Harga minyak dunia melemah di sesi Asia. WTI turun 0,26% ke USD60,99 per barel, Brent ikut terkoreksi. Simak level support, resistance, dan prospek harga minyak terbaru.
KabarPialang – Harga futures minyak mentah tercatat lebih rendah selama sesi perdagangan Asia pada Rabu. Kontrak minyak mentah untuk penyerahan Februari di New York Mercantile Exchange diperdagangkan di level USD60,99 per barel pada saat penulisan, turun sekitar 0,26%. Pelemahan ini mencerminkan kehati-hatian pelaku pasar terhadap prospek permintaan global serta dinamika nilai tukar dolar AS.
Pergerakan harga minyak di sesi Asia cenderung terbatas, dengan volume perdagangan yang relatif lebih rendah dibandingkan sesi Eropa dan Amerika Serikat. Meski demikian, arah pergerakan di Asia sering kali menjadi indikator awal sentimen pasar menjelang perdagangan global yang lebih aktif.
Level Teknis: Support dan Resistance Minyak
Area Support Kritis
Dari sudut pandang teknikal, minyak mentah diperkirakan memiliki area support utama di kisaran USD55,89 per barel. Level ini menjadi zona penting yang berpotensi menahan tekanan jual apabila koreksi harga berlanjut. Jika level support ini ditembus, tekanan penurunan dapat meningkat dan membuka ruang pelemahan lanjutan.
Support tersebut mencerminkan area akumulasi sebelumnya, di mana minat beli biasanya mulai muncul. Oleh karena itu, pelaku pasar akan memantau pergerakan harga di sekitar level ini untuk mengukur kekuatan permintaan jangka pendek.
Resistance Terdekat
Sementara itu, resistance terdekat berada di sekitar USD61,49 per barel. Level ini menjadi batas psikologis yang cukup penting, karena kegagalan menembus area tersebut dapat memicu aksi jual lanjutan. Selama harga masih bergerak di bawah resistance, tren jangka pendek minyak mentah cenderung dianggap lemah.
Peran Dolar AS dalam Pergerakan Minyak
Indeks Dolar AS Berjangka, yang mengukur kinerja greenback terhadap enam mata uang utama dunia, tercatat turun tipis sekitar 0,03% ke level 98,93. Pelemahan dolar AS secara teori dapat memberikan dukungan bagi harga minyak, karena komoditas yang diperdagangkan dalam dolar menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lain.
Namun, pada sesi Asia kali ini, pelemahan dolar belum cukup kuat untuk mendorong harga minyak berbalik naik. Hal ini menunjukkan bahwa faktor lain, seperti kekhawatiran terhadap permintaan dan sentimen pasar global, masih lebih dominan memengaruhi pergerakan harga.
Minyak Brent Ikut Melemah
Pergerakan Harga Brent
Di pasar ICE, harga minyak Brent untuk penyerahan Maret juga tercatat melemah. Kontrak Brent turun sekitar 0,17% dan diperdagangkan di level USD65,36 per barel. Pelemahan ini sejalan dengan pergerakan minyak mentah acuan AS, meskipun skala penurunannya relatif lebih kecil.
Brent sering dianggap sebagai patokan harga minyak global, sehingga pergerakannya menjadi perhatian utama pelaku pasar internasional. Penurunan harga Brent mengindikasikan bahwa tekanan jual tidak hanya terjadi pada minyak mentah AS, tetapi juga di pasar global.
Spread Brent dan Minyak Mentah
Spread antara kontrak minyak Brent dan minyak mentah AS tercatat berada di kisaran USD4,37 per barel. Selisih harga ini mencerminkan perbedaan kondisi pasokan dan permintaan di masing-masing pasar. Spread yang relatif stabil menunjukkan bahwa pasar belum melihat adanya perubahan signifikan dalam keseimbangan global minyak.
Sentimen Pasar dan Faktor Fundamental
Kekhawatiran Permintaan Global
Salah satu faktor utama yang menekan harga minyak adalah kekhawatiran terhadap prospek permintaan global. Perlambatan pertumbuhan ekonomi di beberapa kawasan membuat pelaku pasar bersikap lebih defensif. Permintaan energi yang lebih lemah berpotensi membatasi kenaikan harga minyak dalam jangka pendek.
Selain itu, pasar juga mencermati data ekonomi utama dari negara-negara konsumen minyak terbesar. Indikasi pelemahan aktivitas industri atau konsumsi energi dapat memperkuat tekanan terhadap harga.
Pasokan dan Kebijakan Energi
Di sisi pasokan, pasar terus memantau kebijakan produksi dari negara-negara produsen utama. Setiap sinyal peningkatan atau pengetatan pasokan dapat memicu reaksi harga yang cukup cepat. Namun, pada sesi Asia ini, pasar tampak belum mendapatkan katalis baru yang cukup kuat untuk mengubah arah pergerakan.
Prospek Harga Minyak ke Depan
Pergerakan Jangka Pendek
Dalam jangka pendek, harga minyak diperkirakan akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan konsolidasi. Level support dan resistance menjadi acuan utama bagi pelaku pasar dalam menentukan strategi perdagangan. Selama harga bertahan di atas support, peluang rebound teknikal tetap terbuka.
Strategi Investor
Investor dan trader cenderung mengadopsi pendekatan yang lebih hati-hati, mengingat volatilitas pasar energi yang masih cukup tinggi. Manajemen risiko menjadi kunci, terutama dalam menghadapi ketidakpastian terkait permintaan global dan pergerakan dolar AS.





