IHSG mencatat kenaikan 22,13% pada 2025 dan menjadi juara 3 ASEAN. Memasuki 2026, IHSG cetak rekor tertinggi dan diproyeksikan menembus level 10.000.
KabarPialang – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup tahun 2025 dengan kinerja impresif dan menempatkan diri sebagai indeks saham terbaik ketiga di kawasan Asia Tenggara. Sepanjang 2025, IHSG mencatatkan penguatan sebesar 22,13%, mencerminkan tingginya kepercayaan investor terhadap prospek pasar modal Indonesia di tengah dinamika global dan regional.
Capaian tersebut menempatkan IHSG di bawah dua bursa lain di ASEAN, yakni Vietnam dan Singapura. Meski demikian, kinerja IHSG dinilai solid karena mampu mengungguli beberapa pasar utama lain di kawasan, sekaligus menunjukkan daya tahan ekonomi domestik Indonesia.
Perbandingan Kinerja Bursa ASEAN
Vietnam dan Singapura Unggul
Bursa saham Vietnam menjadi yang paling kinclong di Asia Tenggara sepanjang 2025. VN-Index melesat hingga 38,53%, didorong oleh pertumbuhan ekonomi yang agresif, arus investasi asing, serta ekspansi sektor manufaktur dan ekspor.
Posisi kedua ditempati oleh Bursa Singapura. Straits Times Index (STI) mencatatkan kenaikan 22,91%, sedikit lebih tinggi dibandingkan IHSG. Stabilitas ekonomi, sektor keuangan yang kuat, serta posisi Singapura sebagai pusat keuangan regional menjadi penopang utama kinerja indeks tersebut.
Malaysia, Filipina, dan Thailand Tertinggal
Di bawah Indonesia, kinerja Bursa Malaysia relatif terbatas. FTSE Bursa Malaysia KLCI Index hanya naik 2,57% sepanjang 2025. Kinerja ini mencerminkan tantangan dari sisi pertumbuhan ekonomi dan sentimen investor yang cenderung berhati-hati.
Sementara itu, dua bursa lainnya justru mencatatkan kinerja negatif. Indeks PSEi di Filipina turun 7,29%, sedangkan SET Index di Thailand tertekan hingga 10,04%. Pelemahan ini menunjukkan adanya tekanan struktural dan sentimen eksternal yang belum sepenuhnya pulih di kedua negara tersebut.
Posisi Indonesia di Asia Pasifik
Jika dilihat dalam lingkup Asia Pasifik, IHSG berada di peringkat ketujuh sepanjang 2025. Bursa saham paling mencolok di kawasan ini adalah Korea Selatan, dengan KOSPI Index melonjak tajam hingga 75,63%. Lonjakan tersebut dipicu reli saham teknologi dan semikonduktor yang menjadi tulang punggung ekonomi Korea Selatan.
Selain itu, Hang Seng Index di Hong Kong naik 28,89%, sementara Nikkei 225 Jepang menguat 26,18%. Meski tidak berada di posisi teratas, kinerja IHSG tetap kompetitif dan mencerminkan stabilitas pasar Indonesia di tengah volatilitas global.
Awal 2026: IHSG Cetak Rekor Tertinggi
Memasuki awal 2026, tren penguatan IHSG masih berlanjut. Dalam tiga hari perdagangan pertama tahun ini, IHSG telah menguat 3,32% secara year to date. Pada perdagangan Selasa, 6 Januari 2026, IHSG mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah dengan berada di kisaran 8.993,6.
Penguatan ini tidak lepas dari sentimen awal tahun yang positif, di mana investor kembali masuk ke pasar saham setelah melakukan penyesuaian portofolio di akhir tahun sebelumnya. Kondisi likuiditas yang relatif longgar juga menjadi faktor pendukung reli indeks.
January Effect dan Peran Saham Lapis Dua-Tiga
Saham Basic Materials Jadi Penggerak
Menurut analis pasar, penguatan IHSG di awal 2026 turut dipengaruhi oleh fenomena January Effect. Pada periode ini, saham-saham lapis dua dan tiga cenderung bergerak lebih agresif dan memberikan kontribusi signifikan terhadap kenaikan indeks.
Sektor basic materials menjadi salah satu motor utama penguatan. Saham-saham berbasis komoditas mendapat sentimen positif dari kenaikan harga komoditas global, yang dipicu oleh eskalasi dinamika geopolitik internasional, khususnya di kawasan Amerika Latin.
Dampak Geopolitik Global
Eskalasi geopolitik global dinilai berdampak langsung pada pasar komoditas, yang kemudian memberikan efek berantai ke pasar saham Indonesia. Indonesia sebagai negara produsen komoditas diuntungkan oleh kenaikan harga tersebut, sehingga saham-saham terkait menjadi incaran investor.
Proyeksi IHSG Sepanjang 2026
Target 10.000 Masih Terbuka
Untuk keseluruhan tahun 2026, prospek IHSG dinilai masih cerah. Salah satu lembaga keuangan global memproyeksikan IHSG berpotensi menembus level psikologis 10.000. Target tersebut mencerminkan optimisme terhadap fundamental ekonomi Indonesia pasca-transisi politik 2025.
Dalam skenario dasar, IHSG diperkirakan berada di kisaran 9.100 pada akhir 2026. Sementara itu, dalam skenario optimistis, level 10.000 dinilai masih realistis apabila didukung oleh kondisi makro yang kondusif dan arus dana asing yang stabil.
Faktor Pendukung Utama
Beberapa faktor utama yang menjadi penopang proyeksi positif IHSG antara lain peningkatan belanja fiskal, baik dari anggaran negara maupun pembiayaan alternatif, yang diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi dan konsumsi domestik.
Selain itu, tren pelonggaran moneter diperkirakan berlanjut, dengan potensi penurunan suku bunga lanjutan seiring membaiknya likuiditas sistem keuangan. Defisit transaksi berjalan juga diproyeksikan tetap berada pada level yang terkendali.
Risiko yang Perlu Diwaspadai
Meski prospeknya positif, pasar tetap menghadapi sejumlah risiko. Salah satu risiko utama adalah volatilitas nilai tukar rupiah. Pelemahan rupiah yang berkelanjutan berpotensi menekan kepercayaan pelaku usaha dan konsumen, serta memicu arus keluar modal asing.
Oleh karena itu, stabilitas makroekonomi dan koordinasi kebijakan menjadi kunci agar IHSG dapat melanjutkan tren penguatannya sepanjang 2026.






