KabarPialang – Harga emas anjlok tajam setelah pernyataan Presiden AS Donald Trump soal tarif China. Penguatan dolar dan ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed turut menekan logam mulia.
1. Harga Emas Anjlok di Tengah Pernyataan Trump
Harga emas anjlok tajam pada akhir perdagangan Jumat (17/10) setelah komentar mengejutkan dari Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, terkait tarif terhadap China.
Pernyataan tersebut membuat pasar bereaksi cepat, menekan harga logam mulia dan memperkuat nilai Dolar AS.
Dilansir dari Reuters, Senin (20/10), harga emas spot turun 2,6% menjadi US$4.211,48, sementara emas berjangka ditutup melemah 2,1% ke level US$4.213,30.
Penurunan ini menjadi salah satu yang paling tajam dalam beberapa pekan terakhir dan menunjukkan seberapa sensitif pasar terhadap dinamika geopolitik.
Trump menyebut bahwa tarif penuh terhadap barang-barang asal China tidak realistis dalam jangka panjang, yang diartikan investor sebagai sinyal potensi peredaan tensi dagang. Namun ironisnya, hal ini justru memicu penguatan dolar karena investor beralih ke aset berbasis mata uang AS.
2. Dolar AS Menguat, Tekan Harga Emas Dunia
Kenaikan dolar menjadi faktor utama di balik harga emas anjlok kali ini.
Penguatan greenback membuat emas — yang dihargai dalam dolar — menjadi lebih mahal bagi pembeli luar negeri. Akibatnya, permintaan emas di pasar global melemah tajam.
Indeks Dolar (DXY) tercatat naik 0,35% pada perdagangan Jumat, didorong oleh pandangan optimistis terhadap stabilitas ekonomi AS menjelang pertemuan Federal Reserve.
Dengan dolar yang terus menguat, harga logam mulia cenderung tertekan karena kehilangan daya tarik sebagai lindung nilai inflasi (inflation hedge).
Banyak analis memperingatkan bahwa selama dolar mempertahankan momentum penguatannya, emas akan sulit menembus kembali level psikologis di atas US$4.300 per ons.
3. Logam Mulia Lainnya Turut Tertekan
Kejatuhan emas tidak berdiri sendiri. Perak spot anjlok 5,6% ke US$51,20, Platinum merosot 6,1% ke US$1.607,85, dan Palladium jatuh 7,9% ke US$1.485,50.
Tekanan pada seluruh logam mulia ini mencerminkan adanya rotasi aset besar-besaran dari safe haven ke aset berisiko, seperti saham dan obligasi korporasi.
Analis Logam Independen, Tai Wong, mengatakan, “Sikap Trump yang lebih berdamai sejak pengumuman awal tarif telah mengurangi tekanan panas dalam perdagangan logam mulia.”
Menurutnya, investor kini menilai peluang penurunan harga masih terbuka jika ketegangan dagang terus mereda dan dolar tetap kuat.
Fenomena ini juga memperlihatkan bahwa pasar mulai menyesuaikan ekspektasi terhadap risiko geopolitik global. Saat tensi mereda, minat terhadap aset aman seperti emas dan perak pun menurun.
4. Komentar Trump Bikin Pasar Reaktif
Donald Trump mengonfirmasi akan bertemu Presiden China Xi Jinping di Korea Selatan untuk melanjutkan dialog dagang.
Pernyataan ini disambut positif oleh pelaku pasar karena dianggap dapat menghindari eskalasi lebih lanjut dalam perang tarif antara dua ekonomi terbesar dunia.
Namun, di sisi lain, komentar tersebut menimbulkan efek domino. Investor yang sebelumnya berlindung pada emas mulai melakukan aksi ambil untung (profit-taking), yang memperparah pelemahan harga logam mulia.
“Pasar emas sangat sensitif terhadap sentimen geopolitik,” kata Wong. “Begitu risiko politik turun, minat terhadap emas juga langsung surut.”
Kondisi ini menunjukkan bagaimana satu pernyataan politik dari pejabat tinggi dunia dapat mengguncang pasar global dalam hitungan jam — fenomena klasik di era informasi cepat.
5. Prediksi The Fed: Suku Bunga Siap Dipangkas
Selain faktor geopolitik, kebijakan The Federal Reserve (The Fed) juga menjadi sorotan utama.
Bank sentral AS diperkirakan akan memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada Oktober dan Desember mendatang.
Pemangkasan suku bunga biasanya menjadi sentimen positif bagi emas karena menurunkan biaya peluang (opportunity cost) untuk memegang aset tanpa imbal hasil.
Namun, kali ini efeknya tidak terlalu terasa karena pasar lebih fokus pada penguatan dolar yang menekan harga logam mulia secara langsung.
Analis memperkirakan bahwa jika The Fed benar-benar menurunkan suku bunga dua kali lagi tahun ini, harga emas bisa kembali stabil dalam jangka menengah. Namun, untuk sementara, tekanan masih mendominasi.
Harga Emas Masih Rentan Tekanan Global
Penurunan tajam yang membuat harga emas anjlok pekan ini menunjukkan betapa sensitifnya pasar terhadap kombinasi faktor politik dan moneter.
Pernyataan Trump, penguatan dolar, serta ekspektasi terhadap kebijakan The Fed semuanya memainkan peran besar dalam menggerakkan harga logam mulia.
Dalam jangka pendek, harga emas diperkirakan bergerak dalam rentang US$4.180–US$4.250 per ons, dengan volatilitas tinggi mengikuti perkembangan hubungan dagang AS-China.
Investor disarankan untuk tetap berhati-hati dan memantau arah pergerakan dolar, karena penguatan lebih lanjut dapat menahan pemulihan emas.
Bagi investor jangka panjang, tekanan harga saat ini bisa menjadi peluang akumulasi, terutama jika kebijakan moneter global mulai longgar dan risiko geopolitik kembali meningkat.







