SRTG Pangkas NRCA 750.000 Saham

Saratoga Investama Sedaya (SRTG) milik Sandiaga Uno melepas 750.000 saham NRCA senilai Rp913,5 juta, sementara harga saham NRCA justru melonjak tajam di bursa.

KabarPialang – PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG), emiten investasi yang dikenal sebagai kendaraan investasi Sandiaga Uno, kembali menunjukkan dinamika dalam pengelolaan portofolio investasinya. Perusahaan ini secara resmi memangkas kepemilikan sahamnya di PT Nusa Raya Cipta Tbk (NRCA), salah satu emiten konstruksi dan properti terkemuka di Indonesia.

Langkah ini menegaskan karakter Saratoga sebagai perusahaan investasi aktif yang tidak sekadar memegang saham jangka panjang, tetapi juga melakukan penyesuaian kepemilikan sesuai dengan strategi bisnis dan kondisi pasar. Divestasi sebagian saham NRCA mencerminkan pendekatan yang lebih taktis dalam mengelola aset, sekaligus membuka ruang bagi fleksibilitas investasi di sektor lain.

Keputusan ini bukanlah hal baru bagi Saratoga, yang dalam beberapa tahun terakhir kerap melakukan rotasi portofolio untuk mengoptimalkan imbal hasil. Dengan pasar yang semakin dinamis, perusahaan investasi seperti SRTG dituntut untuk lebih adaptif dalam menentukan komposisi asetnya.

Detail Transaksi Divestasi NRCA

Nilai Transaksi dan Volume Penjualan

Berdasarkan keterbukaan informasi yang disampaikan manajemen NRCA, Saratoga melepas sebanyak 750.000 lembar saham pada 14 Januari 2026. Transaksi tersebut dilakukan pada harga Rp1.218 per saham, sehingga total nilai transaksi mencapai sekitar Rp913,5 juta.

Manajemen menyatakan bahwa tujuan utama dari transaksi ini adalah divestasi dengan status kepemilikan saham secara langsung. Artinya, Saratoga secara sadar mengurangi eksposurnya terhadap NRCA sebagai bagian dari strategi investasi yang lebih luas.

Meskipun jumlah saham yang dilepas relatif kecil dibandingkan total kepemilikan, langkah ini tetap menarik perhatian pelaku pasar karena dilakukan oleh pemegang saham institusional besar.

Dampak terhadap Porsi Kepemilikan

Setelah transaksi tersebut, kepemilikan Saratoga di NRCA tercatat sebanyak 149.412.700 lembar saham atau setara 5,9855 persen dari total saham beredar. Sebelumnya, Saratoga menggenggam 150.162.700 saham atau sekitar 6,0155 persen.

Dengan demikian, penurunan kepemilikan ini tergolong tipis dan masih menempatkan Saratoga sebagai salah satu pemegang saham signifikan NRCA. Posisi di atas 5 persen menandakan bahwa Saratoga masih memiliki kepentingan strategis dalam perusahaan konstruksi tersebut.

Namun, pelepasan ini juga membuka peluang bagi investor lain untuk masuk atau meningkatkan kepemilikan mereka di NRCA, tergantung pada persepsi pasar terhadap prospek perusahaan.

Pergerakan Saham NRCA di Bursa

Lonjakan Harga di Tengah Divestasi

Menariknya, aksi divestasi Saratoga tidak membuat harga saham NRCA tertekan. Sebaliknya, saham NRCA justru melesat pada perdagangan Senin (19/1), naik 160 poin atau sekitar 13,50 persen ke level Rp1.345 per saham.

Kenaikan ini menunjukkan bahwa pasar mungkin memandang divestasi Saratoga bukan sebagai sinyal negatif, melainkan sebagai langkah normal dalam manajemen portofolio. Bahkan, sebagian pelaku pasar bisa saja melihatnya sebagai peluang beli.

Dalam sepekan terakhir, saham NRCA juga tercatat menguat sekitar 18,50 persen, menandakan adanya minat yang cukup kuat dari investor terhadap emiten konstruksi ini.

Faktor-Faktor yang Mendorong Penguatan

Beberapa faktor kemungkinan berkontribusi terhadap lonjakan harga NRCA. Pertama, sentimen positif terhadap sektor konstruksi dan properti yang mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Kedua, ekspektasi terhadap proyek-proyek baru yang dapat meningkatkan kinerja keuangan perusahaan.

Selain itu, volatilitas pasar secara umum juga bisa memicu pergerakan harga yang lebih agresif, terutama pada saham-saham dengan likuiditas yang cukup tinggi seperti NRCA.

Makna Divestasi bagi Saratoga

Rotasi Aset sebagai Strategi Utama

Bagi Saratoga, pelepasan sebagian saham NRCA dapat dipahami sebagai bagian dari strategi rotasi aset. Perusahaan investasi sering kali melakukan divestasi ketika mereka menilai bahwa nilai investasi telah optimal atau terdapat peluang yang lebih menarik di sektor lain.

Langkah ini juga bisa menjadi sinyal bahwa Saratoga ingin mengalokasikan modalnya ke proyek atau perusahaan yang dianggap memiliki potensi pertumbuhan lebih besar.

Dengan karakter investasi yang dinamis, SRTG cenderung tidak terpaku pada satu sektor, melainkan terus mencari peluang yang dapat memberikan imbal hasil maksimal bagi pemegang sahamnya.

Tetap Mempertahankan Posisi Strategis

Meski melakukan divestasi, Saratoga tetap mempertahankan kepemilikan di atas 5 persen, yang berarti masih memiliki pengaruh dalam NRCA. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan belum sepenuhnya keluar dari investasi di sektor konstruksi.

Kepemilikan ini memungkinkan Saratoga tetap terlibat dalam perkembangan NRCA, baik dari sisi strategi bisnis maupun potensi keuntungan jangka panjang.

Prospek ke Depan

Bagaimana Nasib NRCA?

Ke depan, kinerja NRCA akan sangat bergantung pada kemampuan perusahaan dalam memenangkan proyek baru dan mengelola biaya secara efisien. Jika sektor konstruksi terus membaik, NRCA berpotensi mencatat pertumbuhan yang lebih solid.

Lonjakan harga saham dalam beberapa hari terakhir juga menunjukkan bahwa pasar masih optimistis terhadap prospek perusahaan.

Langkah Saratoga Selanjutnya

Sementara itu, pasar juga akan mencermati langkah Saratoga berikutnya. Apakah divestasi ini hanya bersifat parsial atau akan diikuti oleh pelepasan saham lebih lanjut?

Investor kemungkinan akan menunggu sinyal tambahan dari manajemen SRTG terkait arah strategi investasi mereka di tahun 2026.

Aksi Saratoga memangkas 750.000 saham NRCA mencerminkan strategi investasi yang aktif dan fleksibel. Meskipun terjadi divestasi, kepemilikan SRTG masih berada di level signifikan, menunjukkan bahwa hubungan kedua perusahaan belum sepenuhnya terputus.

Di sisi lain, lonjakan harga saham NRCA justru menandakan bahwa pasar masih melihat nilai positif dalam perusahaan tersebut. Kombinasi antara strategi Saratoga dan kinerja NRCA di bursa akan menjadi perhatian utama investor dalam beberapa waktu ke depan.

Related Posts

Wall Street Libur 19/1, Laba Emiten Jadi Penentu Arah Pasar 2026

Wall Street libur 19 Januari 2026 karena MLK Day, sementara investor menanti laporan keuangan emiten AS yang akan menentukan arah pasar. KabarPialang – Wall Street resmi menutup perdagangan pada Senin (19/1)…

AUM Reksa Dana 2026 Tembus Rp679 T

AUM reksa dana Indonesia mencetak rekor Rp679,18 triliun pada akhir 2025. Manajer investasi pasang kuda-kuda optimistis menghadapi peluang pertumbuhan 2026. KabarPialang – Industri reksa dana Indonesia menutup 2025 dengan capaian…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You Missed

Emas Antam Rebound Kuat, Investor Kembali Masuk Setelah Penurunan Tajam

  • By seo
  • February 4, 2026
  • 2 views
Emas Antam Rebound Kuat, Investor Kembali Masuk Setelah Penurunan Tajam

SRTG Pangkas NRCA 750.000 Saham

  • By Team
  • January 20, 2026
  • 6 views
SRTG Pangkas NRCA 750.000 Saham

Wall Street Libur 19/1, Laba Emiten Jadi Penentu Arah Pasar 2026

  • By Team
  • January 20, 2026
  • 6 views
Wall Street Libur 19/1, Laba Emiten Jadi Penentu Arah Pasar 2026

BWPT Suntik Modal Anak Usaha Rp180 Miliar

  • By Team
  • January 19, 2026
  • 5 views
BWPT Suntik Modal Anak Usaha Rp180 Miliar

OJK Setujui Spin Off CIMB Niaga Syariah 2026

  • By Team
  • January 19, 2026
  • 5 views
OJK Setujui Spin Off CIMB Niaga Syariah 2026

Bisnis-27 Naik 0,44% ke 567,89

  • By Team
  • January 15, 2026
  • 6 views
Bisnis-27 Naik 0,44% ke 567,89