IHSG melesat 22% sepanjang 2025, namun indeks saham ESG seperti IDXESGL dan SRI-KEHATI justru tertinggal. Tekanan bank jumbo dan konsumsi jadi penyebab utama.
KabarPialang – Kinerja indeks saham berbasis environmental, social, and governance (ESG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan hasil yang kurang menggembirakan sepanjang 2025. Di saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melesat lebih dari 22%, sejumlah indeks ESG justru bergerak terbatas bahkan mencatatkan pelemahan. Kondisi ini menimbulkan kontras tajam di tengah euforia pasar saham nasional.
Berdasarkan data perdagangan hingga akhir Desember 2025, indeks ESG Leaders (IDXESGL) hanya mampu naik 2,87% secara year to date (ytd). Sementara itu, indeks SRI-KEHATI menguat tipis 2,16%, dan IDX LQ45 Low Carbon Leaders justru terkoreksi 1,78% ytd. Capaian tersebut tertinggal jauh dibandingkan IHSG yang menguat ke level tertinggi sepanjang sejarah.
IHSG Kinclong, ESG Tertahan
Sepanjang 2025, IHSG mencatat reli kuat didorong oleh optimisme ekonomi domestik, stabilitas politik, serta aliran dana investor yang kembali masuk ke pasar saham. Kinerja emiten berbasis komoditas dan saham-saham tertentu dengan momentum laba tinggi menjadi motor utama penguatan indeks komposit.
Namun, tren tersebut tidak sepenuhnya dinikmati oleh saham-saham yang tergabung dalam indeks ESG. IDXESGL yang berisi 30 emiten dengan penilaian ESG terbaik hanya bergerak terbatas. Padahal, indeks ini dihuni oleh perusahaan dengan tata kelola baik, risiko kontroversi rendah, serta likuiditas dan fundamental yang relatif solid.
Hal serupa terjadi pada indeks SRI-KEHATI yang mengukur kinerja 25 perusahaan terbaik dalam penerapan prinsip investasi berkelanjutan. Alih-alih mencetak kinerja impresif, indeks saham hijau ini justru tertinggal jauh dari laju IHSG.
Tekanan Saham Bank Jumbo
Salah satu faktor utama yang menekan kinerja indeks ESG adalah melemahnya saham-saham berkapitalisasi besar, khususnya sektor perbankan. Sejumlah bank jumbo yang menjadi konstituen utama indeks ESG mencatatkan penurunan harga saham signifikan sepanjang tahun berjalan.
Harga saham PT Bank Central Asia Tbk. turun lebih dari 17% ytd, disusul PT Bank Mandiri Tbk. yang melemah sekitar 11%, serta PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. yang terkoreksi lebih dari 7%. Pergerakan saham-saham ini memiliki bobot besar dalam indeks ESG, sehingga penurunannya langsung berdampak pada kinerja indeks secara keseluruhan.
Daya Beli Jadi Faktor Penekan
Tekanan terhadap sektor perbankan tidak lepas dari kondisi daya beli masyarakat yang masih lemah. Perlambatan konsumsi berdampak pada pertumbuhan kredit dan kualitas aset, sehingga memengaruhi kinerja keuangan bank-bank besar. Kondisi tersebut membuat investor cenderung bersikap hati-hati terhadap saham sektor keuangan, meski secara fundamental masih tergolong kuat.
Sektor Konsumer Ikut Melemah
Selain perbankan, saham-saham sektor konsumer yang juga masuk dalam indeks ESG turut menjadi pemberat. Sepanjang 2025, harga saham PT Indofood Sukses Makmur Tbk. melemah lebih dari 12%, sementara PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. turun lebih dari 27% ytd.
Pelemahan sektor konsumer mencerminkan perlambatan permintaan domestik. Kenaikan biaya hidup dan tekanan inflasi membuat konsumsi rumah tangga belum sepenuhnya pulih, sehingga kinerja emiten konsumer belum mampu memberikan katalis positif bagi indeks ESG.
Indeks Low Carbon Paling Tertekan
IDX LQ45 Low Carbon Leaders menjadi indeks ESG dengan kinerja terburuk sepanjang 2025. Indeks ini dirancang untuk menurunkan eksposur intensitas emisi karbon minimal 50% dibandingkan indeks LQ45 sebagai parent index. Namun, komposisi sahamnya yang relatif defensif membuat indeks ini kurang diminati saat pasar sedang agresif mengejar saham-saham berisiko tinggi dengan potensi imbal hasil besar.
Prospek ESG Masih Menjanjikan
Meski saat ini tertinggal, prospek investasi saham berbasis ESG ke depan dinilai masih kuat. Permintaan dari investor asing terhadap instrumen berkelanjutan terus meningkat, seiring dengan tren global yang menempatkan aspek keberlanjutan sebagai pertimbangan utama investasi.
Selain itu, investor milenial dan Gen Z mulai menunjukkan minat lebih besar terhadap saham-saham yang mencerminkan tanggung jawab lingkungan dan sosial. Emiten dengan skor ESG tinggi juga dinilai memiliki tata kelola yang lebih baik serta risiko jangka panjang yang lebih rendah.
Tantangan yang Perlu Diatasi
Di sisi lain, indeks ESG masih menghadapi sejumlah tantangan. Kesadaran investor ritel terhadap investasi berkelanjutan dinilai masih terbatas. Produk reksa dana dan instrumen berbasis ESG di pasar domestik juga belum banyak, sehingga pilihan investasi relatif sempit.
Selain itu, perbedaan metodologi penilaian ESG membuat standar rating belum seragam. Hal ini kerap menimbulkan kebingungan di kalangan investor dalam menilai sejauh mana suatu emiten benar-benar menerapkan prinsip keberlanjutan.
Menanti Angin Segar Kebijakan
Ke depan, pelonggaran kebijakan fiskal dan moneter diharapkan dapat menjadi katalis positif bagi saham-saham ESG, khususnya sektor perbankan dan konsumer. Pemulihan daya beli diyakini akan memberikan efek domino yang memperbaiki kinerja keuangan emiten, sekaligus meningkatkan daya tarik indeks ESG di mata investor jangka panjang.
Dengan fondasi tata kelola yang baik, indeks ESG dipandang tetap memiliki potensi untuk mengejar ketertinggalan, meski membutuhkan waktu dan dukungan sentimen yang lebih kondusif.






