BNI mencatat laba bersih Rp15,12 triliun pada kuartal III 2025 berkat efisiensi pendanaan, transformasi digital, dan komitmen pada keuangan berkelanjutan. Rasio keuangan tetap solid dengan CAR 21,1% dan portofolio hijau mencapai Rp192,4 triliun.
KabarPialang – PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI menutup kuartal III 2025 dengan capaian kinerja yang solid di tengah ketidakpastian ekonomi global. Perseroan berhasil membukukan laba bersih konsolidasi sebesar Rp15,12 triliun hingga akhir September 2025. Hasil ini mencerminkan efektivitas strategi transformasi yang dijalankan perusahaan, sekaligus menunjukkan ketahanan fundamental BNI di tengah tantangan makroekonomi.
Direktur Utama BNI Putrama Wahju Setyawan menegaskan bahwa strategi penguatan kualitas portofolio dan efisiensi pendanaan menjadi faktor utama yang menjaga stabilitas kinerja keuangan BNI.
“Keberhasilan ini menunjukkan kemampuan BNI untuk tetap adaptif dalam menghadapi tantangan, sambil terus mendorong pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan,” ujar Putrama dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat (24/10/2025).
Fundamental Keuangan Tetap Solid
BNI mencatat rasio permodalan yang kuat dengan Capital Adequacy Ratio (CAR) mencapai 21,1%, termasuk Tier-1 Capital yang berada di posisi aman. Likuiditas juga terjaga pada tingkat optimal, dengan Loan to Deposit Ratio (LDR) sebesar 86,9%, Liquidity Coverage Ratio (LCR) mencapai 167,4%, serta Net Stable Funding Ratio (NSFR) di level 142,1%.
Kualitas aset BNI juga menunjukkan tren positif. Rasio Non-Performing Loan (NPL) gross berada di kisaran 2,0%, sementara Loan at Risk (LAR) membaik ke level 10,4%. Peningkatan ini menjadi bukti keberhasilan BNI dalam menerapkan manajemen risiko yang disiplin serta kebijakan ekspansi kredit yang selektif dan prudent.
Putrama menambahkan, strategi perbaikan kualitas aset tetap menjadi prioritas utama dalam menjaga keberlanjutan pertumbuhan BNI.
“Kami menjaga keseimbangan antara ekspansi bisnis dan manajemen risiko agar pertumbuhan tetap sehat serta memberikan nilai tambah jangka panjang bagi pemegang saham dan nasabah,” ujarnya.
Transformasi Digital dan Efisiensi Pendanaan
Transformasi digital menjadi salah satu motor penggerak pertumbuhan BNI di 2025. Melalui pengembangan platform digital perbankan yang terintegrasi, BNI berhasil meningkatkan efisiensi operasional sekaligus memperluas jangkauan layanan ke segmen ritel dan UMKM.
Digitalisasi juga berperan besar dalam efisiensi pendanaan. BNI terus memperkuat strategi Current Account Saving Account (CASA) guna menekan biaya dana (cost of fund). Pendekatan ini memungkinkan perseroan menjaga margin bunga bersih (Net Interest Margin/NIM) tetap kompetitif di tengah tren suku bunga global yang berfluktuasi.
Selain itu, BNI memperkuat kolaborasi ekosistem digital dengan startup dan perusahaan teknologi finansial untuk memperluas basis nasabah dan mempercepat adopsi layanan digital banking di seluruh Indonesia.
Dorong Ekonomi Hijau dan Keuangan Berkelanjutan
Sebagai pionir dalam keuangan berkelanjutan, BNI terus memperkuat kontribusinya terhadap pembiayaan ramah lingkungan dan sosial. Melalui penerbitan Sustainability Bond, BNI menyalurkan dana ke proyek-proyek hijau seperti energi terbarukan, efisiensi energi, pengelolaan limbah, serta inisiatif sosial ekonomi bagi UMKM.
Direktur Manajemen Risiko BNI David Pirzada menyampaikan, langkah ini merupakan wujud komitmen BNI dalam mempercepat transisi menuju ekonomi hijau di Indonesia.
“Seluruh dana hasil penerbitan Sustainability Bond dialokasikan untuk proyek-proyek hijau yang memenuhi kriteria lingkungan. Kami ingin memastikan pembiayaan yang kami salurkan tidak hanya berdampak ekonomi, tetapi juga sosial dan lingkungan,” ujar David.
Hingga akhir September 2025, portofolio berkelanjutan BNI mencapai Rp192,4 triliun, atau 24% dari total kredit. Angka tersebut terdiri dari pembiayaan sosial-ekonomi dan pembiayaan hijau, mencerminkan peran BNI sebagai motor penggerak keuangan berkelanjutan nasional.
Kinerja Kuartal III 2025 dan Perbandingan Tahunan
Capaian laba bersih Rp15,12 triliun di kuartal III 2025 sedikit terkoreksi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, di mana laba bersih BNI mencapai Rp16,42 triliun pada kuartal III 2024.
Penurunan ini terutama disebabkan oleh faktor eksternal seperti peningkatan biaya dana akibat ketatnya likuiditas global serta fluktuasi nilai tukar. Namun, secara fundamental, BNI tetap mencatat Return on Equity (ROE) dan Return on Asset (ROA) yang solid, menunjukkan profitabilitas jangka panjang yang terjaga.
Perseroan juga berhasil menekan beban operasional melalui peningkatan efisiensi, terutama dari digitalisasi proses bisnis dan optimalisasi cabang.
Arah Strategis dan Prospek ke Depan
Ke depan, BNI berkomitmen memperkuat tiga fokus utama: penguatan fundamental bisnis, perluasan ekosistem digital, dan pengembangan keuangan berkelanjutan.
Transformasi digital akan terus dipercepat melalui inovasi layanan berbasis AI dan big data analytics untuk mendukung keputusan kredit yang lebih presisi serta personalisasi layanan nasabah. Selain itu, BNI akan memperluas dukungan terhadap sektor-sektor prioritas pemerintah seperti pertanian, perikanan, manufaktur, dan energi terbarukan.
David menutup dengan optimisme bahwa arah bisnis BNI di 2025–2026 akan tetap tumbuh positif meski tantangan global masih tinggi.
“BNI akan terus memperkuat fundamental bisnis, memperluas ekosistem digital, dan menjadi motor penggerak keuangan berkelanjutan di Indonesia,” pungkasnya.






