KabarPialang – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 0,29% ke level 8.366,51 pada perdagangan Selasa, 11 November 2025. Tekanan jual asing menjadi faktor utama, dengan total net sell mencapai Rp649,29 miliar di seluruh pasar. Investor asing paling banyak melepas saham-saham berkapitalisasi besar seperti Bank Central Asia (BBCA), Bank Rakyat Indonesia (BBRI), Aneka Tambang (ANTM), dan Bank Mandiri (BMRI). Aktivitas transaksi di Bursa Efek Indonesia tercatat mencapai Rp27,59 triliun dengan 71,06 miliar saham berpindah tangan. Saham BBCA turun 2,04% ke Rp8.400, sementara DEWA naik 12,06% meski turut dilepas asing. Analis menilai tekanan masih bersifat teknikal dan dipengaruhi aliran dana global jelang akhir tahun. IHSG berpotensi bergerak fluktuatif dengan peluang rebound terbatas di kisaran 8.320–8.420 pada perdagangan berikutnya.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali melemah pada akhir perdagangan Selasa (11/11/2025), terseret oleh aksi jual investor asing yang cukup besar. Berdasarkan data RTI, IHSG ditutup turun 24,72 poin atau 0,29% ke level 8.366,51 setelah sempat bergerak fluktuatif di rentang 8.338,39 hingga 8.443,68 sepanjang sesi perdagangan.
Dari total 815 saham yang diperdagangkan, 378 saham melemah, 290 menguat, dan 147 stagnan. Aktivitas transaksi tergolong tinggi dengan total 71,06 miliar saham berpindah tangan dalam 3,12 juta kali transaksi. Nilai transaksi harian tercatat mencapai Rp27,59 triliun, mencerminkan tingginya aktivitas investor meski arah pasar cenderung negatif.
Asing Lepas Rp649,29 Miliar Saham Indonesia
Tekanan utama datang dari investor asing yang mencatatkan aksi jual bersih (net sell) senilai Rp649,29 miliar di seluruh pasar. Dari jumlah tersebut, Rp638,77 miliar berasal dari pasar reguler dan Rp10,53 miliar dari pasar negosiasi serta tunai.
Aksi jual ini memperpanjang tren distribusi asing dalam sepekan terakhir di tengah meningkatnya kekhawatiran pasar atas arah kebijakan suku bunga global dan fluktuasi nilai tukar rupiah yang sempat melemah di atas Rp16.000 per dolar AS.
Saham-saham kapitalisasi besar (big caps) menjadi sasaran utama tekanan jual. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menempati posisi teratas dengan nilai net sell mencapai Rp394,12 miliar. Saham bank swasta terbesar di Indonesia itu turun 2,04% ke level Rp8.400 per saham, menambah tekanan pada indeks keuangan yang menjadi kontributor utama penurunan IHSG.
Disusul oleh PT Darma Henwa Tbk (DEWA) yang justru mengalami penguatan tajam 12,06% ke Rp446, meskipun mencatat net sell Rp152,52 miliar. Investor asing tampaknya mengambil keuntungan dari reli cepat saham tambang tersebut setelah kenaikan signifikan dalam beberapa hari terakhir.
10 Saham dengan Net Sell Asing Terbesar (11/11/2025)
- BBCA – Rp394,12 miliar
- DEWA – Rp152,52 miliar
- BBRI – Rp140,01 miliar
- ANTM – Rp137,90 miliar
- INET – Rp75,40 miliar
- ADRO – Rp60,80 miliar
- AMRT – Rp52,26 miliar
- ICBP – Rp50,28 miliar
- MDKA – Rp41,95 miliar
- BMRI – Rp40,22 miliar
Nilai penjualan asing di sepuluh saham tersebut menyumbang sebagian besar dari total arus keluar dana asing di bursa.
Sektor Keuangan dan Pertambangan Tekan Indeks
Sektor keuangan dan pertambangan menjadi dua kelompok yang paling menekan pergerakan IHSG. Selain BBCA dan BBRI, saham BMRI dan BBNI juga terpantau melemah, menandakan investor masih berhati-hati terhadap prospek margin bunga bersih (NIM) di tengah tekanan biaya dana yang meningkat.
Dari sektor pertambangan, saham-saham seperti ANTM dan MDKA tertekan oleh koreksi harga logam dasar di pasar global. Harga nikel dan tembaga turun karena prospek permintaan dari China melemah, seiring data inflasi dan produksi industri yang lebih rendah dari ekspektasi.
Analis: Tekanan Asing Bisa Berlanjut, Tapi Momentum Jangka Pendek Masih Terbuka
Analis pasar modal dari Kanaka Research, Rendy Adiputra, mengatakan aksi jual asing ini masih bersifat profit taking setelah reli indeks di awal November. “Kinerja IHSG masih solid secara fundamental, namun investor asing sedang melakukan rebalancing portofolio menjelang akhir tahun fiskal mereka,” ujarnya.
Rendy menilai, tekanan asing berpotensi berlanjut dalam jangka pendek, terutama jika data inflasi AS menunjukkan tren menguat sehingga menunda ekspektasi penurunan suku bunga The Fed. Namun ia melihat peluang teknikal rebound IHSG masih terbuka di kisaran support 8.300.
“Jika IHSG mampu bertahan di atas 8.300 dan investor domestik tetap aktif di sektor konsumsi dan infrastruktur, maka tekanan asing tidak akan terlalu dalam,” tambahnya.
Outlook Pasar Hari Berikutnya
Pada perdagangan Rabu (12/11), IHSG diperkirakan bergerak mixed dengan kecenderungan menguat terbatas. Sektor konsumer dan transportasi berpotensi menopang indeks di tengah rilis data penjualan ritel dan inflasi domestik yang stabil.
Investor disarankan mencermati saham-saham defensif seperti ICBP, KLBF, dan TLKM, yang dinilai relatif tahan terhadap volatilitas global. Sementara saham sektor keuangan masih akan menghadapi tekanan hingga ada kepastian arah suku bunga Bank Indonesia pada bulan depan.







