Futures minyak mentah turun 0,02% di sesi Asia pada Selasa. Simak analisis lengkap harga minyak mentah dunia, pergerakan dolar AS, serta prospek harga minyak Brent dan WTI terkini.
KabarPialang – Futures minyak mentah tercatat melemah selama perdagangan di sesi Asia pada Selasa (28/10/2025). Pergerakan ini terjadi di tengah sikap hati-hati pelaku pasar menjelang rilis data persediaan minyak mentah Amerika Serikat (AS) yang dapat menjadi petunjuk arah harga jangka pendek.
Pada New York Mercantile Exchange (NYMEX), kontrak minyak mentah untuk pengiriman Desember diperdagangkan di level USD61,30 per barel, turun sekitar 0,02% dibandingkan penutupan sesi sebelumnya. Meskipun penurunan ini tergolong tipis, pergerakan harga tersebut mencerminkan minimnya minat beli baru di tengah ketidakpastian permintaan energi global.
Instrumen berjangka ini sempat menyentuh posisi terendah harian di sekitar USD61 per barel, dengan analis memperkirakan area support terdekat di USD59,64 dan resistance kuat di sekitar USD62,59. Posisi ini menandakan bahwa pasar masih berupaya mencari arah yang lebih jelas sebelum rilis laporan fundamental penting.
Analisis Teknis Harga Minyak Mentah
Secara teknikal, futures minyak mentah menunjukkan pola konsolidasi jangka pendek. Volume perdagangan cenderung stabil dengan volatilitas rendah, menandakan bahwa pelaku pasar lebih banyak menunggu sinyal fundamental baru.
Indikator Moving Average (MA-20) masih memperlihatkan arah mendatar, mengonfirmasi tren netral yang sudah berlangsung selama beberapa sesi terakhir. Sementara itu, Relative Strength Index (RSI) mendekati level 50, menandakan belum adanya tekanan beli atau jual yang dominan di pasar.
Beberapa analis memperkirakan, jika harga mampu bertahan di atas USD61, peluang penguatan jangka pendek bisa terbuka menuju area USD62,50. Namun, apabila tekanan jual meningkat akibat data persediaan yang menunjukkan kelebihan pasokan, harga berpotensi kembali menguji area support di bawah USD60 per barel.
Tren teknikal ini memperlihatkan kondisi pasar yang relatif seimbang antara pembeli dan penjual. Dalam jangka menengah, arah harga futures minyak mentah masih sangat bergantung pada faktor makroekonomi global, termasuk kebijakan produksi dari negara-negara anggota OPEC+.
Pengaruh Dolar AS terhadap Minyak Mentah
Faktor lain yang turut menekan harga adalah pergerakan Indeks Dolar AS Berjangka, yang turun tipis 0,08% ke level USD98,48. Secara umum, pelemahan dolar AS biasanya memberikan dukungan bagi harga futures minyak mentah, karena membuat komoditas yang dihargakan dalam dolar menjadi lebih murah bagi pembeli dengan mata uang lain.
Namun, efek positif tersebut tampaknya belum sepenuhnya terasa. Investor masih menimbang risiko dari kebijakan suku bunga tinggi di AS, yang dapat menekan permintaan bahan bakar di sektor industri dan transportasi.
Kenaikan biaya pinjaman dan perlambatan pertumbuhan ekonomi global membuat banyak pelaku pasar menahan diri untuk menambah eksposur terhadap aset berisiko seperti minyak mentah. Dengan demikian, harga tetap terjebak dalam rentang sempit tanpa katalis kuat.
Perbandingan dengan Minyak Brent
Sementara itu, di pasar Intercontinental Exchange (ICE), kontrak minyak Brent untuk pengiriman Januari juga turun 0,02% menjadi USD64,91 per barel. Selisih harga antara Brent dan futures minyak mentah WTI saat ini berada di kisaran USD3,61 per barel, menunjukkan perbedaan dinamika antara pasar Amerika dan Eropa.
Harga minyak Brent masih mempertahankan premiumnya dibandingkan WTI karena kekhawatiran terhadap pasokan dari kawasan Timur Tengah. Beberapa negara produsen utama masih menghadapi gangguan logistik akibat ketegangan geopolitik yang belum mereda.
Perbedaan harga ini juga memperlihatkan bahwa pasar minyak global belum benar-benar stabil. Meskipun permintaan energi di Asia terus meningkat secara bertahap, pasokan yang fluktuatif dan kebijakan produksi yang hati-hati dari OPEC+ membuat harga bergerak terbatas.
Faktor Global yang Mempengaruhi Harga Minyak
Selain faktor teknikal dan nilai tukar, sejumlah variabel global turut berpengaruh terhadap pergerakan futures minyak mentah.
Beberapa di antaranya adalah:
- Permintaan energi dari China dan India yang masih belum stabil akibat perlambatan ekonomi di kedua negara tersebut.
- Produksi minyak OPEC+ yang masih dibatasi, meski beberapa negara anggota mulai mengisyaratkan pelonggaran kuota pada akhir tahun.
- Ketegangan geopolitik di Timur Tengah, yang terus menimbulkan ketidakpastian terhadap pasokan global.
- Kebijakan suku bunga tinggi di AS dan Eropa, yang berpotensi menekan konsumsi bahan bakar industri dan transportasi.
Selain itu, laporan mingguan dari Energy Information Administration (EIA) tentang stok minyak mentah AS juga menjadi fokus utama investor. Jika stok minyak meningkat tajam, pasar dapat menilai bahwa pasokan berlebih akan memperlambat pemulihan harga. Sebaliknya, jika persediaan menurun, sentimen positif bisa kembali mendukung kenaikan harga minyak dalam jangka pendek.
Prospek Pasar
Secara keseluruhan, futures minyak mentah masih bergerak dalam pola konsolidasi sempit dengan potensi fluktuasi jangka pendek. Harga kemungkinan akan tetap berada di kisaran USD61–62 per barel, sambil menunggu petunjuk lebih lanjut dari laporan fundamental dan arah kebijakan ekonomi global.
Investor dan pelaku pasar disarankan untuk tetap berhati-hati dalam mengambil posisi, terutama menjelang rilis data makroekonomi penting dari AS dan Tiongkok. Jika data permintaan energi global menunjukkan peningkatan, peluang rebound harga dapat terbuka lebar menuju kisaran USD63–64 per barel.
Sementara itu, jika tekanan fundamental dari sisi pasokan kembali meningkat, tidak menutup kemungkinan harga akan kembali melemah di bawah USD60 per barel. Dalam jangka panjang, stabilitas harga minyak masih sangat bergantung pada keseimbangan antara produksi OPEC+, pertumbuhan ekonomi global, dan arah kebijakan moneter negara-negara besar.








