Dolar AS menguat jelang keputusan bank sentral global. Inflasi Inggris melemah, BOJ menuju kenaikan suku bunga, dan komentar Trump soal Fed jadi sorotan pasar.
KabarPialang – Dolar Amerika Serikat bergerak menguat secara umum terhadap mata uang utama dunia seiring pasar global bersiap menghadapi serangkaian keputusan penting bank sentral. Fokus pelaku pasar tertuju pada kebijakan moneter di Inggris, kawasan Eropa, Jepang, serta arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat ke depan.
Penguatan dolar terjadi di tengah meningkatnya kehati-hatian investor yang mencari kepastian arah suku bunga global. Ketika ketidakpastian meningkat, dolar kembali menjadi aset lindung nilai utama, meskipun terdapat sinyal yang beragam dari sisi kebijakan The Federal Reserve.
Indeks dolar, yang mengukur kekuatan dolar AS terhadap sekeranjang mata uang utama seperti euro dan yen, relatif stabil setelah mencatat kenaikan pada sesi sebelumnya. Stabilitas ini mencerminkan sikap pasar yang menunggu katalis baru dari keputusan bank sentral besar.
Inflasi Inggris Lemah, Tekan Poundsterling
Peluang Pemangkasan Suku Bunga BOE Menguat
Poundsterling berada dalam tekanan setelah data inflasi Inggris menunjukkan pelemahan yang mengejutkan. Penurunan inflasi tersebut memperkuat ekspektasi bahwa Bank of England akan memangkas suku bunga acuannya dalam waktu dekat.
Pasar suku bunga kini hampir sepenuhnya memperhitungkan kemungkinan pemangkasan suku bunga seperempat poin. Kondisi ini membuat sterling sulit menguat, karena penurunan imbal hasil aset Inggris mengurangi daya tarik mata uang tersebut di mata investor global.
Pelemahan sterling mencerminkan kekhawatiran bahwa ekonomi Inggris masih rapuh dan membutuhkan stimulus moneter tambahan. Dengan inflasi yang melandai lebih cepat dari perkiraan, ruang pelonggaran kebijakan moneter semakin terbuka.
Euro Stabil Jelang Keputusan ECB
ECB Diperkirakan Tahan Suku Bunga
Sementara itu, euro bergerak relatif datar menjelang keputusan Bank Sentral Eropa. Pelaku pasar secara luas memperkirakan ECB akan mempertahankan suku bunga dan memberikan sinyal kehati-hatian terkait potensi pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat.
Stabilitas euro mencerminkan ekspektasi bahwa kebijakan moneter di zona euro akan tetap ketat lebih lama dibandingkan beberapa negara maju lainnya. Namun, perlambatan ekonomi Eropa masih menjadi faktor pembatas bagi penguatan euro lebih lanjut.
Investor menilai ECB masih membutuhkan bukti tambahan bahwa inflasi benar-benar terkendali sebelum mengambil langkah pelonggaran yang agresif.
Yen Berfluktuasi Jelang Kenaikan Suku Bunga BOJ
BOJ Menuju Level Suku Bunga Tertinggi 30 Tahun
Yen Jepang sempat melemah sebelum memangkas kerugiannya menjelang berakhirnya pertemuan kebijakan Bank of Japan. BOJ diperkirakan akan menaikkan suku bunga jangka pendek ke level tertinggi dalam hampir tiga dekade.
Inflasi Jepang yang bertahan di atas target, terutama akibat kenaikan harga pangan, menjadi alasan utama bank sentral mengambil langkah pengetatan lanjutan. Kenaikan suku bunga ini menandai perubahan signifikan dari era kebijakan ultra-longgar Jepang.
Meski demikian, pasar menilai BOJ kemungkinan tidak akan memberikan panduan ke depan yang agresif. Hal ini membuat yen berpotensi tetap berfluktuasi dalam jangka pendek, meskipun prospek jangka menengah dinilai lebih positif.
Pernyataan Trump Jadi Sorotan Pasar
Ketua Fed Baru dan Isu Independensi
Dolar relatif tidak terpengaruh oleh pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyebut ketua Federal Reserve berikutnya akan lebih menyukai suku bunga yang jauh lebih rendah. Komentar tersebut menambah ketidakpastian terkait arah kebijakan moneter AS dan independensi bank sentral.
Trump menyatakan akan segera mengumumkan pengganti Ketua Fed Jerome Powell. Beberapa nama yang disebut-sebut memiliki pandangan bahwa suku bunga seharusnya lebih rendah dari level saat ini, meskipun tidak sejauh yang diinginkan Trump.
Isu independensi Fed menjadi perhatian utama investor, karena tekanan politik terhadap kebijakan moneter berpotensi memicu volatilitas pasar keuangan global.
Pandangan Beragam di Internal The Fed
Ketidakpastian Waktu Pemangkasan Suku Bunga
Di sisi lain, pandangan pejabat The Fed masih terpecah. Sebagian menilai masih ada ruang untuk pemangkasan suku bunga karena pasar tenaga kerja mulai melemah, sementara yang lain mempertanyakan urgensi pelonggaran kebijakan.
Perbedaan pandangan ini mencerminkan kompleksitas kondisi ekonomi AS saat ini, di mana inflasi mulai melandai namun pertumbuhan dan ketenagakerjaan menunjukkan tanda-tanda perlambatan.
Ketidakpastian ini membuat dolar tetap diminati sebagai aset aman, meskipun ekspektasi penurunan suku bunga masih membayangi.
Mata Uang Asia-Pasifik dan Kripto
Dolar Australia dan dolar Selandia Baru bergerak melemah pada perdagangan awal, mencerminkan sensitivitas mata uang komoditas terhadap sentimen global. Data ekonomi domestik belum cukup kuat untuk mendorong penguatan signifikan.
Di pasar aset digital, bitcoin dan ether mencatatkan kenaikan tipis. Pergerakan kripto menunjukkan sikap investor yang masih berhati-hati, seiring fokus utama tetap tertuju pada arah kebijakan moneter global.
Penguatan dolar saat ini mencerminkan kombinasi ketidakpastian global, ekspektasi kebijakan bank sentral, serta dinamika politik di Amerika Serikat. Dengan sejumlah keputusan penting dalam waktu dekat, volatilitas pasar diperkirakan tetap tinggi, sementara dolar berpotensi mempertahankan posisinya sebagai mata uang dominan dalam jangka pendek.






