Futures gas alam naik 0,68% ke USD3,96 per mmBTU di sesi AS, didukung sentimen energi, pergerakan minyak mentah, dan dinamika dolar AS.
KabarPialang – Harga futures gas alam bergerak lebih tinggi selama masa perdagangan Amerika Serikat pada Selasa. Kenaikan ini mencerminkan meningkatnya minat investor terhadap sektor energi di tengah fluktuasi pasar global dan dinamika permintaan musiman. Gas alam kembali menjadi perhatian karena perannya yang krusial dalam bauran energi, baik untuk kebutuhan rumah tangga maupun industri.
Di New York Mercantile Exchange (NYMEX), kontrak futures gas alam untuk penyerahan Februari diperdagangkan di level USD3,96 per mmBTU, menguat 0,68% pada saat penulisan. Pergerakan ini menandai pemulihan moderat setelah volatilitas yang terjadi dalam beberapa sesi sebelumnya, sekaligus menunjukkan sentimen pasar yang mulai stabil.
Pergerakan Harga dan Level Teknis
Area Support dan Resistance
Dari sisi teknikal, gas alam menunjukkan struktur harga yang relatif seimbang. Level support diperkirakan berada di kisaran USD3,727 per mmBTU, area yang sebelumnya mampu menahan tekanan jual. Jika harga kembali melemah, zona ini berpotensi menjadi pijakan utama bagi pembeli.
Sementara itu, level resistance berada di sekitar USD4,325 per mmBTU. Area ini menjadi tantangan penting bagi gas alam untuk melanjutkan tren penguatan. Penembusan resistance secara konsisten dapat membuka peluang reli lanjutan, terutama jika didukung sentimen fundamental yang kuat.
Volatilitas Tetap Terjaga
Gas alam dikenal sebagai salah satu komoditas dengan volatilitas tinggi. Pergerakan harga yang cepat dalam satu sesi perdagangan mencerminkan sensitivitas pasar terhadap perubahan cuaca, proyeksi permintaan energi, serta kondisi pasokan. Hal ini membuat trader jangka pendek dan spekulan tetap aktif memanfaatkan peluang pergerakan harga.
Peran Dolar AS dalam Pergerakan Gas Alam
Indeks Dolar AS Berjangka, yang mengukur kinerja greenback terhadap enam mata uang utama dunia, tercatat naik 0,12% ke level 97,85. Penguatan dolar umumnya memberikan tekanan terhadap harga komoditas berdenominasi dolar, termasuk gas alam.
Namun dalam sesi ini, gas alam tetap mampu mencatat kenaikan meskipun dolar bergerak lebih kuat. Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa faktor fundamental energi, seperti ekspektasi permintaan dan pergerakan komoditas terkait, lebih dominan dibandingkan efek nilai tukar. Investor tampaknya masih melihat gas alam memiliki daya tarik tersendiri di tengah dinamika pasar energi global.
Minyak Mentah dan Heating Oil Ikut Menguat
Minyak Mentah Naik Tipis
Di pasar energi lainnya, minyak mentah di NYMEX untuk penyerahan Februari tercatat naik 0,15% ke level USD57,99 per barel. Kenaikan tipis ini menunjukkan stabilitas harga minyak di tengah ketidakpastian permintaan global dan faktor geopolitik.
Pergerakan minyak mentah sering kali memengaruhi sentimen di pasar gas alam. Meski keduanya memiliki karakteristik pasar yang berbeda, kenaikan minyak dapat memberikan dukungan psikologis bagi sektor energi secara keseluruhan.
Heating Oil Menguat 1,00%
Selain minyak mentah, heating oil untuk penyerahan Februari juga mencatat kenaikan yang lebih signifikan, yakni 1,00% ke level USD2,15 per galon. Penguatan heating oil sering dikaitkan dengan meningkatnya kebutuhan energi untuk pemanas, terutama pada periode cuaca dingin.
Kenaikan heating oil turut memperkuat pandangan bahwa permintaan energi masih relatif solid. Hal ini memberikan sentimen positif tambahan bagi gas alam, yang juga banyak digunakan untuk kebutuhan pemanas dan pembangkit listrik.
Faktor Fundamental yang Mempengaruhi Gas Alam
Permintaan Musiman dan Industri
Gas alam sangat dipengaruhi oleh faktor musiman. Pada periode tertentu, kebutuhan untuk pemanas rumah tangga dan pembangkit listrik meningkat, sehingga mendorong permintaan. Selain itu, sektor industri juga berkontribusi signifikan terhadap konsumsi gas alam, menjadikannya komoditas strategis dalam perekonomian modern.
Ekspektasi Pasar Energi
Pelaku pasar terus mencermati keseimbangan antara pasokan dan permintaan. Setiap perubahan kecil dalam proyeksi produksi atau konsumsi dapat memicu reaksi harga yang cukup besar. Oleh karena itu, gas alam kerap menjadi incaran trader yang mencari peluang dari pergerakan harga jangka pendek.
Prospek Gas Alam ke Depan
Ke depan, harga gas alam diperkirakan akan tetap bergerak dinamis dengan kecenderungan konsolidasi selama belum ada katalis besar yang mendorong breakout. Selama harga mampu bertahan di atas level support utama, peluang penguatan lanjutan masih terbuka.
Namun, investor juga perlu mewaspadai potensi koreksi apabila tekanan eksternal meningkat, seperti penguatan dolar yang lebih agresif atau perubahan sentimen di pasar energi global. Dengan volatilitas yang masih tinggi, gas alam tetap menjadi komoditas menarik bagi pelaku pasar yang siap mengelola risiko dan memanfaatkan momentum.






