Harga emas dunia melonjak 0,7% ke US$4.005 akibat shutdown pemerintah AS. Dolar melemah, investor beralih ke aset safe-haven seperti emas dan perak di tengah ketidakpastian.
KabarPialang – Harga emas dunia menguat pada perdagangan Jumat (7/11/2025), didorong oleh melemahnya dolar AS dan meningkatnya permintaan terhadap aset aman atau safe-haven. Kondisi ini terjadi di tengah ketidakpastian ekonomi global yang kian meningkat akibat berlarutnya penutupan sebagian pemerintahan Amerika Serikat (government shutdown).
Dolar Melemah, Emas Makin Bersinar
Mengutip laporan Reuters, Senin (10/11/2025), harga spot gold naik 0,7% menjadi US$4.005,21 per troy ounce, sedangkan emas berjangka di bursa COMEX menguat 0,5% ke US$4.009,80.
Logam mulia lain juga ikut menguat: perak naik 0,9% menjadi US$48,41, platinum naik tipis 0,1% ke US$1.543,00, dan palladium naik 1,5% ke US$1.395,49 per troy ounce.
Pelemahan dolar AS menjadi katalis utama kenaikan harga emas. Melemahnya greenback membuat emas—yang diperdagangkan dalam denominasi dolar—menjadi lebih murah bagi investor yang memegang mata uang lain. Akibatnya, permintaan terhadap logam mulia melonjak di berbagai bursa internasional.
“Pergerakan harga terbaru secara teknikal menunjukkan adanya potensi terbentuknya level dasar bagi harga emas dan perak,” ujar Jim Wyckoff, Analis Senior di Kitco Metals.
Wyckoff menambahkan bahwa tren ini berpotensi berlanjut selama sentimen risiko global masih negatif dan dolar AS belum menemukan momentum penguatannya kembali.
Shutdown Pemerintah AS Jadi Pemicu
Faktor utama yang mendorong lonjakan harga emas adalah ketidakpastian akibat penutupan sebagian pemerintahan AS. Konflik politik antara Kongres dan Gedung Putih mengenai anggaran memaksa sejumlah lembaga federal menghentikan operasionalnya.
Penutupan ini juga menunda publikasi sejumlah data ekonomi penting, termasuk laporan tenaga kerja bulanan yang biasa menjadi acuan kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed).
Keterlambatan data tersebut membuat pelaku pasar kehilangan panduan dalam memprediksi arah kebijakan suku bunga. Akibatnya, banyak investor memilih keluar dari aset berisiko seperti saham dan obligasi, lalu beralih ke aset aman seperti emas, perak, dan logam mulia lainnya.
“Ketidakpastian fiskal dan politik di AS menambah tekanan pada dolar. Emas kembali menjadi aset pelindung nilai yang paling dicari,” kata analis pasar komoditas dari Saxo Bank, Ole Hansen.
The Fed Dihadapkan pada Dilema Baru
Sementara itu, kebijakan moneter The Fed masih menjadi faktor penting yang diawasi investor. Dengan inflasi yang cenderung melandai dan pertumbuhan ekonomi melambat, ekspektasi terhadap pemangkasan suku bunga pada paruh pertama 2026 semakin menguat.
Namun, shutdown berkepanjangan berpotensi mengganggu data ekonomi dan memperumit keputusan The Fed. Kondisi ini semakin menambah ketidakpastian pasar.
“Shutdown menunda data kunci seperti nonfarm payrolls dan inflasi, sehingga The Fed kekurangan panduan untuk menentukan langkah selanjutnya. Ini memberi ruang bagi emas untuk terus menguat,” ujar Wyckoff menambahkan.
China dan India Turut Jadi Faktor Pendukung
Selain faktor AS, dinamika global juga memperkuat harga emas. Dari China, pemerintah dilaporkan sedang menyiapkan sistem lisensi ekspor baru untuk logam tanah jarang (rare earth). Langkah ini bertujuan mempercepat pengiriman, namun diperkirakan tidak akan sepenuhnya mencabut pembatasan yang diharapkan Washington. Kebijakan tersebut menimbulkan kekhawatiran baru terhadap rantai pasok global dan memperkuat permintaan aset aman.
Dari India, negara konsumen emas terbesar kedua dunia, permintaan fisik masih relatif lesu. Harga emas yang berfluktuasi tajam membuat para dealer menawarkan diskon besar untuk menarik pembeli. Meski demikian, analis menilai minat jangka panjang tetap kuat, terutama menjelang musim pernikahan di akhir tahun.
Investor Global Kembali ke Mode Aman
Kenaikan harga emas juga mencerminkan perubahan sikap investor global yang kini kembali ke mode defensif. Seiring naiknya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, serta perlambatan ekonomi di Eropa dan Jepang, emas menjadi pilihan utama untuk melindungi portofolio dari volatilitas pasar.
Selain emas, aset safe-haven lain seperti perak dan obligasi pemerintah AS juga mencatatkan peningkatan permintaan yang signifikan.
Analis menilai tren ini bisa berlanjut hingga akhir tahun, terutama jika ketegangan politik di AS tak segera mereda.
Prediksi Harga Emas ke Depan
Menurut proyeksi Goldman Sachs, harga emas berpotensi menembus US$5.000 per troy ounce pada tahun 2026 jika ketidakpastian global terus berlanjut dan The Fed benar-benar memangkas suku bunga.
“Tren jangka menengah masih positif. Selama shutdown AS berlangsung dan dolar belum stabil, harga emas berpeluang menuju level tertinggi baru,” ujar Wyckoff menegaskan.
Dengan kombinasi faktor teknikal dan fundamental tersebut, pasar emas tampak semakin solid dalam mempertahankan momentum kenaikannya di tengah situasi ekonomi yang penuh ketidakpastian.
Lonjakan harga emas dunia kali ini bukan hanya akibat pelemahan dolar, tetapi juga mencerminkan kegelisahan pasar terhadap arah ekonomi AS dan global. Dengan shutdown pemerintah yang belum berakhir, suku bunga yang berpotensi turun, dan risiko geopolitik yang meningkat, investor tampaknya belum akan meninggalkan emas sebagai aset lindung nilai utama.







