Harga Minyak Anjlok 1,42% di Asia: Tekanan Market Semakin Kuat Jelang Akhir Pekan

Harga minyak mentah turun 1,42% di sesi Asia. WTI jatuh ke $58,16 per barel sementara Brent melemah ke $62,56. Sentimen pasar tetap bearish.

KabarPialang – Harga minyak mentah kembali mengalami pelemahan tajam pada sesi perdagangan Asia, Jumat, melanjutkan tekanan yang sudah berlangsung sepanjang pekan. Sejumlah faktor fundamental global terus membebani sentimen pasar, mulai dari prospek permintaan yang melemah, ketidakpastian kebijakan moneter Amerika Serikat, hingga absennya dukungan dari kebijakan produksi OPEC+. Kondisi ini membuat investor semakin berhati-hati menjelang penutupan pekan perdagangan.

Pada perdagangan di New York Mercantile Exchange (NYMEX), West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Januari melemah 1,42% ke level $58,16 per barel. Penurunan ini menjadi salah satu koreksi harian signifikan dalam dua pekan terakhir, menandakan pasar masih berada dalam fase tekanan struktural. Dengan pelemahan bertahap yang terjadi empat hari berturut-turut, pelaku pasar menilai bahwa tren bearish masih menang kuat atas potensi rebound jangka pendek.

WTI di Area Kritis: Support $58,16 Jadi Penentu Tren Jangka Pendek

Level $58,16 kini menjadi titik krusial bagi WTI. Tidak hanya berfungsi sebagai harga perdagangan saat ini, tetapi juga menjadi garis pertahanan utama dari tekanan jual lanjutan. Jika harga menembus level ini dan bertahan di bawahnya, pasar berpotensi membuka ruang penurunan menuju area $57,00 hingga $55,00 per barel.

Sejumlah analis juga menyoroti bahwa resistance kuat berada di $60,85, level yang sudah berulang kali menjadi batas atas pergerakan WTI selama dua minggu terakhir. Setiap kali harga mencoba rebound mendekati area tersebut, tekanan jual kembali meningkat sehingga menyebabkan harga kembali terkoreksi. Tanpa adanya katalis fundamental yang kuat—misalnya perubahan kebijakan produksi OPEC+ atau data ekonomi AS yang sangat positif—harga minyak dinilai sulit kembali bergerak stabil di atas $61 per barel.

Dolar Stabil, Tapi Memberi Tekanan Tambahan

Meski Indeks Dolar AS (DXY) tercatat stabil di level $100,09, ketenangan ini bukan berarti pasar aman. Dolar yang cenderung kuat dalam beberapa sesi terakhir telah memberikan tekanan signifikan bagi komoditas berdenominasi USD seperti minyak mentah. Ketika dolar menguat, minyak menjadi relatif lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain, sehingga permintaan global berpotensi menurun.

Stabilnya dolar juga membuat pergerakan pasar komoditas lain ikut terbatas. Hal ini terlihat pada harga logam mulia dan logam industri yang bergerak cenderung sideways. Dengan minimnya dorongan dari pasar valuta dan komoditas lain, harga minyak semakin sulit mencetak rebound berkelanjutan.

Brent Ikut Tertekan, Spread Masih Lebar

Di bursa ICE Futures, minyak Brent untuk pengiriman Januari juga turun 1,29% ke $62,56 per barel. Spread antara Brent dan WTI tetap berada di kisaran $4,40, mencerminkan keseimbangan struktur harga global saat ini.

Pelemahan Brent memperlihatkan bahwa tekanan harga tidak hanya terjadi di pasar AS tetapi juga di pasar global. Ini menjadi indikasi bahwa faktor fundamental global—bukan faktor domestik AS semata—yang sedang membentuk tren bearish minyak dunia.

Sentimen Bearish Didominasi Tiga Faktor Utama

1. Prospek Permintaan Global Melemah

Beberapa negara Asia menunjukkan perlambatan pemulihan ekonomi, termasuk Tiongkok yang kini menghadapi tantangan konsumsi domestik, serta Jepang yang belum stabil dari sisi output industri. Di Eropa, permintaan energi juga tertekan akibat inflasi yang masih tinggi dan aktivitas manufaktur yang belum pulih.

2. Stok Minyak AS Meningkat

Data terbaru dari Energy Information Administration (EIA) mencatat kenaikan persediaan minyak mentah AS. Hal ini menunjukkan bahwa permintaan bahan bakar belum kembali ke level ideal. Kenaikan stok selalu menjadi indikator bearish, karena mengindikasikan pasokan yang lebih tinggi dari kebutuhan.

3. Minimnya Dorongan dari OPEC+

Hingga saat ini, OPEC+ belum memberikan sinyal tegas apakah akan memperpanjang atau memperdalam kebijakan pemangkasan produksi. Ketidakpastian ini membuat investor menunda pengambilan posisi beli. Tanpa dukungan kebijakan, harga minyak cenderung mengikuti arah fundamental permintaan dan persediaan.

Fokus Pasar: Data Ekonomi AS dan Kebijakan OPEC+

Saat ini, pelaku pasar mengalihkan fokus kepada dua faktor kunci yang dianggap dapat menjadi pemicu pergerakan signifikan:

• Data tenaga kerja dan inflasi AS

Jika data menunjukkan pelemahan ekonomi yang tajam, pasar minyak bisa semakin tertekan. Namun, jika inflasi turun cukup signifikan, pasar mungkin menilai ada ruang bagi The Fed untuk melonggarkan suku bunga, yang berpotensi mendukung harga minyak.

• Pernyataan OPEC+

Jika OPEC+ mengumumkan potensi pemangkasan produksi lanjutan, ini bisa menjadi katalis kuat bagi harga minyak untuk rebound dalam jangka pendek. Namun tanpa sinyal tersebut, pasar kemungkinan besar akan tetap berada dalam tren turun.

Tekanan Bearish Masih Dominan

Pergerakan harga minyak mentah pada sesi Asia hari ini menegaskan bahwa pasar masih dikuasai tekanan bearish. WTI berada di area kritis $58,16, sedangkan Brent bergerak mendekati $62. Jika tidak ada dukungan dari kebijakan OPEC maupun data ekonomi AS yang positif, harga minyak berpotensi terus melemah dalam waktu dekat.

Dengan banyaknya faktor negatif yang menumpuk, peluang rebound masih terlihat sangat terbatas. Pasar tampaknya masih membutuhkan katalis besar sebelum tren minyak dapat berbalik.

Related Posts

Lonjakan Permintaan Server AI, Jefferies Soroti 4 Saham Taiwan Paling Diuntungkan

Jefferies memproyeksikan lonjakan server AI global dan menilai empat produsen Taiwan—Foxconn, Wiwynn, Quanta, Wistron akan jadi penerima manfaat utama. KabarPialang – Permintaan server AI global terus meningkat seiring pesatnya adopsi kecerdasan…

Wall Street Anjlok 2%: Data Ketenagakerjaan AS Picu Kekhawatiran Investor

Wall Street merosot tajam setelah data ketenagakerjaan AS memicu kekhawatiran arah kebijakan The Fed. Simak faktor pemicunya. KabarPialang – Bursa saham Amerika Serikat kembali mengalami tekanan tajam pada Kamis (20/11), setelah…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You Missed

PHK Perusahaan Eropa 2025: Dampak Ekonomi Lesu

  • By Team
  • November 28, 2025
  • 2 views
PHK Perusahaan Eropa 2025: Dampak Ekonomi Lesu

Inflasi Australia 2025 Mencapai 3,8%: Dampak dan Prediksi Ekonomi

  • By Team
  • November 28, 2025
  • 4 views
Inflasi Australia 2025 Mencapai 3,8%: Dampak dan Prediksi Ekonomi

Lonjakan Permintaan Server AI, Jefferies Soroti 4 Saham Taiwan Paling Diuntungkan

  • By Team
  • November 27, 2025
  • 4 views
Lonjakan Permintaan Server AI, Jefferies Soroti 4 Saham Taiwan Paling Diuntungkan

Wall Street Menguat, 6 Faktor Penggerak Reli Jelang Thanksgiving

  • By Team
  • November 27, 2025
  • 5 views
Wall Street Menguat, 6 Faktor Penggerak Reli Jelang Thanksgiving

Outlook Kuat 2026: Morgan Stanley Prediksi EUR/NOK Tetap Datar

  • By Team
  • November 26, 2025
  • 4 views
Outlook Kuat 2026: Morgan Stanley Prediksi EUR/NOK Tetap Datar

Deutsche Bank Perkirakan Dolar Melemah 6% hingga 2026

  • By Team
  • November 26, 2025
  • 5 views
Deutsche Bank Perkirakan Dolar Melemah 6% hingga 2026