuler:

  • CDIA naik 38,16%,
  • PTRO melesat 69,1%,
  • BRPT menguat 72,65%, dan
  • CUAN naik 68,77%.

Kenaikan tersebut jauh melampaui rata-rata indeks sektor energi dan infrastruktur di BEI, sehingga banyak pelaku pasar menilai harga sudah berada di zona overbought.

Menurut Oktavianus Audi, VP Marketing Kiwoom Sekuritas Indonesia, koreksi kali ini merupakan technical correction alami setelah penguatan signifikan di akhir pekan lalu. Ia menilai kenaikan IHSG sebelumnya memang tidak didukung volume transaksi yang kuat, sehingga rawan terkoreksi.

“Kenaikan IHSG sebelumnya lebih bersifat jangka pendek karena volume lemah. Indikator RSI juga menunjukkan posisi overbought, jadi wajar muncul tekanan jual,” ujar Oktavianus.

Ia menambahkan, penurunan harga saham berkapitalisasi besar seperti milik Prajogo mempercepat pelemahan indeks, mengingat saham-saham tersebut memiliki bobot signifikan dalam IHSG.

Investor Alihkan Dana ke Aset Aman

Selain faktor teknikal, pelemahan IHSG juga dipengaruhi oleh pergeseran sentimen global. Lonjakan harga komoditas safe haven, seperti emas, membuat sebagian investor memilih memindahkan portofolio dari pasar saham ke aset lindung nilai.

Harga emas dunia baru-baru ini mencetak rekor tertinggi (all-time high) di atas US$4.100 per troy ounce, mencerminkan meningkatnya kekhawatiran terhadap risiko ekonomi global dan potensi perlambatan pertumbuhan di AS dan Tiongkok.

“Kenaikan harga emas menunjukkan investor mencari aset yang lebih stabil di tengah ketidakpastian global,” jelas Oktavianus.

Pandangan senada disampaikan oleh Nafan Aji Gusta, Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia. Menurutnya, pelemahan saham-saham konglomerasi menandakan adanya rotasi aset menuju instrumen yang lebih aman, seperti emas dan perak.

“Aksi profit taking di saham-saham energi terjadi karena pelaku pasar mulai mengalihkan dananya ke safe haven. Goldman Sachs bahkan memperkirakan harga emas (XAU/USD) dapat menembus level US$5.000 pada 2026 karena ketidakpastian global yang masih tinggi,” papar Nafan.

Ia menambahkan bahwa kenaikan harga perak juga mendukung tren ini, karena logam mulia tersebut sering dianggap alternatif investasi saat volatilitas pasar meningkat.

Tekanan Makro dan Psikologis Pasar

Selain faktor saham individual, pelemahan IHSG juga diperparah oleh faktor psikologis pasar. Ketika saham-saham utama turun signifikan, investor ritel cenderung ikut melakukan penjualan massal (panic selling). Efek domino ini mempercepat penurunan indeks secara keseluruhan.

Dari sisi makroekonomi, kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi global dan penurunan permintaan komoditas industri juga turut menekan sektor energi dan petrokimia yang selama ini menjadi tulang punggung grup Barito.

Beberapa pelaku pasar menilai, apabila tekanan ini berlanjut, investor perlu mencermati potensi koreksi lanjutan pada saham-saham energi besar lainnya yang memiliki korelasi tinggi dengan harga minyak dan gas dunia.

Koreksi Sehat atau Awal Tekanan Baru?

Analis menilai kejatuhan IHSG hari ini masih tergolong koreksi teknikal, bukan pembalikan tren jangka panjang. Selama sentimen global belum memburuk drastis dan likuiditas domestik tetap kuat, potensi rebound masih terbuka, terutama di saham-saham berfundamental kuat dengan valuasi menarik.

Namun demikian, volatilitas diperkirakan tetap tinggi dalam jangka pendek. Investor disarankan berhati-hati dan memanfaatkan momentum koreksi untuk melakukan buy on weakness, sembari memantau pergerakan harga komoditas dan arah kebijakan suku bunga global.

“IHSG butuh katalis baru untuk menahan tekanan jual. Selama tekanan eksternal masih kuat, pasar akan cenderung defensif,” tutup Nafan.

Related Posts

Regulasi Data Kripto 2026, Ini Respons Pelaku Industri

Pelaku kripto nilai regulasi pertukaran data 2026 tak berdampak besar bagi industri, namun lebih mempengaruhi e-money dan perbankan. KabarPialang – Industri aset kripto di Indonesia kembali menjadi pembahasan utama setelah pemerintah…

Bitcoin Anjlok ke US$93.714, Reli 2025 Lenyap dalam 30 Hari

Harga Bitcoin jatuh ke US$93.714 dan menghapus seluruh reli sepanjang 2025. Pasar kripto memasuki fase risk-off setelah minat institusi melemah, aksi jual meningkat, dan sentimen global menurun. KabarPialang – Harga Bitcoin…

One thought on “IHSG Anjlok 3%! Saham Prajogo Pangestu Bikin Investor Panik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You Missed

PHK Perusahaan Eropa 2025: Dampak Ekonomi Lesu

  • By Team
  • November 28, 2025
  • 2 views
PHK Perusahaan Eropa 2025: Dampak Ekonomi Lesu

Inflasi Australia 2025 Mencapai 3,8%: Dampak dan Prediksi Ekonomi

  • By Team
  • November 28, 2025
  • 4 views
Inflasi Australia 2025 Mencapai 3,8%: Dampak dan Prediksi Ekonomi

Lonjakan Permintaan Server AI, Jefferies Soroti 4 Saham Taiwan Paling Diuntungkan

  • By Team
  • November 27, 2025
  • 4 views
Lonjakan Permintaan Server AI, Jefferies Soroti 4 Saham Taiwan Paling Diuntungkan

Wall Street Menguat, 6 Faktor Penggerak Reli Jelang Thanksgiving

  • By Team
  • November 27, 2025
  • 5 views
Wall Street Menguat, 6 Faktor Penggerak Reli Jelang Thanksgiving

Outlook Kuat 2026: Morgan Stanley Prediksi EUR/NOK Tetap Datar

  • By Team
  • November 26, 2025
  • 5 views
Outlook Kuat 2026: Morgan Stanley Prediksi EUR/NOK Tetap Datar

Deutsche Bank Perkirakan Dolar Melemah 6% hingga 2026

  • By Team
  • November 26, 2025
  • 5 views
Deutsche Bank Perkirakan Dolar Melemah 6% hingga 2026