Indeks dolar AS (DXY) turun 0,11 persen setelah rilis data tenaga kerja November. Pasar menilai data bersifat netral dan menanti arah kebijakan The Fed.
KabarPialang – Nilai tukar dolar Amerika Serikat kembali melemah terhadap sejumlah mata uang utama pada perdagangan Selasa, 16 Desember 2025. Pelemahan ini terjadi setelah rilis data ketenagakerjaan yang sebelumnya tertunda menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja yang lebih kuat dari perkiraan pasar. Meski demikian, detail data tersebut justru memicu sikap hati-hati pelaku pasar terhadap arah kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat.
Indeks Dolar (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap sekeranjang mata uang utama seperti euro dan yen Jepang, tercatat turun 0,11 persen ke level 98,15. Penurunan ini menempatkan dolar AS di jalur koreksi untuk sesi kedua berturut-turut, menandakan berlanjutnya tekanan jual di pasar valuta asing.
Data Ketenagakerjaan Lebih Baik dari Perkiraan
Data terbaru menunjukkan adanya penambahan lapangan kerja sebanyak 64.000 pada November. Laporan ini sebelumnya tertunda akibat penutupan sementara pemerintah federal Amerika Serikat. Angka tersebut dinilai sedikit lebih baik dibandingkan ekspektasi pasar, namun belum cukup kuat untuk mengubah pandangan pelaku pasar secara signifikan.
Penguatan data ketenagakerjaan ini sempat memberikan dukungan awal bagi dolar AS. Namun, sentimen tersebut tidak bertahan lama karena investor mencermati lebih dalam komposisi pertumbuhan lapangan kerja serta implikasinya terhadap kebijakan suku bunga The Federal Reserve.
Tingkat Pengangguran Jadi Sorotan
Di balik pertumbuhan lapangan kerja, tingkat pengangguran justru mengalami kenaikan menjadi 4,6 persen. Kondisi ini memunculkan sinyal campuran bagi pelaku pasar dan pembuat kebijakan. Kenaikan tingkat pengangguran tersebut dipandang dapat menjadi perhatian khusus bagi The Fed dalam menentukan arah kebijakan moneter ke depan.
Para analis menilai bahwa meskipun penciptaan lapangan kerja masih berlangsung, pasar tenaga kerja mulai menunjukkan tanda-tanda pelonggaran. Hal ini berpotensi memperkuat argumen bagi bank sentral untuk bersikap lebih berhati-hati sebelum melanjutkan siklus pemangkasan suku bunga.
Pandangan Pelaku Pasar terhadap Sikap The Fed
Pelaku pasar saat ini menilai bahwa The Fed kemungkinan akan mengambil pendekatan yang lebih berhati-hati dalam waktu dekat. Data tenaga kerja yang bersifat campuran membuat bank sentral berada pada posisi yang tidak mudah. Di satu sisi, penciptaan lapangan kerja masih berlanjut, namun di sisi lain, kenaikan tingkat pengangguran menjadi sinyal risiko perlambatan.
Ekspektasi pasar mencerminkan kondisi tersebut. Investor memproyeksikan probabilitas pemangkasan suku bunga pada awal tahun depan berada di kisaran 75 persen lebih. Angka ini menunjukkan bahwa pasar masih cukup optimistis terhadap peluang pelonggaran kebijakan, meskipun waktunya dapat bergeser tergantung pada rilis data ekonomi berikutnya.
Lapangan Kerja Didominasi Sektor Non-Siklikal
Detail data ketenagakerjaan menunjukkan bahwa sebagian besar lapangan kerja baru tercipta di sektor non-siklikal, seperti layanan kesehatan. Sektor ini umumnya lebih tahan terhadap fluktuasi ekonomi dibandingkan sektor siklikal seperti manufaktur dan konstruksi.
Dominasi sektor non-siklikal mengindikasikan bahwa aktivitas ekonomi yang sensitif terhadap siklus bisnis belum menunjukkan percepatan yang berarti. Hal ini memperkuat pandangan bahwa pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat masih berada dalam fase yang moderat dan belum sepenuhnya solid.
Dampak Terhadap Pergerakan Dolar AS
Kombinasi antara data tenaga kerja yang relatif positif namun tidak terlalu kuat membuat pasar menilai rilis tersebut sebagai hasil yang netral. Akibatnya, dolar AS gagal mendapatkan momentum penguatan dan justru melanjutkan koreksi.
Pelemahan dolar ini turut dipengaruhi oleh sikap wait and see investor menjelang rilis data ekonomi lanjutan. Pelaku pasar cenderung mengurangi eksposur terhadap dolar sembari menunggu sinyal yang lebih jelas mengenai arah kebijakan moneter.
Sentimen Global dan Dinamika Valuta
Selain faktor domestik, pergerakan dolar AS juga dipengaruhi oleh sentimen global. Perkembangan ekonomi di Eropa dan Asia, serta arah kebijakan bank sentral utama lainnya, turut membentuk dinamika pasar valuta asing. Ketika risiko global meningkat, dolar kerap diuntungkan sebagai aset lindung nilai. Namun dalam kondisi pasar yang relatif stabil, fokus investor kembali pada fundamental ekonomi.
Prospek Dolar Menjelang 2026
Ke depan, pergerakan dolar AS diperkirakan akan sangat bergantung pada data ekonomi lanjutan, terutama inflasi dan pasar tenaga kerja. Selain itu, komunikasi kebijakan dari The Federal Reserve akan menjadi faktor kunci yang menentukan arah pasar menjelang awal 2026.
Selama data ekonomi belum memberikan sinyal yang tegas, dolar AS berpotensi bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah. Investor akan terus mencermati setiap rilis data dan pernyataan pejabat bank sentral sebagai petunjuk arah kebijakan moneter selanjutnya.







weed delivery service trusted and reliable worldwide