Harga Minyak Naik 0,59%, Optimisme Deal AS–China Bikin Pasar Energi Makin Panas

Harga minyak dunia naik 0,59% ke US$61,36 per barel seiring optimisme kesepakatan dagang AS–China yang memicu prospek permintaan energi global.

KabarPialang – Harga minyak mentah kembali bergairah! Pada Senin (27/10/2025), harga minyak dunia terpantau menguat setelah muncul kabar mesra antara dua raksasa ekonomi dunia: Amerika Serikat dan China.
Yup, hubungan dagang yang sempat tegang bak sinetron prime time kini mulai adem—dan pasar minyak langsung senyum lebar.

Menurut data Bloomberg, minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) kontrak Desember 2025 naik 0,59% atau 0,36 poin ke level US$61,36 per barel pada pukul 07.47 WIB.
Sementara itu, minyak patokan dunia Brent ikut merangkak naik 0,56% atau 0,37 poin ke level US$66,31 per barel.
Kenaikan tipis, tapi lumayan lah, daripada nyungsep seperti pekan lalu.

Diplomasi Dagang Bikin Harga Minyak Melejit

Kabar baiknya datang dari meja negosiasi antara Washington dan Beijing.
Para negosiator utama kedua negara mengatakan mereka telah mencapai kesepakatan awal dalam sejumlah isu penting—membuka jalan bagi pertemuan dua bos besar dunia: Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping, yang kabarnya bakal menandatangani “deal damai dagang” pada Kamis mendatang.

Dalam wawancara dengan CBS News, Menteri Keuangan AS Scott Bessent bilang bahwa ancaman tarif 100% terhadap produk asal China sudah “tidak relevan lagi” setelah perjanjian ini mendekati final.
Bahasa halusnya: “kita damai dulu deh, capek perang dagang terus.”
Pasar langsung nangkep sinyal itu dan—voilà!—harga minyak pun ikut menanjak.

Sentimen Positif Global

AS dan China itu ibarat dua mesin raksasa dunia. Kalau dua-duanya ngambek, ekonomi global bisa langsung flu berat. Tapi kalau mereka baikan, ya seperti sekarang: investor kembali optimis, pelaku pasar semangat, dan harga komoditas mulai naik pelan-pelan.

Optimisme ini bikin para pedagang minyak berani ambil posisi beli lagi, setelah sebelumnya was-was karena konflik geopolitik dan perang tarif yang tak kunjung usai.

Rebound Setelah 5 Bulan Merana

Harga minyak sempat jatuh ke posisi terendah dalam lima bulan terakhir.
Tapi minggu lalu, pasar mulai menanjak lagi karena sanksi AS terhadap dua produsen minyak besar Rusia, yaitu Rosneft PJSC dan Lukoil PJSC.
Sanksi ini membuat pasokan global agak seret, tapi justru menyeimbangkan kekhawatiran soal kelebihan suplai yang sebelumnya bikin harga loyo.

Beberapa negara pembeli utama minyak Rusia seperti India dan China mulai menahan impor mereka. Artinya, mereka bakal cari minyak dari sumber lain—dan itu otomatis mendongkrak permintaan untuk minyak non-Rusia, seperti WTI dan Brent.

Analis: Deal Dagang Lebih Manjur daripada Sanksi

Menurut Vandana Hari, pendiri Vanda Insights, euforia pasar kali ini lebih banyak disumbang oleh kabar damainya AS dan China, bukan semata efek sanksi Rusia.
“Harapan akan tercapainya kesepakatan dagang dalam waktu dekat memberikan dorongan positif bagi sentimen ekonomi dan permintaan minyak,” katanya dikutip dari Bloomberg.

Namun, Vandana juga mengingatkan jangan terlalu baper dengan kenaikan ini. Surplus pasokan global masih jadi PR besar.
Menurutnya, harga Brent kemungkinan tetap main aman di kisaran atas US$60-an per barel, alias naiknya terbatas tapi stabil.

Sanksi Rusia: Ganggu, tapi Nggak Parah

Pemerintah AS menegaskan bahwa sanksi terhadap perusahaan minyak Rusia bukan ditujukan buat bikin harga melonjak, tapi untuk menekan pendapatan Rusia yang masih terlibat dalam perang di Ukraina.
Dengan langkah ini, Washington berharap bisa “menyulitkan” perdagangan minyak Rusia—membuatnya lebih mahal dan berisiko, tapi tanpa bikin pasokan dunia kolaps.

Beberapa kilang di India bahkan memperkirakan impor minyak Rusia bakal turun mendekati nol dalam waktu dekat, sedangkan pembeli dari China juga menunda sebagian transaksi.
Tapi jangan khawatir, pasar minyak global masih punya banyak stok dan sumber alternatif. Jadi, belum ada tanda-tanda “krisis minyak jilid dua”.

Prospek ke Depan: Optimis tapi Tetap Waspada

Kenaikan harga minyak kali ini memang disambut gembira. Tapi para analis mengingatkan, jangan langsung berharap harga bakal tembus US$80-an lagi seperti masa kejayaan 2022.
Pasar masih sensitif terhadap banyak faktor: pertumbuhan ekonomi global, keputusan OPEC+, hingga cuaca ekstrem yang bisa mengganggu produksi.

Yang jelas, deal dagang AS–China ini jadi booster moral yang manjur banget untuk pasar energi.
Apalagi setelah berbulan-bulan dunia disuguhi berita negatif—mulai dari inflasi tinggi, perang, sampai produksi OPEC+ yang ogah turun.
Sekarang setidaknya ada secercah harapan (dan senyum di wajah para trader minyak).

Harga minyak dunia naik 0,59% dipicu optimisme kesepakatan dagang AS–China yang meredakan ketegangan global.
WTI tembus US$61,36 per barel, Brent US$66,31 per barel.
Pasar masih hati-hati, tapi setidaknya kali ini—berita bagus menang dari drama perang dagang.

Related Posts

Regulasi Data Kripto 2026, Ini Respons Pelaku Industri

Pelaku kripto nilai regulasi pertukaran data 2026 tak berdampak besar bagi industri, namun lebih mempengaruhi e-money dan perbankan. KabarPialang – Industri aset kripto di Indonesia kembali menjadi pembahasan utama setelah pemerintah…

Bitcoin Anjlok ke US$93.714, Reli 2025 Lenyap dalam 30 Hari

Harga Bitcoin jatuh ke US$93.714 dan menghapus seluruh reli sepanjang 2025. Pasar kripto memasuki fase risk-off setelah minat institusi melemah, aksi jual meningkat, dan sentimen global menurun. KabarPialang – Harga Bitcoin…

One thought on “Harga Minyak Naik 0,59%, Optimisme Deal AS–China Bikin Pasar Energi Makin Panas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You Missed

PHK Perusahaan Eropa 2025: Dampak Ekonomi Lesu

  • By Team
  • November 28, 2025
  • 2 views
PHK Perusahaan Eropa 2025: Dampak Ekonomi Lesu

Inflasi Australia 2025 Mencapai 3,8%: Dampak dan Prediksi Ekonomi

  • By Team
  • November 28, 2025
  • 4 views
Inflasi Australia 2025 Mencapai 3,8%: Dampak dan Prediksi Ekonomi

Lonjakan Permintaan Server AI, Jefferies Soroti 4 Saham Taiwan Paling Diuntungkan

  • By Team
  • November 27, 2025
  • 4 views
Lonjakan Permintaan Server AI, Jefferies Soroti 4 Saham Taiwan Paling Diuntungkan

Wall Street Menguat, 6 Faktor Penggerak Reli Jelang Thanksgiving

  • By Team
  • November 27, 2025
  • 5 views
Wall Street Menguat, 6 Faktor Penggerak Reli Jelang Thanksgiving

Outlook Kuat 2026: Morgan Stanley Prediksi EUR/NOK Tetap Datar

  • By Team
  • November 26, 2025
  • 4 views
Outlook Kuat 2026: Morgan Stanley Prediksi EUR/NOK Tetap Datar

Deutsche Bank Perkirakan Dolar Melemah 6% hingga 2026

  • By Team
  • November 26, 2025
  • 5 views
Deutsche Bank Perkirakan Dolar Melemah 6% hingga 2026