Euro Jatuh ke Level 1.16: 3 Tekanan Besar yang Bikin EUR/USD Terpuruk

Euro anjlok mendekati 1.16 terhadap dolar AS, tertekan oleh tiga faktor besar: krisis politik di Prancis, data industri Jerman yang lesu, dan kekuatan dolar AS. Simak analisis lengkap EUR/USD terbaru di sini.

KabarPialang – Pasangan mata uang EUR/USD kembali melemah tajam dan kini mendekati level 1.16, titik terendah sejak akhir Agustus.
Pelemahan ini menegaskan tekanan besar yang dihadapi euro, baik dari sisi fundamental maupun teknikal.

Pasar tengah dihadapkan pada kombinasi tiga faktor utama yang mengguncang sentimen terhadap mata uang tunggal Eropa: krisis politik di Prancis, data industri Jerman yang mengecewakan, dan kekuatan dolar AS yang belum menunjukkan tanda-tanda melemah.

1. Krisis Politik Prancis Tambah Ketidakpastian Eurozone

Tekanan pertama datang dari Prancis, di mana Presiden Emmanuel Macron tengah menghadapi ujian politik serius.
Pengunduran diri mendadak Perdana Menteri Sébastien Lecornu memicu desakan kuat untuk menggelar pemilu dini, memperdalam ketidakpastian politik di salah satu ekonomi terbesar Eropa.

Investor menilai kondisi ini bisa memperlambat agenda reformasi ekonomi Macron dan memperlemah koordinasi kebijakan fiskal di tingkat Uni Eropa.
Akibatnya, kepercayaan terhadap euro mulai menurun, dan pelaku pasar beralih ke dolar AS sebagai aset safe haven.

Menurut laporan Reuters, situasi politik Prancis menjadi salah satu faktor paling dominan dalam mendorong pelemahan euro minggu ini.

“Investor mulai menghindari aset berisiko dari kawasan euro karena meningkatnya ketidakpastian politik,” tulis Reuters.

2. Data Industri Jerman yang Lesu Picu Kekhawatiran Resesi

Dari sisi ekonomi, Jerman, sebagai motor penggerak ekonomi Eropa, kembali mencatat data yang jauh dari harapan.
Produksi industri pada Agustus turun 4,3% secara bulanan (MoM) — anjlok lebih dalam dibandingkan ekspektasi pasar di -1%.

Penurunan ini dipimpin oleh sektor otomotif yang terpukul akibat lemahnya permintaan global dan biaya energi yang tinggi.
Kinerja ini menambah kekhawatiran bahwa zona euro bisa kembali masuk ke jurang resesi teknikal, setelah sebelumnya hanya tumbuh tipis pada kuartal II.

Menurut Bloomberg, lemahnya data Jerman memperburuk pandangan terhadap pemulihan ekonomi kawasan euro dan memperkuat tekanan jual di pasar mata uang.

“Ketika data ekonomi inti seperti industri Jerman terpuruk, investor kehilangan keyakinan terhadap prospek pertumbuhan Eropa,” tulis Bloomberg.

3. Dolar AS Tetap Perkasa, Tekan Euro Semakin Dalam

Selain faktor internal Eropa, kekuatan dolar AS juga menjadi penghambat utama pemulihan euro.
Ekonomi AS masih menunjukkan ketahanan kuat dengan data tenaga kerja dan inflasi yang solid, membuat Federal Reserve (The Fed) berpotensi menahan suku bunga tinggi lebih lama.

Sementara itu, European Central Bank (ECB) cenderung berhati-hati dan belum menunjukkan sinyal hawkish baru.
Perbedaan arah kebijakan moneter antara The Fed dan ECB ini memperlebar spread imbal hasil obligasi AS dan Jerman, memperkuat arus modal keluar dari kawasan euro.

Data CME FedWatch Tool menunjukkan pasar masih memperkirakan suku bunga AS akan tetap tinggi hingga awal 2026, yang berarti permintaan terhadap dolar akan terus meningkat.

“Selama The Fed mempertahankan suku bunga tinggi, tekanan terhadap euro akan sulit berkurang,” ujar analis dari FXStreet.

Tekanan Teknis: Struktur Harga EUR/USD Masih Bearish

Secara teknikal, pasangan EUR/USD menunjukkan sinyal pelemahan berkelanjutan.
Harga yang gagal menembus area resistance 1.1715 (Previous Daily High) kini memperkuat bias bearish jangka pendek.
Selain itu, area Fair Value Gap (FVG) yang sempat di-retest kini berubah fungsi menjadi zona resistance utama.

Jika tekanan jual berlanjut, target selanjutnya kemungkinan mengarah ke 1.1550 (Previous Monthly Low), bahkan ke 1.1500 sebagai area psikologis penting.
Namun, jika terjadi rebound teknikal di bawah tekanan jual ekstrem, potensi koreksi menuju 1.1680 tetap terbuka sebelum tren turun berlanjut.

“Selama EUR/USD bertahan di bawah 1.1715, peluang bearish tetap dominan,” tulis analis FXStreet.

Outlook Ke Depan: Tekanan Belum Berakhir

Dengan kombinasi faktor politik, fundamental, dan teknikal yang semuanya mengarah ke bawah, prospek euro masih negatif dalam jangka menengah.
Pemulihan baru bisa terjadi jika ada stabilisasi politik di Prancis, perbaikan data industri Jerman, dan sinyal dovish dari The Fed.

Untuk sementara waktu, trader disarankan tetap berhati-hati dan memantau area 1.1550 sebagai level kunci untuk menentukan arah pergerakan selanjutnya.

Related Posts

Bisnis-27 Naik 0,44% ke 567,89

Indeks Bisnis-27 dibuka menguat 0,44% ke 567,89 pada Kamis (15/1/2026), ditopang saham ADMR, ADRO, ANTM, BBRI, BBCA hingga MAPI. Analis memproyeksikan IHSG berpotensi lanjut menguat. KabarPialang – Indeks Bisnis-27 mengawali…

IHSG Naik 0,35% ke 9.064

IHSG dibuka menguat 0,35% ke 9.064 pada Kamis 15 Januari 2026. Saham MBMA, NCKL, dan IRSX kompak terbang, sementara analis memproyeksikan indeks berpotensi lanjut menguat. KabarPialang – Indeks Harga Saham Gabungan…

One thought on “Euro Jatuh ke Level 1.16: 3 Tekanan Besar yang Bikin EUR/USD Terpuruk

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You Missed

Bisnis-27 Naik 0,44% ke 567,89

  • By Team
  • January 15, 2026
  • 2 views
Bisnis-27 Naik 0,44% ke 567,89

IHSG Naik 0,35% ke 9.064

  • By Team
  • January 15, 2026
  • 4 views
IHSG Naik 0,35% ke 9.064

Harga Minyak Dunia Turun 0,26% di Asia, WTI Terseret ke USD60

  • By Team
  • January 14, 2026
  • 3 views
Harga Minyak Dunia Turun 0,26% di Asia, WTI Terseret ke USD60

Emas Turun 0,26% di Sesi AS

  • By Team
  • January 14, 2026
  • 4 views
Emas Turun 0,26% di Sesi AS

IHSG Menguat 0,69% ke 8.946

  • By Team
  • January 13, 2026
  • 6 views
IHSG Menguat 0,69% ke 8.946

Saham RMKE Menuju 10.000, Ini Profil & Pemiliknya

  • By Team
  • January 13, 2026
  • 7 views
Saham RMKE Menuju 10.000, Ini Profil & Pemiliknya