Saham NSSS kembali menarik perhatian setelah pengendali emiten sawit menambah kepemilikan Rp248 miliar. Simak analisis lengkap, kinerja keuangan, dan prospek NSSS di sini.
KabarPialang – Saham NSSS kembali menjadi sorotan para pelaku pasar setelah aksi akumulasi besar-besaran dilakukan oleh pengendali perusahaan, yaitu PT Samuel Tumbuh Bersama. Pembelian saham dalam jumlah signifikan ini menimbulkan spekulasi baru mengenai prospek bisnis PT Nusantara Sawit Sejahtera Tbk (NSSS) dalam beberapa bulan mendatang. Langkah akumulasi ini juga dianggap sebagai sinyal kuat bahwa manajemen internal memiliki keyakinan tinggi terhadap fundamental dan kinerja perseroan ke depan.
Transaksi pembelian yang dilakukan pada 10 November 2025 tersebut bersifat strategis. Meski dilakukan tanpa banyak pemberitaan, nilainya cukup besar sehingga menarik perhatian investor. Akumulasi saham oleh pihak pengendali biasanya dianggap sebagai indikator kepercayaan terhadap pertumbuhan kinerja, sekaligus menunjukkan kesiapan perusahaan memperkuat posisi dalam industri minyak sawit.
Detail Transaksi: 662 Juta Saham Diborong
Menurut laporan keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), pengendali perusahaan membeli total 662 juta lembar saham NSSS dengan harga Rp375 per saham. Nilai transaksi ini mencapai Rp248 miliar, setara dengan 2,78% kepemilikan baru.
Aksi ini membuat kepemilikan pengendali meningkat menjadi 34,6%, semakin mempertegas kontrol perusahaan dalam pengambilan keputusan strategis jangka panjang. Kenaikan kepemilikan ini sering kali memberi sentimen positif bagi pasar, karena menunjukkan bahwa pemegang saham utama melihat potensi pertumbuhan yang lebih besar.
Aksi Borong Lanjutan oleh Entitas Terkait
Tidak berhenti pada satu entitas, aksi akumulasi juga dilakukan oleh perusahaan yang masih berada di bawah grup yang sama. PT Samuel International sebelumnya telah membeli 1,53 miliar saham NSSS, sehingga kepemilikannya naik menjadi 13,71%.
Menariknya, kedua transaksi ini dilakukan melalui broker yang sama, yaitu PT Samuel Sekuritas Indonesia. Hal tersebut memperlihatkan adanya strategi grup yang terkoordinasi, mengarah pada upaya memperkuat penguasaan saham sekaligus menjaga stabilitas pergerakan harga di pasar.
Bagi investor ritel, langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa manajemen internal melihat peluang pertumbuhan bisnis yang signifikan di masa depan. Biasanya, ketika entitas pengendali menambah saham, harga saham berpotensi mendapat dorongan positif karena meningkatnya kepercayaan internal.
Kinerja Keuangan Semester I 2025
Fundamental NSSS memang menunjukkan perkembangan sangat kuat. Pada semester pertama 2025, perseroan berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp314,26 miliar, melonjak hingga 1.323% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya mencapai Rp22,09 miliar.
Laba per saham (EPS) pun naik drastis dari Rp0,93 menjadi Rp13,20, menunjukkan peningkatan tajam yang mencerminkan efisiensi operasional dan kenaikan pendapatan. Lonjakan laba yang begitu besar menjadi salah satu faktor utama yang mendorong pengendali untuk melakukan akumulasi saham dalam jumlah besar.
Lonjakan Penjualan CPO dan Palm Kernel
Performa pendapatan NSSS selama semester I 2025 juga menunjukkan pertumbuhan signifikan. Penjualan bersih naik sebesar 66,19% menjadi Rp936,62 miliar, dibandingkan Rp569,56 miliar pada periode yang sama tahun 2024.
Penjualan perseroan didominasi oleh:
- Crude Palm Oil (CPO) sebesar Rp807,54 miliar atau 85,31% dari total penjualan
- Palm kernel sebesar Rp139,07 miliar
Sebagai produsen minyak sawit mentah, NSSS sangat bergantung pada harga CPO global. Kenaikan permintaan dunia terhadap minyak sawit sebagai bahan baku industri makanan dan energi turut menopang penjualan sepanjang 2025.
Pertumbuhan Laba Bruto dan Laba Usaha
Meski beban pokok penjualan hanya naik 3,04%, kontribusi pendapatan meningkat jauh lebih besar sehingga margin perseroan membaik drastis. Laba kotor NSSS tercatat mencapai Rp506,86 miliar, tumbuh 254,77% dari periode yang sama pada 2024.
Sementara itu, laba usaha naik menjadi Rp459,96 miliar, meningkat 250,75%. Dengan total aset sebesar Rp3,88 triliun, perusahaan menunjukkan arah ekspansi yang solid serta kemampuan operasional yang lebih efisien dibanding tahun sebelumnya.
Prospek Bisnis Emiten Sawit ke Depan
Prospek bisnis minyak sawit global diperkirakan tetap positif. Beberapa faktor pendukung kinerja NSSS ke depan meliputi:
- Harga CPO global yang relatif stabil dan berpotensi naik
- Permintaan yang terus tumbuh dari sektor makanan dan bioenergi
- Ekspansi area perkebunan yang meningkatkan kapasitas produksi
- Efisiensi biaya yang semakin baik
- Sentimen positif akibat aksi akumulasi oleh pengendali
Jika kondisi pasar tetap kondusif, laba NSSS pada tahun 2025 berpeluang besar melampaui kinerja tahun sebelumnya secara signifikan.
Analisis Fundamental Saham NSSS
Beberapa indikator yang membuat saham NSSS menarik bagi investor:
a. Valuasi
Dengan kenaikan laba yang signifikan, valuasi saham cenderung menjadi lebih murah berdasarkan rasio PER.
b. Likuiditas
Transaksi jumbo dari pengendali meningkatkan likuiditas dan minat trader maupun investor jangka panjang.
c. Profitabilitas
Margin yang meningkat menunjukkan efisiensi yang patut diapresiasi.
d. Struktur Kepemilikan
Kenaikan kepemilikan pengendali memberikan stabilitas dan sinyal positif mengenai arah pertumbuhan perusahaan.
Risiko Investasi yang Perlu Diperhatikan
Meski prospeknya terlihat menarik, saham NSSS tetap memiliki risiko, seperti:
- Volatilitas harga CPO global
- Kebijakan pemerintah terkait ekspor dan keberlanjutan
- Risiko iklim yang dapat mempengaruhi produksi
- Fluktuasi biaya operasional
- Pengaruh nilai tukar rupiah
Investor perlu mempertimbangkan aspek-aspek tersebut sebelum mengambil keputusan.
Apakah Saham NSSS Layak Dikoleksi?
Aksi pembelian besar oleh pengendali, fundamental yang melonjak tajam, peningkatan penjualan CPO, dan prospek industri sawit yang tetap positif membuat saham NSSS layak masuk dalam daftar pantauan investor. Namun, keputusan membeli tetap harus disesuaikan dengan profil risiko dan strategi masing-masing, mengingat industri sawit erat kaitannya dengan fluktuasi harga komoditas global.






