Harga minyak dunia melemah pada 7 November 2025 karena kekhawatiran oversupply dan turunnya permintaan di AS. Tren bearish masih mendominasi pasar energi.
KabarPialang – Harga minyak mentah dunia kembali bergerak melemah pada perdagangan Jumat (7/11/2025). Tekanan jual yang terjadi sejak awal pekan masih berlanjut di tengah meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap potensi oversupply dan menurunnya permintaan energi global, terutama dari Amerika Serikat. Kondisi ini membuat tren bearish masih mendominasi pergerakan harga minyak, dengan potensi penurunan lebih lanjut apabila level resistance kunci tidak mampu ditembus.
Pasar Minyak Tertekan Kekhawatiran Kelebihan Pasokan
Investor global saat ini terus mencermati sinyal peningkatan produksi dari beberapa negara anggota OPEC+ serta kembalinya pasokan dari negara non-OPEC seperti Amerika Serikat dan Kanada. Kenaikan produksi tersebut dikhawatirkan akan menimbulkan potensi kelebihan pasokan (oversupply) di pasar global, terutama ketika permintaan bahan bakar menunjukkan tanda-tanda pelemahan menjelang musim dingin di belahan bumi utara.
Laporan terbaru dari Energy Information Administration (EIA) memperkuat sentimen negatif ini. Data menunjukkan bahwa stok minyak mentah AS meningkat sebesar 3,6 juta barel dalam sepekan terakhir, jauh melampaui ekspektasi pasar yang hanya memperkirakan kenaikan 1,9 juta barel. Lonjakan persediaan ini menandakan bahwa pasokan lebih besar dibandingkan konsumsi, sehingga mempertegas kekhawatiran bahwa pasar minyak sedang menuju kondisi surplus.
Sementara itu, tingkat permintaan bensin di AS dilaporkan menurun 2,3% secara mingguan, mencerminkan perlambatan konsumsi di sektor transportasi. Kombinasi antara naiknya stok minyak dan turunnya konsumsi bahan bakar memperburuk tekanan terhadap harga minyak. Di saat yang sama, kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi global juga turut menahan minat beli investor terhadap aset berisiko, termasuk komoditas energi.
Analisis Teknis: Pullback Tertahan di Area Resistance
Dari sisi teknikal, harga minyak gagal menembus area resistance penting di sekitar 60,30 pada time frame H1, dan kembali mengalami pullback ke bawah level tersebut. Kegagalan ini mengindikasikan bahwa momentum jual masih dominan, serta membuka peluang lanjutan penurunan (bearish continuation) selama harga tetap bergerak di bawah area resistance tersebut.
Selain itu, terbentuknya pola lower high sejak awal minggu memperkuat sinyal tren turun. Struktur harga menunjukkan tekanan jual yang konsisten, sementara volume perdagangan di area resistance mulai menurun — tanda bahwa buyer kehilangan kekuatan untuk mendorong harga lebih tinggi.
Prediksi: WEAK OIL – Bias Bearish Masih Dominan
Rencana Transaksi Teknis (Trade Plan)
| Parameter | Nilai | Keterangan |
|---|---|---|
| SELL Area | 59.59 – 60.31 | Area potensial untuk entry sell |
| Stop Loss (SL) | 61.53 | Di atas resistance kuat |
| Take Profit 1 (TP1) | 58.37 | Target konservatif |
| Take Profit 2 (TP2) | 56.84 | Target moderat |
| Take Profit 3 (TP3) | 55.27 | Target agresif jika tekanan berlanjut |
Selama harga tetap bergerak di bawah area resistance 60.30, potensi penurunan menuju 56.80–55.20 masih terbuka lebar. Namun, apabila terjadi breakout di atas 61.50, maka skenario bearish ini perlu dievaluasi ulang karena dapat memicu short covering rally menuju area 62.20–62.80.
Faktor Fundamental yang Mempengaruhi
1. Kebijakan OPEC+
Pasar masih menunggu kejelasan terkait keputusan OPEC+ terhadap kebijakan pemangkasan produksi menjelang akhir tahun. Beberapa anggota utama dikabarkan mempertimbangkan untuk menaikkan kuota produksi guna mengimbangi kebutuhan fiskal domestik mereka. Jika kebijakan ini benar-benar terjadi, maka tekanan jual di pasar minyak berpotensi meningkat.
Sebaliknya, apabila OPEC+ memutuskan untuk memperpanjang atau memperdalam pemangkasan produksi, hal ini dapat menjadi faktor penahan penurunan harga dalam jangka pendek. Namun hingga kini, belum ada sinyal konkret yang menunjukkan arah kebijakan tersebut.
2. Permintaan dari AS dan China
Dari sisi permintaan, data terbaru menunjukkan penurunan konsumsi energi di dua negara konsumen terbesar dunia, yakni Amerika Serikat dan China.
- Di AS, permintaan bahan bakar turun karena aktivitas industri dan transportasi melambat.
- Di China, impor minyak mentah mengalami kontraksi dua bulan berturut-turut akibat pelemahan sektor properti dan manufaktur.
Kedua faktor ini menandakan bahwa tekanan di sisi permintaan masih cukup kuat, sehingga ruang pemulihan harga minyak menjadi terbatas.
3. Pergerakan Dolar AS
Dolar AS yang menguat pasca pernyataan bernada hawkish dari Federal Reserve juga menambah tekanan terhadap harga minyak. Karena minyak diperdagangkan dalam denominasi dolar, penguatan mata uang tersebut membuat harga minyak menjadi lebih mahal bagi pembeli non-AS. Akibatnya, permintaan global terhadap komoditas energi ini bisa kembali melemah.
Prospek Ke Depan: Risiko Bearish Masih Lebih Besar
Selama kekhawatiran terhadap oversupply dan lemahnya permintaan global belum mereda, harga minyak kemungkinan masih akan bergerak dalam tren menurun. Kondisi ini dapat bertahan hingga muncul sinyal nyata terkait penurunan produksi dari OPEC+ atau perbaikan permintaan global pada kuartal IV 2025.
Namun, pelaku pasar juga perlu mewaspadai potensi rebound teknikal jangka pendek, terutama jika terjadi aksi ambil untung (profit taking) di area support psikologis sekitar $55–$56 per barel. Rebound ini kemungkinan bersifat sementara, sebelum harga kembali melanjutkan tren turunnya.
Harga minyak mentah dunia saat ini masih menghadapi tekanan kuat akibat meningkatnya kekhawatiran oversupply dan penurunan permintaan global. Secara teknikal, tren bearish masih dominan dengan peluang penurunan menuju kisaran $55 per barel, selama resistance di area $60,30 belum berhasil ditembus.






